Fahrizal Mukhdar
Fahrizal Mukhdar
Opini

Ketika Penjajah Tahu Bahasa Arab Lebih Berbahaya daripada Senjata (Bagian #2)

Kamis, 17 September 2026 · 23:50 WIB

Ini tulisan bagian #2 dari dua bagian yang bersambung. Bagian #1 — tentang khilafah yang dibubarkan pada 1924, aksara Turki yang diganti pada 1928, adzan yang dilarang berbahasa Arab sampai 1950, Spanyol 1567, Aljazair 1873, dan Asia Tengah Soviet — dapat dibaca di Bagian #1.

Di bagian sebelumnya terlihat satu hal yang sama di tempat-tempat yang sangat berbeda: yang diserang lebih dahulu bukan orangnya, melainkan kuncinya — bahasa, aksara, dan sumber dananya. Sekarang kita masuk ke tempat yang paling menentukan bagi kita: Hindia Belanda. Lalu ke Libya, tempat pola itu berjalan dengan wajah paling brutal.

Hindia Belanda: Menjinakkan Ulama, Mengganti Aksara Kita

Di tempat yang sekarang kita sebut Indonesia, kekuatan kolonial memilih jalan yang lebih halus: bukan menghancurkan, tetapi mengelola. Untuk itu Belanda mempekerjakan Christiaan Snouck Hurgronje — sarjana yang tiba di Hindia Belanda pada 1889 sebagai peneliti, diangkat sebagai penasihat urusan bahasa Timur dan hukum Islam pada 1891, dan baru pada 1899 menjadi penasihat urusan pribumi, jabatan yang dipegangnya sampai 1906.

Ia bekerja seperti seorang intelijen. Selama kurang lebih tujuh bulan, mulai 8 Juli 1891, ia melakukan riset lapangan di Aceh untuk memetakan kekuatan ulama di balik perlawanan yang sulit dipadamkan itu, lalu menyerahkan laporannya — yang dikenal sebagai Atjeh Verslag — pada 23 Mei 1892. Dari sana lahir doktrin yang ia sebut Islam Politiek: persoalan Islam dibagi menjadi tiga bidang dengan perlakuan berbeda. Bidang agama murni dan ibadah dibiarkan, bidang sosial kemasyarakatan diatur dan diawasi, dan bidang politik serta Pan-Islamisme ditumpas — bila perlu dengan kekerasan senjata.

Yang paling rapi adalah serangan terhadap jalur transmisi ilmunya. Melalui Goeroe-ordonnantie 1905 — termuat dalam Staatsblad 1905 Nomor 550 dan berlaku efektif 2 November 1905 — setiap pengajar agama Islam di Jawa dan Madura wajib meminta izin tertulis lebih dahulu kepada bupati atau patih, melaporkan daftar muridnya, dan bersedia diawasi, dengan ancaman denda sampai 25 gulden atau kurungan. Aturan ini merupakan tindak lanjut saran Snouck sendiri, dan baru dilunakkan pada 1925. Perhatikan bentuknya: bukan larangan mengajar, melainkan izin mengajar — dan justru karena itu ia lebih efektif, sebab setiap guru agama harus lebih dulu mengakui kewenangan yang memberi izin.

Jalur kedua adalah menjinakkan calon pemimpinnya. Melalui yang kemudian dikenal sebagai Politik Asosiasi, anak-anak priyayi dan elite Muslim dijauhkan dari pesantren dan dialihkan ke sekolah berbahasa Belanda. Sekitar 1890, lewat patronase Snouck, anak Bupati Serang — Achmad Djajadiningrat — dimasukkan ke sekolah Belanda di Batavia pada usia tiga belas tahun sebagai murid pertama eksperimen asosiasi itu, dan menurut catatan sejarawan ia terdaftar di sana bukan dengan namanya sendiri, melainkan sebagai Willem van Banten. Pola ini yang paling halus sekaligus paling bertahan lama, karena tidak datang sebagai penindasan, melainkan sebagai kemajuan. Perlu juga disebut apa adanya: pemisahan administratif penduduk pribumi dari keturunan Arab — yang dikategorikan sebagai Vreemde Oosterlingen, orang timur asing — bukan ciptaan Snouck; kategori itu sudah dilembagakan sejak pertengahan abad ke-19, dan yang ia lakukan adalah mempertahankan serta memperketatnya, agar dua kelompok itu tidak menyatukan kekuatan.

Dan di sinilah bagian yang paling dekat dengan kita: aksaranya diganti. Bahasa Melayu selama berabad-abad ditulis dengan aksara Arab yang kita kenal sebagai Jawi — aksara resmi komunikasi, administrasi, dan sastra di negeri-negeri Melayu, dengan jejak yang bisa dilacak sampai Batu Bersurat Terengganu bertanggal 1303 Masehi. Pada 1901, Van Ophuijsen bersama Engku Nawawi dan Moehammad Taib menyusun dan meresmikan ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin; dan salah satu tujuan yang tercatat dari pembakuan itu adalah mempermudah kebutuhan administrasi pemerintah kolonial. Sejak aksara Latin masuk ke sekolah dan urusan pemerintahan, aksara Jawi tersingkir dari tempatnya — lambat, sistematis, dan tanpa perlu ada satu pun larangan tertulis yang dramatis.

Sekian dekade kemudian, pelajaran tulis-baca Jawi hilang dari sekolah-sekolah dasar. Sejak itulah lahir generasi yang tidak lagi mengenal aksara neneknya sendiri, dan — ini akibat yang paling berasa — jauh dari kemampuan memahami Al-Qur’an yang ditulis dengan aksara yang sama. Generasi yang mengaji tanpa mengerti, menghafal tanpa membaca. Bukan karena mereka malas, tetapi karena satu alat telah dicabut dari tangan mereka jauh sebelum mereka lahir. Di titik ini, cerita tentang Spanyol dan Turki berhenti; yang tersisa adalah cerita tentang kita.

Libya: Menutup Zawiya, Memadamkan Perlawanan

Di Libya, pola yang sama berjalan dengan wajah paling brutal. Sebelum Italia menguasainya pada 1911, pendidikan Islam di sana bertumpu pada jaringan zawiya dan sekolah Al-Qur’an di bawah tarekat Sanusiyah — organisasi keagamaan yang sekaligus menjadi tulang punggung pendidikan dan simpul perlawanan terhadap penjajahan. Perlu disebut dengan tepat: Omar al-Mukhtar bukan pemimpin tarekatnya, melainkan syaikh yang pernah memimpin zawiya Ayn Kalk dan Laqsur, lalu menjadi komandan militer seluruh pasukan perlawanan; sementara pimpinan tarekat, Muhammad Idris al-Sanusi, meninggalkan Cyrenaica menuju pengasingan di Kairo pada Desember 1922.

Maka yang dihadapi Italia bukan sekadar gerilyawan, melainkan struktur keagamaan yang mengakar. Perang Italo-Senussi Kedua (26 Januari 1923 sampai 24 Januari 1932) di bawah rezim fasis Mussolini dijalankan sebagai operasi pemusnahan: tank ringan Fiat 3000, artileri, senjata kimia — termasuk gas mostar yang dijatuhkan di desa-desa pada 1930 — dan jaringan kamp internir yang dibangun atas usul Menteri Kolonial Emilio De Bono pada Januari 1930 lalu dijalankan oleh Rodolfo Graziani, dengan sekitar enam belas kamp tercatat.

Angka yang perlu dibaca dengan hati-hati, karena di sinilah sering terjadi kekeliruan: sekitar 100.000–110.000 orang dideportasi dan diinternir antara 1929 hingga pertengahan 1930-an. Perkiraan korban tewas berkisar 40.000–70.000 orang, sementara sejarawan Ali Abdullatif Ahmida menyebut 60.000–70.000 meninggal dari 110.000 yang diinternir, dengan populasi Cyrenaica menyusut dari sekitar 225.000 menjadi 142.000. Jadi yang paling tepat dikatakan bukan seperempat populasi Libya, melainkan: hampir separuh penduduk Cyrenaica diinternir, dan sekitar seperempat dari mereka tidak pernah kembali.

Setelah perlawanan bersenjata dipatahkan — Omar al-Mukhtar dieksekusi pada 16 September 1931 — barulah sasaran kelembagaannya dibereskan: pusat-pusat kebudayaan Islam ditutup, para ulama Al-Qur’an ditangkap dan dikirim ke pulau penjara Ustica, dan tanah mereka dirampas; puluhan ribu hektar tanah terbaik berpindah tangan, tarekat Sanusiyah dianiaya, zawiya dan masjidnya ditutup, praktiknya dilarang, dan asetnya disita. Dengan hilangnya pimpinan, penutupan zawiya, dan penyitaan aset, struktur organisasi tarekat itu praktis runtuh pada 1930-an.

Bahasa Arabnya pun disingkirkan tanpa perlu dekrit dramatis: bahasa resmi koloni adalah bahasa Italia, sementara bahasa Arab baru menjadi bahasa resmi negara setelah kemerdekaan melalui konstitusi 1951. Sekolah-sekolah Qur’an yang terikat pada masjid dan zawiya dibiarkan merosot — kurang dana, kurang tenaga, bangunan rusak — sementara pendidikan negeri untuk orang Libya sangat terbatas dan berbahasa Italia. Mengenai syarat damai yang diajukan Omar al-Mukhtar dalam perundingan 1929, perlu saya sampaikan dengan jujur: kerangka perundingannya tercatat dalam sumber arsip, tetapi daftar tuntutannya — termasuk pengakuan bahasa Arab dan kebebasan sekolah agama — terutama didukung historiografi Libya, misalnya oleh sejarawan Tahir al-Zawi. Bagi saya, cara kerjanya justru menarik: seorang pemimpin gerilya, di tengah kepungan, merasa perlu memperjuangkan bahasa dan sekolah. Bangunan katedral era Italia di Tripoli pun baru beralih fungsi menjadi masjid pada 1970, setelah Libya merdeka — sedalam itu lanskap keagamaan publik diubah.

Empat Langkah yang Selalu Sama

Kelima kasus ini berjarak lebih dari 400 tahun satu sama lain, terjadi di empat benua, dan dijalankan oleh kekuatan dengan ideologi yang saling bertolak belakang: monarki Katolik Spanyol, republik sekuler Prancis, negara komunis-ateis Soviet, birokrasi kolonial Belanda, dan rezim fasis Italia. Kalau represi terhadap bahasa Arab dan dakwah hanya kebetulan sejarah, pola ini seharusnya tidak muncul berulang di tangan aktor-aktor yang tidak saling terhubung. Faktanya polanya nyaris identik.

Tentu ada motif praktis yang perlu diakui: penjajah mana pun membutuhkan bahasa yang seragam untuk memerintah, dan biaya administrasi selalu jadi alasan yang masuk akal. Tetapi penyeragaman administratif biasa tidak membedakan bahasa mana yang dibunuh. Yang terjadi di sini berbeda: yang disasar bukan bahasa daerah mana pun, melainkan bahasa kitab suci; dan yang ditutup bukan sekolah umum, melainkan zawiya, maktab, dan pesantren. Ketika sasarannya begitu spesifik dan berulang selama empat abad, itu bukan lagi soal efisiensi kantor pemerintahan.

Keempatnya selalu muncul dalam urutan logis yang sama. Pertama, bahasa Arab dilumpuhkan — lewat larangan langsung seperti di Spanyol, pemaksaan ganti aksara seperti di Turki dan Soviet, atau marginalisasi sistemik lewat pendidikan seperti di Prancis, Italia, dan Belanda. Ini langkah pertama karena bahasa Arab adalah kunci akses langsung ke Al-Qur’an dan literatur klasik; begitu kunci itu dicabut, generasi berikutnya kehilangan jalan pulang ke sumber aslinya, walau warisan itu masih ada di depan mata.

Kedua, infrastruktur ekonomi dakwah dibekukan — wakaf dan habous yang membiayai masjid, madrasah, dan ulama disita. Ketiga, pemimpin agama dijadikan target personal: lewat kewajiban izin mengajar di Hindia Belanda, pengasingan dan eksekusi di Spanyol, Soviet, dan Italia. Ini bukan kebencian pribadi, melainkan kalkulasi: memutus mata rantai regenerasi ulama jauh lebih efektif dalam jangka panjang daripada menumpas massa.

Keempat, elite lokal dijinakkan lewat pendidikan alternatif, sekaligus ditumbuhkan kebanggaan identitas kedaerahan yang perlahan menggantikan identitas yang lebih besar. Belanda melakukannya paling eksplisit, tetapi pola yang sama muncul di Soviet lewat sekolah sekuler pengganti maktab. Inilah jalur paling halus dan paling bertahan lama, karena tidak terasa sebagai penjajahan — ia datang dengan wajah kemajuan dan modernisasi. Dan di sinilah kita perlu berhenti sejenak: rasa bangga pada daerah tidak salah, tetapi ketika ia tumbuh sambil kehilangan bahasa yang menyatukan umat, hasilnya adalah umat yang merasa asing terhadap warisan agamanya sendiri.

Intinya: setiap kekuatan ini paham bahwa menjajah tanah jauh lebih mudah daripada menjajah identitas. Yang terakhir baru berhasil kalau umat kehilangan akses ke bahasa sumber ajarannya sendiri, dan kalau mata rantai transmisi ilmu dari ulama ke murid terputus.

Waktunya Bangkit — Mulai dari Diri Sendiri

Menyadari semua ini bukan berarti kita pasrah, paranoid, memusuhi negara mana pun, atau menolak aksara Latin yang sudah menjadi milik kita. Yang perlu kita akui justru lebih sederhana dan lebih tidak nyaman: pola itu berhasil sebagian, dan buktinya ada di ruang kelas kita sendiri hari ini — dalam bahasa Arab yang masih diajarkan sebagai rumus yang harus benar, dalam generasi yang membaca Al-Qur’an setiap hari tanpa akses ke maknanya, dan dalam betapa cepat kita menyebut bahasa Arab sebagai pelajaran yang sulit, padahal berabad-abad sebelum kita bahasa itu adalah bahasa pasar, bahasa ilmu, dan bahasa puisi di kepulauan ini.

Tetapi justru di situ titik baliknya. Kalau bahasa ini dulu dicabut sebagai langkah pertama untuk melemahkan umat, maka mengembalikannya adalah langkah pertama untuk bangkit. Kebangkitan Islam tidak dimulai dari panggung besar, kongres, atau slogan; ia dimulai dari orang-orang yang memutuskan hari ini bahwa dirinya sendiri tidak akan tetap buta terhadap bahasa kitab sucinya. Kesadaran yang tidak berubah menjadi pelajaran hanya akan berhenti sebagai kepahitan.

Dan itu bisa dimulai dari hal-hal yang sangat kecil, oleh siapa pun, tanpa menunggu fasilitas apa pun. Mulai dari diri sendiri: tambahkan satu kata baru setiap hari, baca satu ayat dengan melihat artinya, biasakan telinga mendengar bahasa Arab yang hidup, bukan hanya bahasa Arab yang diujikan. Lalu bawa ke rumah: ajak anak mengenal huruf dan bunyi yang sama dengan yang ia baca dalam shalatnya, supaya mengaji dan mengerti tidak lagi jadi dua dunia yang berbeda. Lalu bawa ke ruang kelas: berikan bahasa Arab sebagai alat untuk menyampaikan maksud, bukan hanya kaidah untuk dinilai benar-salah, karena kesalahan yang berani jauh lebih berharga daripada diam yang sempurna.

Selama bahasa ini masih bisa dibaca dan dipahami oleh umatnya, warisan itu belum benar-benar hilang — dan selama itu pula, proyek pengasingan itu belum selesai. Sebab yang sesungguhnya dikhawatirkan oleh para penjajah dulu bukanlah jumlah pasukan umat ini, melainkan sesuatu yang jauh lebih sederhana: kemampuan mereka memahami seruan Tuhan mereka sendiri dalam bahasa aslinya. Kalau itu yang paling mereka takuti, maka itulah yang paling layak kita pelajari — dan sejarah sudah cukup lama memberi kita alasannya.

Catatan Sumber

  1. Snouck Hurgronje, jabatannya, dan riset Aceh — Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh (Kemendikbud), Christian Snouck Hurgronje; jurnal TAPIs, Politik Kolonial Belanda terhadap Islam di Indonesia; Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda.
  2. Goeroe-ordonnantie 1905 — jurnal Mozaik Universitas Negeri Yogyakarta; jurnal Fakta, IAIN Ambon.
  3. Achmad Djajadiningrat sebagai Willem van Banten — Jean Gelman Taylor, Bijdragen 145 (1989); Rick Honings dkk., Boeken die geschiedenis schreven.
  4. Pemisahan pribumi–Timur Asing — Huub de Jonge, kajian tentang Snouck dan Hadhrami (2022); IIAS, Becoming Arab: Creole Histories.
  5. Ejaan van Ophuijsen 1901 dan peralihan dari aksara Jawi — Lembaga Bahasa Internasional FIB Universitas Indonesia; Wikipedia Indonesia, Ejaan van Ophuijsen; jurnal Cordova, UIN Mataram, Dari Tulisan Jawi ke Aksara Romawi.
  6. Perang Italo-Senussi Kedua dan kamp internir — Wikipedia, Second Italo-Senussi War dan Italian concentration camps in Libya; Ali Abdullatif Ahmida, wawancara MERIP (2022); Younis, Storicamente (2018), tentang kolonialisme fasis dan agama.
  7. Syarat damai Omar al-Mukhtar 1929 — Tahir al-Zawi, Omar al-Mukhtar (2004), sebagaimana dikutip literatur biografi Arab; kerangka perundingan dalam Wikipedia, Second Italo-Senussi War.
  8. Katedral Tripoli — Wikipedia, Tripoli Cathedral dan Algeria Square Mosque. Bahasa resmi Libya pasca-kemerdekaan — Konstitusi Libya 1951, Pasal 186.
Fahrizal Mukhdar, guru Bahasa Arab

Fahrizal Mukhdar

Guru Bahasa Arab

Menulis tentang pendidikan, pembelajaran bahasa Arab, dan refleksi kehidupan sekolah — juga mengembangkan Bilarabiya.Online.

Tentang saya →

Bagikan: WhatsApp Telegram

Komentar

Belum ada komentar. Silakan jadi yang pertama.

Tinggalkan komentar

Cukup nama dan komentar — tidak perlu email atau tautan.

Tampil setelah saya setujui.