Fahrizal Mukhdar
Fahrizal Mukhdar
Opini

Satanisme Bukan Kultus, Tapi Pola (Bagian #1): Setan, Sifat, dan Nalar Pembangkangan

Kamis, 17 September 2026 · 02:18 WIB

Setiap kali kata satanisme muncul di ruang publik, reaksi yang mencuat biasanya terbelah dua: dianggap teori konspirasi yang berlebihan, atau dianggap ketakutan kelompok agama yang gagap menghadapi zaman. Tulisan ini mencoba mengambil jalan ketiga. Kita tidak akan membahas satanisme sebagai kultus gaib dengan ritual literal di ruang bawah tanah, melainkan sebagai sebuah pola pikir — arketipe pembangkangan terhadap otoritas mutlak yang bentuknya terus bermutasi, namun kerangka logikanya tetap sama sejak awal penciptaan.

Ini tulisan bagian #1 dari dua bagian yang bersambung. Bagian #2 membahas bagaimana pola ini menumpang layar gawai anak-anak kita, dan mengapa benteng pertahanan kita justru menjadi pihak yang paling terlambat sadar.

Dua Wajah Satanisme: Kultus dan Pola

Sosiolog agama Jesper Aagaard Petersen dalam Contemporary Religious Satanism (2009) membedakan satanisme ke dalam dua bentuk. Pertama, satanisme reaktif atau esoterik: kelompok yang benar-benar memuja Setan sebagai entitas gaib. Kedua, satanisme rasional atau ateistik: yang memakai Setan sekadar sebagai metafora — simbol individualisme, rasionalitas, dan pemberontakan terhadap dogma agama.

Tulisan ini tidak sedang menuduh setiap orang yang bersinggungan dengan budaya modern sebagai penyembah setan literal. Yang dibedah di sini adalah pola pikirnya: struktur logika untuk menolak otoritas mutlak dan membangun otoritas tandingan atas nama diri sendiri. Dan membaca sebuah pola bukan berarti menuduh setiap orang yang berada di dalamnya sebagai pelaku sadar. Sebagian besar orang yang terseret tidak pernah membaca satu baris pun kitab okultis; mereka hanya menghirup udaranya setiap hari, tanpa pernah diberi tahu apa yang sedang mereka hirup. Justru di situlah kekuatan pola ini: ia bekerja tanpa perlu memperkenalkan diri.

Setan: Bukan Benda, Tapi Sifat

Sebelum melangkah ke akar teologisnya, ada satu penjelasan ulama yang perlu diletakkan lebih dahulu, karena ia mengubah cara kita membaca seluruh persoalan ini. Dalam khazanah bahasa Arab, kata syaitan sama sekali tidak menunjuk benda atau wujud tertentu. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:

كُلُّ عَاتٍ مُتَمَرِّدٍ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ فَهُوَ شَيْطَانٌ

Artinya: “Setiap yang membangkang lagi melampaui batas, dari golongan jin maupun manusia, itulah setan.”

Al-Jauhari dalam ash-Shihah bahkan memperluasnya: bukan hanya jin dan manusia, hewan pun bisa disebut setan, dan orang Arab menyebut ular sebagai setan.

كُلُّ عَاتٍ مُتَمَرِّدٍ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالدَّوَابِّ شَيْطَانٌ

Artinya: “Setiap yang membangkang lagi melampaui batas — dari jin, manusia, maupun hewan — adalah setan.”

Akar katanya pun berbicara sendiri: syathana (شَطَنَ) berarti jauh — jauh dari kebaikan, jauh dari jalan yang lurus. Karena itu setan, pada lapisan pertamanya, adalah sebutan bagi sebuah sifat: pembangkangan yang melampaui batas. Bukan nama satu makhluk, melainkan nama satu kecenderungan.

Al-Qur’an memang memakai kata itu untuk manusia. Allah berfirman:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِىٍّ عَدُوًّا شَيَـٰطِينَ ٱلْإِنسِ وَٱلْجِنِّ يُوحِى بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ ٱلْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

Artinya: “yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)” (QS Al-An‘am: 112)

Surat terakhir dalam Al-Qur’an pun ditutup dengan pengakuan yang sama — sumber bisikan itu:

مِنَ ٱلْجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ

Artinya: “dari (golongan) jin dan manusia".” (QS An-Nas: 6)

Inilah pintu masuk yang paling jernih untuk tulisan ini. Jika setan bisa berarti sifat, maka satanis tidak selalu berarti orang yang menyembah patung bertanduk di ruang bawah tanah. Ia juga berarti setiap gagasan, sistem, dan ideologi yang menyimpang dari kehendak Tuhan serta mengajak manusia menjauh dari fitrah penciptaannya — meskipun dibungkus dengan kalimat yang indah, alasan yang terdengar mulia, dan nama yang tidak pernah menyebut dirinya setan.

Arketipe Pembangkangan Pertama

Dalam teologi Islam, kisah Iblis yang menolak sujud kepada Adam adalah purwarupa dari seluruh fenomena ini. Yang menarik, penolakannya bukan karena ia tidak tahu perintah, melainkan karena kesombongan. Allah berfirman:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَـٰٓئِكَةِ ٱسْجُدُوا۟ لِـَٔادَمَ فَسَجَدُوٓا۟ إِلَّآ إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَٱسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلْكَـٰفِرِينَ

Artinya: “Maka sujud-lah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur, dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir” (QS Al-Baqarah: 34)

Ketika ditanya alasan penolakannya, ia menjawab dengan bangga:

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِى مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُۥ مِن طِينٍ

Artinya: “Menjawab iblis, "Saya lebih baik daripadanya; Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah".” (QS Al-A‘raf: 12)

Kesombongan itu kemudian tumbuh menjadi program kerja:

قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغْوَيْتَنِى لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

Artinya: “Iblis berkata, "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,” (QS Al-Hijr: 39)

قَالَ فَبِمَآ أَغْوَيْتَنِى لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَٰطَكَ ٱلْمُسْتَقِيمَ ثُمَّ لَـَٔاتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَـٰنِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَـٰكِرِينَ

Artinya: “Iblis menjawab, "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,” “kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS Al-A‘raf: 16-17)

Ia bahkan mengumumkan akan menyuruh manusia mengubah ciptaan Allah, lalu mereka benar-benar mengubahnya:

وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَـَٔامُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ ءَاذَانَ ٱلْأَنْعَـٰمِ وَلَـَٔامُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ ٱللَّهِ وَمَن يَتَّخِذِ ٱلشَّيْطَـٰنَ وَلِيًّا مِّن دُونِ ٱللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُّبِينًا

Artinya: “dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya” (QS An-Nisa: 119)

Perhatikan bahwa ia tidak pernah menawarkan penolakan telanjang; ia menawarkan pilihan, keindahan, dan janji kebebasan. Pola ini berulang dari zaman ke zaman karena ia tidak memaksa — ia memikat.

Struktur logikanya dapat dirumuskan begini: kesombongan, lalu penolakan terhadap otoritas, lalu penciptaan realitas tandingan, dan berakhir pada usaha menjauhkan manusia dari fitrah penciptaannya. Lintas tradisi, pola ini konsisten. Mulai dari semboyan non serviam — aku tidak akan mengabdi — yang disematkan pada Lucifer dalam tradisi Kekristenan, hingga mitos Prometheus di Yunani. Pembangkangan terhadap otoritas tertinggi selalu dibingkai secara manipulatif sebagai kepahlawanan pembebasan.

Ketika Hawa Nafsu Dicarikan Dalil

Di ranah filsafat modern, pembangkangan ini mendapat legitimasi intelektual. Mulai dari proklamasi Nietzsche bahwa Tuhan sudah mati, hingga kredo okultis Aleister Crowley: do what thou wilt shall be the whole of the Law — lakukan apa pun yang kau inginkan, itulah keseluruhan hukum. Puncaknya, gagasan ini membakukan bahwa kehendak manusia adalah tuhan yang sejati. Inilah antinomianisme: paham yang membuang hukum moral transenden dan menggantinya dengan otonomi diri. Logikanya sederhana dan tidak pernah berubah: aku tidak menyukai aturan Tuhan, aturan itu mengekang nafsuku, karena itu aku buat standar moralku sendiri.

Al-Qur’an sudah menyingkap tabiat kekuatan ini jauh sebelum Nietzsche lahir:

وَمَآ أُبَرِّئُ نَفْسِىٓ إِنَّ ٱلنَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Artinya: “karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Yusuf: 53)

Abad kita menambahkan babak baru yang layak dicatat. The Satanic Temple, yang didirikan pada 2013, memakai nama dan citra Setan bukan untuk disembah, melainkan sebagai alat advokasi politik dan hukum. Inilah puncak pergeseran yang sedang kita bicarakan: Setan berubah dari entitas yang ditakuti menjadi merek kampanye. Yang tersisa bukan lagi pemujaannya, melainkan logikanya — menolak otoritas, membalik tanda, dan meminjam bahasa hak untuk melegitimasi pembangkangan.

Pertanyaannya tinggal satu: bagaimana logika ini sampai ke rumah kita, ke genggaman anak-anak kita, dan ke ruang kelas yang seharusnya menjaganya? Itulah yang kita bedah di bagian #2 — Dari Layar Gawai ke Titik Buta Kita.

Fahrizal Mukhdar, guru Bahasa Arab

Fahrizal Mukhdar

Guru Bahasa Arab

Menulis tentang pendidikan, pembelajaran bahasa Arab, dan refleksi kehidupan sekolah — juga mengembangkan Bilarabiya.Online.

Tentang saya →

Bagikan: WhatsApp Telegram

Komentar

Belum ada komentar. Silakan jadi yang pertama.

Tinggalkan komentar

Cukup nama dan komentar — tidak perlu email atau tautan.

Tampil setelah saya setujui.