Karnaval Itu Bukan Cuma Pesta Kostum, Bro
Senin, 14 September 2026 · 09:45 WIB
Heboh! Jagad media sosial setiap hari libur ada aja gebrakannya! Plis deh! Saya yang guru ini, setelah sibuk mengajar sejak Senin-Jumat pengennya istirahat dapet seuatu yang menyegarkan pemikiran. Tapi setiap kali lihat media sosial, ada aja berita yang bikin beristighfar, geleng-geleng kepala, bahkan overthinking dan bilang... KIAMAT SUDAH DEKAT!!!
Ini soal karnaval yang lagi viral! Sudah barang pasti yang kita bahas adalah soal Karnaval yang diselenggarakan dalam rangka Maulid Nabi itu. Tapi saya tidak akan bahas siapa yang salah, organisasi yang mengadakan karnaval atau peserta yang mengisi acara dengan "ritual satanic". Saya akan bahas lebih luas soal karnavalnya secara umum.
Coba deh perhatikan, setiap ada karnaval — entah itu yang besar kayak Rio, atau yang lokal kayak pawai 17 Agustusan di kampung — kita selalu terima begitu aja sebagai "acara seru-seruan". Kostum warna-warni, musik kenceng, orang joget rame-rame. Tapi jarang banget kita berhenti sejenak dan nanya: sebenernya ini dari mana sih asalnya, dan kenapa bentuknya kayak gini?
Apakah ada tujuan lain di balik itu?
Pikiran nakal saya selalu aja bikin gelisah kalau gak dituangkan dalam tulisan.
Di sini mari kita bongkar!
Akarnya Emang Nggak Netral dari Awal
Karnaval itu bukan lahir dari ruang kosong tanpa nilai, gak mungkin hadir begitu saja tanpa ada asal usul pemikiran atau ideologi tertentu di baliknya.
Ternyata, karnaval jejaknya nyambung ke Saturnalia dan Dionysia — perayaan Romawi dan Yunani kuno yang isinya penghormatan ke dewa-dewi tertentu, dengan ciri khas: kebebasan tanpa batas dan pengagungan hawa nafsu.
Pas Kristen mulai nyebar di Eropa, praktik ini nggak dihapus — cuma dibungkus ulang jadi carne vale, "selamat tinggal daging", pesta pelepasan sebelum masuk masa puasa Prapaskah.
Dari sini udah jelas ya asal usulnya dari ideologi apa?
Sebagai muslim mumayiz dan menggunakan akalnya, pasti udah bisa ngerasa apakah ini layak diteruskan atau tidak. Apakah ini layak dijadikan ajang tahunan? Jawab deh sendiri.
Menariknya lagi nih, ada juga yang baca ulang asal kata ini secara simbolis sebagai "carne a Baal" — "daging bagi Baal", merujuk ke berhala yang disembah bangsa Kanaan dan Fenisia kuno. Duh makin kesana aja kan ya?
Jujur aja, secara linguistik ini nggak punya bukti kuat — nggak ada naskah atau catatan sejarah yang mendukung, kemiripannya cuma di bunyi doang. Tapi meski secara bahasa lemah, pembacaan simbolis ini tetep ada gunanya untuk kita renungkan:
Substansi karnaval itu sendiri — pesta yang meelonggarkan batasan, mengagungkan kesenangan dunia — emang satu jalur sama watak penyembahan berhala kuno itu, apapun nama resminya sekarang. Yang perlu kita waspadai bukan namanya, tapi ruhnya.
Ini Bukan Kebetulan, Memang Didesain Begitu
Ada teori dari Bakhtin yang ngebahas karnaval abad pertengahan sebagai ruang "pembalikan tatanan" — hierarki dilepas sementara, batas-batas sosial dibuka lebar, yang di atas dan di bawah seolah tukar tempat. Bakhtin sendiri ngeliat ini sebagai fungsi yang emang melekat dari awal, bukan penyimpangan kebetulan — karnaval itu institusi budaya yang punya peran sosial tertentu.
Yang menarik, Bakhtin justru memandang ini secara positif — buat dia, karnaval adalah ruang pembebasan dari opresi hierarki feodal dan gerejawi abad pertengahan. Tapi di sinilah titik kritisnya: pembalikan tatanan dan pelonggaran batas itu, kalau kita telisik lebih jauh, nggak berhenti di sekadar simbolik "raja jadi rakyat, rakyat jadi raja".
Di Indonesia atau di negara yang berpenduduk mayoritas muslim, maka norma-norma Islam diposisikan sebagai institusi yang nilai-nilainya harus dilepas atau paling tidak dilonggarkan. Sehingga ruang yang sama juga jadi ruang di mana batas-batas syariat—soal ikhtilat, aurat, minuman—ikut "dilonggarkan" atas nama euforia kolektif.
Fungsi pembebasan yang dipuji Bakhtin itu, dalam praktiknya, gampang banget bergeser menjadi pembebasan dari batas-batas agama.
Bukan Budayanya yang Disembah, Tapi Siapa di Baliknya
Ini poin pentingnya: seberapa penting mempertahankan budaya, seberapa urgen mengagungkannya sampai menjadikannya legitimasi dalam pelanggaran terhadap batasan-batasan aqidah dan syariat. Yang kita sembah itu bukan budaya — kita sembah Allah, Pencipta segala budaya dan peradaban manusia. Setiap budaya itu lahir dari nilai yang menciptakannya.
Jadi kalau ada bentuk budaya yang jelas-jelas bertentangan sama akidah, bukan berarti budaya itu harus diterima karena itu ada sejak kakek nenek moyang kita. Justru itu jadi maklumat buat kita — penanda bahwa ini bagian dari ujian: sejauh mana kita, sebagai hamba, mampu menjaga batas diri di tengah arus yang mengagungkan hawa nafsu.
Penyembah nafsu bakal patuh sama "budaya" yang memuaskan nafsu mereka. Penyembah Allah akan membatasi diri, menjaga diri, dan menjauhi segala celah yang berpotensi menjerumuskan pada kemaksiatan. Termasuk "budaya" yang tidak benar secara akal sehat dan akal beriman.
Budaya bisa lahir dari kebiasaan maksiat, dan budaya bisa lahir dari ketaatan. Budaya adalah produk dari pemikiran. Pemikiran yang baik berlandaskan ketakwaan akan melahirkan budaya yang baik, sedangkan pemikiran yang rusak akan melahirkan budaya yang rusak juga.
Jadi, Pertanyaannya Apa?
Bagi kita yang Muslim — baik yang kebetulan terlibat, nonton, atau sekadar lewat pas ada karnaval, baik itu warisan tradisi lokal maupun budaya adopsi dari luar — pertanyaan yang perlu diajukan bukan "seru nggak sih ini?" tapi:
Apakah aktivitas ini mendekatkan kita ke pahala, atau justru membuka pintu dosa?
Sejauh mana ada maslahat buat umat di situ, dan sejauh mana ini cuma melanggengkan sesuatu yang dari struktur dasarnya memang dirancang untuk mengaburkan batas-batas norma dan agama di masyarakat.
Apakah perlu ada acara Karnaval itu sendiri, sebelum meributkan muatan-muatan yang ada di dalam karnavalnya?
Saya menunjuk muka para pemimpin!
Ada satu hal yang nggak bisa kita lewatkan begitu saja: siapa yang memberi izin acara-acara kayak begini berjalan?
Setiap kebijakan yang ditandatangani seorang pemimpin itu bukan sekadar coretan di atas kertas. Itu beban yang dia tanggung sampai akhirat kelak. Menandatangani izin artinya menyetujui, artinya mendukung — dan kalau yang didukung itu bermuatan kemaksiatan, ya dia ikut menanggung konsekuensinya, bukan cuma panitia atau pesertanya doang.
Ini yang harus disadari para pemimpin kita: aktivitas bernuansa satanis — mau itu sungguhan atau cuma "teatrikal", pura-pura doang — tetep aja itu bentuk propaganda. Simbol tetap simbol, dan simbol itu punya daya rasuk sendiri ke alam bawah sadar masyarakat, apalagi generasi muda yang nonton. Bahkan karnaval itu sendiri, kalau kita jujur, bisa dikategorikan sebagai salah satu wujud propaganda semacam itu — pesta yang melonggarkan batas, pengagungan hawa nafsu, dibungkus hiburan biar orang-orang gak sadar substansinya.
Kita ini negara yang berketuhanan Yang Maha Esa. Itu bukan slogan kosong di sila pertama — itu harusnya jadi rambu yang benar-benar dipegang waktu memutuskan sebuah kebijakan.
Jadi ini ajakan saya untuk para penguasa: sadar akan batasan agama dan norma dalam setiap penetapan kebijakan. Jangan cuma mikirin ramai-ramainya, angka wisatawannya, atau viralnya di medsos. Pimpin masyarakat kita bukan cuma buat urusan dunianya — tapi juga urusan akhiratnya. Karena pemimpin yang sejati itu penyelamat, bukan cuma pengatur acara.
Kalau menurutmu, apa perlu ada karnaval???
Bagaimana cara kita mengelola masyarakat ini supaya gak lagi-lagi kecolongan kejadian yang merusak ummat ini terus terulang?
Komentar ya!
Fahrizal Mukhdar
Guru Bahasa Arab
Menulis tentang pendidikan, pembelajaran bahasa Arab, dan refleksi kehidupan sekolah — juga mengembangkan Bilarabiya.Online.
Komentar (1)
Untuk Yg pulau jawa serahkan ke anak-anak waras pulau jawa, Sumatra, Papua,, Kalimantan, Sulawesi, NTT dan sebaginya serahkan pada anak-anak waras sana. Untuk Wilayah masing-masing perlu kudu persiapan mental masing-masing untuk sebuah kebangkitan dan perubahan, karena kita akan berhadapan dengan sikap, pemikiran dan latar belakang yang sangat heterogen, jadi kalau nanggung untuk menghidupkan manusia, maka akan menjadi lemah pergerakan kaum warasnya,