Fahrizal Mukhdar
Fahrizal Mukhdar
Pendidikan

Bahasa Arab Bukan Matematika

Rabu, 16 September 2026 · 01:52 WIB

Anak saya tumbuh di dua bahasa, dan saya tidak pernah merancangnya. Di dalam rumah kami berbahasa Indonesia. Begitu ia keluar, bermain di halaman, menyapa tetangga, ia berpindah ke bahasa Banjar. Dua bahasa yang jauh berbeda, dua dunia yang berbeda, berjalan berdampingan dalam kepalanya tanpa pernah bertabrakan.

Yang membuat saya berhenti dan berpikir: bahasa Banjar itu tidak ada kursusnya. Tidak ada buku panduan, tidak ada daftar kosakata yang harus disetorkan setiap pekan, tidak ada ujian, tidak ada nilai. Tidak ada satu pun rumus tata bahasa yang pernah saya ajarkan kepadanya. Namun ia bisa. Ia bercakap, bergurau, dan mengungkapkan apa yang ada di kepalanya dengan luwes, tepat konteks, dan terdengar alami.

Kalau Begitu, Kenapa Bahasa Arab Terasa Begitu Sulit?

Pertanyaan itulah yang bertahun-tahun mengganggu saya, dan mungkin juga mengganggu banyak guru bahasa Arab di luar sana. Bukankah kemampuan berbahasa adalah kodrat manusia? Bukankah otak kita sudah dirancang untuk menyerap bahasa sejak lahir? Kalau seorang anak sanggup menguasai satu bahasa baru hanya dengan bergaul, mengapa bertahun-tahun belajar bahasa Arab di bangku sekolah sering kali tidak menghasilkan kemampuan yang serupa?

Saya sudah melihat sendiri murid-murid yang mendekati bahasa Arab dengan penuh kesungguhan. Mereka menghafal tashrif, mencatat pola jumlah dan fi'il, bahkan bisa menyebutkan fungsi i'rab sebuah kata dengan lancar. Tetapi ketika saya menyapa mereka dengan kalimat sederhana — sapaan yang biasa dipakai anak kecil — mereka terdiam. Bukan karena tidak tahu artinya, melainkan karena di kepala mereka sedang berjalan proses lain: memeriksa, menimbang, dan memastikan susunannya benar sebelum berani membuka mulut.

Memberi Pelajaran Bahasa seperti Mengajarkan Matematika

Di situlah letak kekeliruannya. Selama ini bahasa asing kerap diperlakukan layaknya disiplin ilmu eksakta. Murid langsung dihadapkan pada tumpukan kaidah, struktur formal, dan analisis gramatikal. Padahal tidak ada seorang pun yang belajar berbahasa dengan cara membedah bahasanya lebih dahulu. Anak saya menguasai bahasa Banjar bukan karena memahami pola kalimatnya, melainkan karena ia hidup di dalam bahasa itu setiap hari.

Mendahulukan rumus sebelum pemakaian sama halnya memaksa seseorang belajar berenang hanya dengan membaca panduan di tepi kolam, tanpa sekali pun menyentuh air. Yang tersisa hanyalah pengetahuan tentang cara berenang, bukan kemampuan berenang. Dan pengetahuan itu, sayangnya, tidak menolong siapa pun yang sedang tenggelam.

Yang Sebenarnya Terjadi di dalam Kepala Kita

Dari kegelisahan itu saya akhirnya menemukan penjelasannya. Stephen Krashen, pakar linguistik yang banyak mengkaji pemerolehan bahasa, membedakan dua hal yang sering kita anggap sama: language learning dan language acquisition. Pembelajaran bahasa bersifat sadar, formal, dan menitikberatkan pengetahuan eksplisit tentang tata bahasa. Adapun pemerolehan bahasa berlangsung di bawah sadar, melalui paparan yang bermakna dan terpahami. Bahasa pada hakikatnya diperoleh lebih dahulu lewat interaksi nyata, barulah kemudian strukturnya dirapikan.

Dari kajian itu setidaknya ada tiga hal yang menentukan apakah sebuah bahasa benar-benar masuk ke dalam diri seseorang, atau hanya singgah sebentar di buku catatan:

  • Input yang bermakna dan terpahami. Bahasa diserap ketika perhatian murid tertuju pada pesan dan konteks, bukan pada bentuk katanya. Ia bisa memahami maksud sebuah kalimat jauh sebelum mampu membedah susunannya.

  • Penurunan penyaring afektif. Kecemasan, takut salah, dan rasa bosan membangun dinding mental yang menghalangi bahasa masuk ke dalam otak. Kelas yang aman dan menyenangkan bukan kemewahan, melainkan syarat teknis agar bahasa bisa lewat.

  • Keterlibatan dalam aktivitas nyata. Bahasa tumbuh melalui pemakaian: percakapan, permainan, dan tugas yang menuntut murid menyampaikan sesuatu kepada orang lain — bukan melalui setoran hafalan dan latihan yang jawabannya sudah ada di belakang buku.

Sayangnya, di kelas bahasa Arab pada umumnya tiga hal itulah yang paling sering tersisih. Panggung utama dipegang tata bahasa. Waktu habis untuk mengurai struktur, sementara murid hampir tidak pernah diberi kesempatan memakai bahasa untuk benar-benar menyampaikan sesuatu. Yang diuji hampir selalu kebenaran susunannya; yang nyaris tidak pernah diukur adalah keberhasilan murid mengantarkan maksudnya. Akibatnya kesalahan menjadi hal yang ditakuti, bukan bagian wajar dari proses belajar — dan murid yang paling takut salah adalah murid yang paling jarang bicara.

Di titik ini saya berpendapat lain dari cara lama. Dalam berkomunikasi, benar atau salah bukan ukuran utamanya. Apakah maksudmu sampai kepada orang lain — itulah ukurannya. Seorang murid yang keliru meletakkan harakat tetapi berhasil membuat kawannya paham sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada murid yang memilih diam karena takut tidak sempurna. Bahasa hidup dari keberhasilan mengantarkan maksud, bukan dari kesempurnaan susunan. Karena itu urutannya perlu dibalik: keberhasilan komunikasi lebih dahulu, kerapian struktur menyusul. Kaidah tetap penting, tetapi ia semestinya menjadi penyempurna setelah bahasa murid hidup, bukan gerbang yang harus dilewati sebelum ia diizinkan membuka mulut.

Satu Hal yang Ingin Saya Kerjakan

Tak puas hanya sampai pada teorinya, saya mencoba mencari bentuk yang bisa dipakai di kelas. Dari sana saya merintis Bilarabiya.online, sebuah platform kecil yang saya bangun untuk membantu guru bahasa Arab mengubah materi ajar yang tekstual dan kaku menjadi aktivitas belajar yang lebih hidup — bukan mengganti peran guru, sekadar menyediakan alat supaya murid berlatih bahasa sebagai pengguna, bukan sebagai penyimpan teori. Terus terang, itu masih pekerjaan yang jauh dari selesai, dan saya belajar banyak justru dari murid-murid yang gagal saya ajari dengan cara lama.

Mengembalikan Bahasa kepada Hakikatnya

Menguasai bahasa Arab tidak seharusnya identik dengan kerumitan menghafal rumus pola kalimat. Bahasa adalah alat untuk menyampaikan maksud, mengutarakan pendapat, dan menyentuh hati orang lain; sedangkan tata bahasa hanyalah rangka yang menyangga bangunan, bukan bangunannya sendiri.

Anak saya tidak pernah menghafal satu kaidah pun untuk bisa bercakap dalam bahasa Banjar. Ia hanya tumbuh di tengah bahasa itu, mendengarnya setiap hari, dan diberi kesempatan untuk mencoba tanpa takut dihakimi. Kalau bahasa Arab diberikan dengan keleluasaan yang sama — lewat pengalaman yang bermakna, suasana yang tidak menakutkan, dan porsi praktik yang wajar — saya yakin ia tidak akan terasa lebih sulit daripada bahasa yang sudah ia kuasai sebelum masuk sekolah.

Fahrizal Mukhdar, guru Bahasa Arab

Fahrizal Mukhdar

Guru Bahasa Arab

Menulis tentang pendidikan, pembelajaran bahasa Arab, dan refleksi kehidupan sekolah — juga mengembangkan Bilarabiya.Online.

Tentang saya →

Bagikan: WhatsApp Telegram

Komentar

Belum ada komentar. Silakan jadi yang pertama.

Tinggalkan komentar

Cukup nama dan komentar — tidak perlu email atau tautan.

Tampil setelah saya setujui.