Biarkan Mereka Berusaha Memahami
Dosen tamu dari Mesir menolak guru jadi penerjemah, mengajar full bahasa Arab dengan isyarat, dan menilai usaha murid — bukan hanya hasilnya. Ternyata itulah pemerolehan bahasa kedua yang sebenarnya.
Isi tulisan (6 bagian)
Sejak awal Oktober, di sekolah tempat saya mengajar, kami kedatangan dosen tamu dari Mesir: Prof. Dr. Syekh Ahmad Hasan. Beliau menjadi guru penutur asli bahasa Arab yang mengajar di kelas bahasa Arab, Tahfiz, dan Diiniyah.
Saya kira kedatangan beliau akan membawa metode baru yang rumit — kurikulum segar, media belajar kekinian, atau teknik menghafal yang belum pernah kami dengar. Ternyata yang beliau bawa jauh lebih sederhana dari semua itu. Dan jauh lebih mengguncang kebiasaan kami.
Hal Pertama yang Beliau Tolak: Guru Jadi Penerjemah
Anda tahu apa yang pertama beliau tolak? Bukan buku paket kami, bukan jadwal kami, bukan lagu anak-anak. Yang pertama beliau tolak adalah kebiasaan yang paling saya andalkan selama ini: guru lokal menjadi penerjemah untuk murid.
Selama ini rasanya wajar saja. Saya menjelaskan materi dengan bahasa Arab, lalu — karena khawatir ada yang tidak paham — saya terjemahkan ke bahasa Indonesia. Kadang terjemahannya bahaya lebih banyak daripada bahasa Arabnya. Murid pun belajar satu hal yang tidak pernah saya sadari: tidak perlu bersusah payah memahami bahasa Arab, karena gurunya pasti akan menerjemahkan.
Beliau tidak menginginkan itu. Beliau mengajar dengan bahasa Arab penuh, tanpa diterjemahkan ke bahasa Indonesia sama sekali.
"Biarkan Mereka Berusaha Memahami"
Kata beliau kira-kira begini: biarkan mereka berusaha memahami apa yang kita ucapkan. Tugas kita adalah membuat mereka berusaha memahami — dan kita memberikan penyampaian dengan isyarat yang mudah dipahami.
Perhatikan dua bagian kalimat itu, karena keduanya bekerja bersamaan. Murid berusaha — jurusnya lelah, otaknya bekerja. Guru menyampaikan isyarat yang mudah — buangankan terjemahan, tapi bukan berarti membiarkan mereka tenggelam.
Dan benar saja. Saya menyaksikan sendiri cara beliau menjelaskan materi, dan caranya sangat-sangat simpel. Beliau mengatakan satu ungkapan, lalu mengisyaratkannya — dengan tangan, dengan gerak badan, dengan benda di sekitar kelas — lalu mengajak murid untuk langsung mengucapkannya. Diucapkan sekali, dua kali, sampai murid tampak percaya diri menggunakannya. Baru pindah ke ungkapan berikutnya.
Tidak ada daftar kosakata. Tidak ada ‘artinya apa, Pak?’ Yang ada: bahasa, isyarat, lalu pemakaian. Begitu terus, satu demi satu, sepanjang pertemuan.
Salah Tidak Begitu Diperhatikan
Ada satu hal lagi yang membuat saya terdiam. Beliau full apresiasi kepada upaya anak-anak dalam mencoba. Salah atau benar tidak begitu diperhatikan. Murid yang salah pelafalan tidak dihentikan, tidak disorot, tidak dijadikan contoh keburukan. Ucapannya direspon dengan ungkapan pelurusan yang sangat ramah — beliau mengulang bentuk yang benar dengan senyum, dan anak itu memperbaikinya sendiri tanpa merasa dihukum.
Saya pernah menulis soal ini di rangkaian tulisan tentang pemerolehan bahasa: kecemasan itu penyaring yang menutup pintu masuk bahasa. Sekecil apa pun rasa takut dipermalukan, pintu itu menutup. Dan yang saya lihat di kelas beliau adalah pintu itu terbuka lebar — anak-anak tahu, di kelas ini mencoba itu yang dihargai, bukan ketepatan.
Kelas jadi riuh, tapi riuh yang sehat: semua bicara, semua mencoba, semua ketawa, lalu mencoba lagi. Tidak ada yang diam karena takut.
Ternyata Ini Dia Prosesnya
Minggu-minggu pertama saya cuma bisa mengamati. Lalu perlahan saya menyadari: inilah proses perolehan bahasa kedua yang sebenarnya. Bukan teori di buku, tapi berjalan hidup di depan mata saya, sehari-hari.
Mari saya urai. Prosesnya persis tiga hal yang selama ini saya bahas berturut-turut di tulisan tentang kunci-kunci pemerolehan bahasa.
Pertama: murid merasa harus mengupayakan dirinya untuk paham. Karena tidak ada terjemahan yang datang menyelamatkan, satu-satunya jalan adalah memahami. Dan justru di situ bahasa bekerja — bahasa yang kita pahami dengan usaha sendiri itulah yang menempel. Ini input terpahami dalam bentuknya yang paling murni: bahasa plus isyarat, sampai maknanya menyala sendiri di kepala murid. Guru memberi kunci — isyarat yang mudah ditafsirkan — tapi tidak langsung menerjemahkannya.
Kedua: penyaring afektif dimatikan. Apresiasi penuh atas usaha, salah direspons dengan peluruhan yang ramah, tidak ada yang dipermalukan. Kecemasan turun, harga diri terjaga, dan pintu masuk bahasa terbuka. Saya pernah menulis panjang soal ini di Kunci Kedua — dan di kelas beliau, saya melihat langsung versi praktiknya.
Ketiga: langsung dipakai. Ungkapan yang baru dipahami tidak disimpan dulu di buku catatan, tapi langsung diucapkan — berulang, sampai percaya diri. Bahasa yang dipakai itulah yang menjadi milik kita. Itulah inti Kunci Ketiga: mengerti saja tidak cukup, bahasa harus dipakai.
Tiga kunci yang saya tulis sebagai teori — beliau menjalankan ketiganya dalam satu pertemuan, tanpa perlu menyebut nama teori apa pun.
Yang Paling Mengguncang: Soal Penilaian
Lalu ada satu hal yang sampai sekarang saya pikirkan terus. Penilaian yang beliau tekankan bukan pada kognitif siswa saja. Bukan sekadar: hafal berapa kosakata, benar berapa tata bahasa, nilai berapa di ulangan.
Yang dinilai: seberapa tampak usaha anak untuk memahami materi, dan menerapkannya.
Coba rasakan bedanya. Penilaian kognitif menanyakan hasilnya. Penilaian seperti ini menanyakan jalannya — apakah anak itu sungguh-sungguh berusaha memahami, dan berani memakai apa yang sudah dipahaminya.
Dampaknya ke anak-anak luar biasa. Anak yang ‘pelan-pelan’ tapi berusaha keras tidak lagi merasa kalah oleh anak yang cepat hapalan. Yang dihargai bukan kecepatan, tapi kesungguhan. Dan anak yang tadinya diam — yang selama ini saya kira pemalu — mulai bicara. Ternyata bukan pemalu. Selama ini cuma tidak ada yang menghargai usahanya.
Yang Saya Bawa Pulang
Saya tidak akan berpura-pura bahwa perubahan itu mudah. Keinginan untuk segera menerjemahkan itu besar sekali — apalagi ketika melihat wajah murid yang bingung. Tangan kita sendiri yang ingin cepat-cepat menolong. Padahal yang kita lakukan justru mencuri kesempatan mereka untuk memahami.
Jadi minggu-minggu ini saya sedang mencoba mengubah satu kebiasaan kecil di kelas saya sendiri: menunda terjemahan. Mengucapkan dulu, mengisyaratkan dulu, memberi waktu — baru kalau sungguh mentok, saya beri kunci. Dan hasil awalnya lucu: banyak anak yang tadinya langsung bertanya "artinya apa, Pak?", sekarang berhenti, berpikir, menebak dari isyarat saya — lalu matanya menyala waktu tebakannya benar.
Mata yang menyala itulah yang tidak akan pernah lahir dari terjemahan.
Kalau Anda guru bahasa — bahasa apa pun — saya ingin mengajak Anda mencoba yang sama. Satu pertemuan saja minggu ini: tanpa terjemahan, penuh isyarat, penuh apresiasi atas usaha. Biarkan murid lelah memahami. Lelah yang itu bukan tanda kegagalan — itu tanda bahasa sedang masuk.
Fahrizal Mukhdar
Guru Bahasa Arab
Menulis tentang pendidikan, pembelajaran bahasa Arab, dan refleksi kehidupan sekolah — juga mengembangkan Bilarabiya.Online.
Suka tulisan ini? Masih ada banyak tulisan lain — dan pembaca boleh ikut berdiskusi di kolom komentar.
Semua tulisan Tentang penulisTulisan terkait
Kategori yang sama dengan tulisan ini — Bahasa Arab
Terbaru
Dua tulisan terakhir di situs ini
Komentar
Belum ada komentar. Silakan jadi yang pertama.
Jangan lewatkan tulisan baru
Sekali tekan, tulisan baru langsung sampai ke HP-mu — tanpa email, tanpa daftar.