Anak-Anak Itu Sudah Bisa Bahasa Asing Tanpa Kursus
Game, bahasa daerah, dan anime mengajari anak-anak bahasa baru tanpa kursus dan tanpa nilai. Yang mereka punya bukan bakat — melainkan lingkungan yang membuat bahasa itu terasa perlu. Kelas bahasa Arab bisa menirunya.
Isi tulisan (7 bagian)
Saya pernah duduk di dekat sekelompok anak yang sedang asyik main Mobile Legends. Mereka berteriak dalam bahasa Indonesia, tapi kalimat yang keluar justru bahasa Inggris: "you have slain an enemy!", "double kill", "godlike", "maniac". Tidak ada yang salah ucap, tidak ada yang bertanya artinya. Mereka tahu persis kapan kalimat itu muncul dan apa yang sedang terjadi.
Padahal tidak satu pun dari mereka pernah ikut kursus bahasa Inggris.
Fenomena yang sama saya lihat di tempat lain. Anak-anak bermain di jalan, ngobrol pakai bahasa Banjar dengan lancar — padahal tidak ada yang mendaftarkan mereka ke kursus bahasa Banjar. Lalu ada anak-anak yang menonton anime, dan tiba-tiba bisa mengucapkan arigatou gozaimashita, onegaishimasu, honto, dengan intonasi yang cukup meyakinkan.
Tiga anak, tiga bahasa, satu pola. Dan pola itu membuat saya agak tidak nyaman ketika mengingat kelas bahasa Arab saya sendiri.
Yang Terjadi Sebenarnya: Pemerolehan, Bukan Pembelajaran
Dalam kajian pemerolehan bahasa kedua, ada pembedaan lama yang sampai sekarang masih relevan: pemerolehan (acquisition) dan pembelajaran (learning). Yang pertama terjadi tanpa sadar, lewat paparan yang bermakna. Yang kedua berlangsung sadar, lewat aturan dan hafalan.
Tiga anak tadi sedang memperoleh, bukan mempelajari. Dan ada empat hal yang membuat proses itu jalan.
Satu, mereka butuh. Anak yang tidak paham "you have slain an enemy" tidak akan tahu apa yang baru terjadi di layar. Kalimat itu bukan materi; ia alat.
Dua, mereka ingin jadi bagian. Peneliti James Paul Gee, dalam What Video Games Have to Teach Us About Learning and Literacy (2003), menyebutnya affinity space: ruang tempat orang belajar karena ingin menjadi anggota komunitas tertentu — gamer, penggemar anime, anak kampung. Identitas itu mesinnya, bukan nilai rapor.
Tiga, penyaringnya rendah. Tidak ada guru yang menegur ketika mereka salah ucap. Tidak ada ujian yang membuat jantung berdebar. Anak yang tidak takut salah akan berani menebak — dan menebak adalah cara pertama sebuah bahasa masuk.
Empat, pengulangannya terjadi dalam peristiwa yang berbeda. Kata yang sama muncul lagi dan lagi, tapi tidak di lembar latihan yang sama. Ia muncul saat menang, saat kalah, saat kesal, saat bercanda. Konteks yang berubah itulah yang membuatnya menempel.
Kenapa Kelas Kita Tidak Menirunya
Bandingkan dengan kelas bahasa Arab kita.
Kita memberi urutan; mereka memberi kebutuhan. Kita berkata: "sekarang kita belajar fi’il madhi dulu, nanti fi’il mudhari’, setelah itu amr." Murid mendengarnya sebagai jadwal, bukan sebagai alasan. Lalu ada satu pertanyaan yang selalu datang dan selalu membuat kita gugup: "Pak, ini buat apa?"
Kita memberi ujian di akhir; mereka memberi ujian setiap tiga detik — dan hukumannya tidak mempermalukan.
Kita memberi koreksi; mereka memberi akibat. Anak yang salah mengucapkan enemy tidak ditegur; ia melihat layarnya, lalu membetulkan sendiri.
Saya tidak sedang mengatakan guru bahasa Arab malas atau metodenya buruk. Saya mengatakan: kita bekerja dengan alat yang dirancang untuk mengukur, sementara mereka belajar dengan alat yang dirancang untuk dipakai.
Jebakan: Kalau Targetnya Cuma "Perbanyak Paparan"
Di titik ini biasanya muncul kesimpulan cepat: kalau begitu, perbanyak saja paparannya. Beri murid lebih banyak teks, lebih banyak kosakata, lebih banyak latihan mendengar.
Hati-hati. Itu bisa berakhir menjadi kesalahan yang sama dengan jumlah lebih banyak: guru jadi pemasok teks, murid jadi pembaca yang bosan.
Anak-anak tadi bukan hanya terpapar banyak. Mereka terpapar hal yang mereka inginkan, mereka pahami sebagian, dan langsung terpakai. Tiga syarat itu tidak otomatis ada hanya karena kita menambah halaman.
Tiga Ukuran yang Lebih Jujur
Kalau target kita bukan lagi "menguasai materi", lalu apa? Saya mengusulkan tiga ukuran yang bisa dihitung sendiri oleh guru, tanpa menunggu ujian.
Pertama, volume. Berapa banyak bahasa Arab yang benar-benar mengenai siswa setiap pekan? Bukan yang kita ajarkan — yang ia dengar dan baca. Coba hitung dalam satu pertemuan: berapa kalimat Arab yang keluar dari mulut guru, berapa yang keluar dari mulut murid, berapa baris yang mereka baca. Angkanya biasanya lebih kecil dari yang kita bayangkan.
Kedua, keterpahaman. Dari yang mengenai mereka itu, berapa persen bisa ditebak maknanya tanpa terjemahan? Kalau di bawah separuh, paparan itu bukan input — ia kebisingan. Murid akan diam, mengangguk, lalu lupa.
Ketiga, keperluan. Dari yang mereka pahami, berapa banyak yang mereka butuhkan untuk melakukan sesuatu yang mereka pedulikan? Di sinilah kelas bahasa paling sering kosong: kita mengajarkan bahasa yang benar, tapi tidak pernah dipakai untuk apa pun selain menjawab soal.
Kalau salah satu dari tiga ini nol, dua yang lain tidak menolong. Paparan banyak tapi tidak dipahami menjadi kebisingan. Paparan dipahami tapi tidak diperlukan menjadi hafalan yang menguap bulan depan.
Komposisi: Teks, Obrolan, Peristiwa
Pertanyaan yang sering muncul — teks, obrolan, atau peristiwa? — sebaiknya tidak dijawab dengan memilih salah satu. Ketiganya memberi hal yang berbeda, dan kelas yang sehat memakai ketiganya dalam komposisi yang pas.
Teks memberi volume dan struktur. Asal berjenjang — teks yang hanya sedikit di atas level murid, bukan teks yang membuatnya menyerah di paragraf pertama.
Obrolan memberi kecepatan, intonasi, dan keberanian menebak. Ini yang paling sering hilang di kelas bahasa: guru lebih banyak menjelaskan bahasa daripada memakainya.
Peristiwa memberi keperluan. Tugas yang tidak bisa selesai kalau tidak paham bahasanya. Bukan latihan "lengkapi kalimat", tapi sesuatu yang harus benar-benar dikerjakan.
Satu contoh kecil. Untuk tema berbelanja, saya tidak mulai dari daftar kosakata. Saya bikin situasi: meja guru jadi warung, ada barang, ada harga, dan setiap murid punya daftar belanja yang harus dipenuhi. Mereka harus bertanya harga, jumlah, dan mengucapkan terima kasih — dalam bahasa Arab. Guru berbicara penuh bahasa Arab, dengan isyarat dan benda asli. Murid boleh salah. Yang tidak boleh hanya satu: diam.
Perhatikan apa yang terjadi di situ. Kosakata yang sama (أغراض, سعر, كم) muncul berkali-kali, di mulut yang berbeda, untuk keperluan yang berbeda. Itu bukan latihan. Itu peristiwa.
Yang Paling Sering Terlupa: Komunitas
Ada satu hal lagi yang membuat game dan anime menang, dan yang hampir tidak pernah kita siapkan: rasa menjadi anggota.
Kelas bahasa yang tidak punya nama, tidak punya tradisi, tidak punya sesuatu yang dibanggakan, akan selalu kalah menarik dari game. Game punya pangkat, tim, dan cerita bersama. Kelas kita punya jadwal pelajaran dan daftar nilai.
Padahal membuat komunitas tidak mahal. Satu nama untuk kelompok, satu kebiasaan kecil setiap pertemuan, satu hal yang mereka kerjakan bersama dan bisa mereka banggakan — itu sudah cukup untuk membuat seorang murid merasa "saya bagian dari ini".
Penutup: Guru sebagai Perancang Lingkungan
Kalau saya rangkum, pergeseran yang saya usulkan bukan dari "kognitif" ke "jumlah paparan" — karena jumlah saja bisa jadi tumpukan teks yang membosankan. Pergeserannya adalah dari penyampai materi menjadi perancang lingkungan: tempat bahasa Arab muncul cukup sering, cukup bisa dipahami, dan cukup terasa perlu.
Itu pekerjaan yang lebih berat daripada menyiapkan slide. Tapi anak-anak kita sudah membuktikan bahwa pekerjaan itu mungkin — mereka melakukannya sendiri, tanpa kita, tanpa kurikulum, tanpa nilai.
Bahasa, ternyata, paling mudah diperoleh di tempat yang tidak dinilai.
Fahrizal Mukhdar
Guru Bahasa Arab
Menulis tentang pendidikan, pembelajaran bahasa Arab, dan refleksi kehidupan sekolah — juga mengembangkan Bilarabiya.Online.
Suka tulisan ini? Masih ada banyak tulisan lain — dan pembaca boleh ikut berdiskusi di kolom komentar.
Semua tulisan Tentang penulisTulisan terkait
Kategori yang sama dengan tulisan ini — Bahasa Arab
Terbaru
Dua tulisan terakhir di situs ini
Komentar
Belum ada komentar. Silakan jadi yang pertama.
Jangan lewatkan tulisan baru
Sekali tekan, tulisan baru langsung sampai ke HP-mu — tanpa email, tanpa daftar.