Bahasa Arab Bukan Monopoli Anak Pesantren #2: Tiga Pintu Input yang Saya Coba
Bagian kedua dari dua tulisan. Setelah menelaah teori dan temuan penelitian, ini yang saya tawarkan dan coba terapkan di kelas — tiga pintu input: pendengaran, penglihatan, dan praktik yang berulang.
Isi tulisan (7 bagian)
Ini tulisan bagian #2 dari dua. Bagian pertama — telaah teori dan temuan penelitiannya — ada di sini: Bahasa Arab Bukan Monopoli Anak Pesantren #1: Apa Kata Teori dan Penelitian.
Kalau bagian pertama berisi telaah, bagian ini berisi tawaran. Saya bukan peneliti, dan saya tidak sedang mengajukan teori baru. Saya hanya seorang guru yang bertahun-tahun bingung, lalu menemukan sesuatu yang bekerja cukup baik untuk diceritakan.
Tawaran Saya
Rumusannya begini: berbahasa Arab bukan monopoli anak pesantren. Yang membuat anak pesantren bisa, bukan bakat istimewa dan bukan pula keberkahan tempatnya, melainkan pengalaman mereka hidup di dalam paparan bahasa yang tepat dan terus-menerus. Paparan seperti itu bisa dirancang — tidak harus dengan asrama, tidak harus dengan hukuman, dan tidak harus menunggu sekolah punya sistem besar.
Syaratnya dua, dan keduanya tidak bisa ditawar. Pertama, paparannya harus tepat: cukup terpahami, sedikit di atas kemampuan murid, dan bermakna baginya. Kedua, paparannya harus ajek: berulang dalam waktu yang cukup. Sebab dari telaah di bagian pertama kita sudah tahu, sekadar berada di lingkungan berbahasa tidak menjamin paparannya tebal.
Dari sana, saya membuka tiga pintu bagi murid: pendengaran, penglihatan, dan praktik yang berulang.
Pintu Pertama: Pendengaran
Murid perlu lebih banyak mendengar bahasa Arab dari mulut saya daripada mendengar penjelasan tentang bahasa Arab. Ini kedengarannya sederhana, tetapi mengubah kebiasaan kita cukup dalam — sebab pekerjaan guru bahasa Arab hari-hari ini lebih banyak menjelaskan daripada memakai bahasanya.
Maka kalimat yang saya ucapkan setiap hari saya batasi pada kalimat yang sungguh dipakai. Sapaan, arahan sederhana, pertanyaan tertutup yang bisa dijawab satu kata. Saya sengaja memilih yang pendek dan berulang, bukan yang lengkap dan mengagumkan. Untuk murid yang masih di level diam, kalimat seperti كَيْفَ الْحَالُ؟ yang dijawab خَيْر jauh lebih berguna daripada penjelasan panjang tentang susunan jumlah ismiyah.
Dan saya mengulanginya tanpa bosan. Yang berulang itulah yang melekat; yang dijelaskan sekali lalu ditinggalkan, menguap.
Pintu Kedua: Penglihatan
Bahasa yang sering terlihat akan mudah diingat. Saya sering menganalogikannya dengan label bahasa di bandara: tidak ada yang mengajarkan, tidak ada yang menyuruh menghafal, tetapi hampir semua orang mengerti ke mana harus pergi. Karena yang tertulis di situ berulang setiap kali orang melintas.
Karena itu kosakata dan kalimat yang sedang kami pakai selalu ada di pandangan murid — bukan hanya di lembar hafalan yang ditutup begitu pelajaran usai. Fungsi kalimat itu terlihat, konteksnya terlihat, dan yang paling penting: ia muncul di ruang tempat bahasa itu memang dipakai, bukan di ruang ujian.
Pintu Ketiga: Praktik yang Berulang
Ini yang paling saya rasakan hasilnya, dan mungkin yang paling sederhana untuk ditiru siapa pun.
Sebelum ke toilet, murid saya latih mengucapkan أَسْتَأْذِنُ إِلَى الْمِرْحَاضِ. Bukan diuji, bukan dinilai — hanya dibiasakan, setiap kali, tanpa kecuali. Mula-mula mereka mengucapkannya sambil tersenyum karena lucu. Lama-lama keluar sendiri, bahkan dari murid yang paling pemalu.
Hal yang sama berlaku untuk كَيْفَ الْحَالُ؟ dan jawabannya خَيْر, untuk أَيَّ صَفْحَةٍ؟ ketika saya bertanya halaman berapa, untuk أَيَّ تَارِيخٍ؟, dan sederet kalimat kesepakatan sederhana seperti صَحِيح dan خَطَأ. Perhatikan apa yang terjadi: tidak ada satu pun dari kalimat itu yang berasal dari bab kurikulum. Semuanya berasal dari kebutuhan pergaulan sehari-hari di kelas — dan justru itu yang mereka ingat sampai bertahun-tahun.
Sebaliknya, materi bab yang sudah saya jelaskan mati-matian dengan papan tulis penuh tulisan, sering menyusut habis di pertemuan berikutnya. Bertahun-tahun saya menyimpulkan itu tanda murid bodoh. Sekarang saya paham: itu tanda saya meletakkan bahasa di tempat yang salah. Di buku catatan, bukan di mulut mereka.
Lima Aturan Kecil yang Saya Pegang
Kalau harus saya rangkum menjadi pegangan, ada lima hal:
- Mulai dari yang tertutup. نَعَمْ, لَا, صَحِيح, خَطَأ bukan jawaban yang kekanak-kanakan; itu jembatan bagi murid yang belum berani bicara.
- Jangan potong murid saat ia sedang bicara. Koreksi bisa ditunda sampai ia selesai, atau disampaikan lewat contoh yang benar di kesempatan berikutnya. Ada kajian yang menunjukkan lembaga berhasil justru karena menunda koreksi seperti ini.
- Biarkan yang diam tetap diam dulu, tapi tetap diajak. Periode diam adalah fase, bukan hukuman. Saya tetap menyapa, tetap bertanya, tetap menyediakan jawaban yang tidak berisiko.
- Yang penting adalah dipakai, bukan diuji. Kalimat yang keluar karena dibutuhkan akan bertahan; kalimat yang keluar karena dinilai akan hilang.
- Keberulangan mengalahkan keluasan. Sepuluh kalimat yang diucapkan setiap hari lebih berharga daripada seratus kosakata yang dikumpulkan dalam sepekan.
Bagaimana Ini Menjadi Bilarabiya.online
Dari kegelisahan dan percobaan itu, saya akhirnya membangun Bilarabiya.online. Bukan karena saya merasa sudah menemukan segalanya — justru karena saya menyadari saya tidak mungkin mengulang sendiri setiap kalimat, setiap hari, untuk setiap kelas, selama bertahun-tahun.
Yang ingin saya kerjakan di sana cukup spesifik: membantu guru mengajarkan ungkapan bahasa Arab yang secara konsep memang dibutuhkan murid, lalu membuat ungkapan itu berulang-ulang disimak dan dilakukan dalam berbagai bentuk latihan. Jadi tiga pintu yang saya sebut tadi diterjemahkan menjadi rancangan: pengulangan supaya ungkapan itu melekat; suasana latihan yang menurunkan rasa takut salah — murid boleh keliru berkali-kali tanpa ada yang menertawakan; dan kesempatan mempraktikkan langsung, sebab salah saat berlatih adalah bagian dari cara belajar, bukan aib yang harus disembunyikan di depan kelas.
Karena itu ia tidak saya bangun sebagai kumpulan soal, melainkan sebagai sistem pembangun bahan ajar dengan gamifikasi, bertumpu pada prinsip pemerolehan bahasa yang kita bicarakan di bagian pertama. Dan seperti hal-hal lain dalam tulisan ini, satu hal perlu saya katakan jelas: ia bukan pengganti guru. Yang menghadirkan bahasa tetap guru; alat hanya menjaga agar bahasa itu terus terpakai di antara pertemuan-pertemuan kita.
Satu Kunci Sudah, Masih Ada Dua
Saya tidak ingin tulisan ini berakhir dengan nada kemenangan, karena saya belum selesai. Input hanyalah kunci pertama dan paling dasar. Bahkan dengan paparan yang tepat, seorang murid tetap bisa diam saja kalau hatinya sedang takut salah, malu pada temannya, atau lelah menghadapi penilaian. Itulah kunci kedua: penyaring afektif.
Dan kunci ketiga — pemakaian yang nyata — juga belum kita bicarakan. Sebab dari telaah di bagian pertama kita sudah tahu: input memang perlu, tetapi tidak cukup. Ia pintu masuk, bukan rumahnya.
Semoga bermanfaat bagi para asatidzah yang sedang berjuang mengajarkan bahasa Arab. Baca ulang bagian #1: Apa Kata Teori dan Penelitian.
Fahrizal Mukhdar
Guru Bahasa Arab
Menulis tentang pendidikan, pembelajaran bahasa Arab, dan refleksi kehidupan sekolah — juga mengembangkan Bilarabiya.Online.
Suka tulisan ini? Masih ada banyak tulisan lain — dan pembaca boleh ikut berdiskusi di kolom komentar.
Semua tulisan Tentang penulisTulisan terkait
Kategori yang sama dengan tulisan ini — Pendidikan
Komentar
Belum ada komentar. Silakan jadi yang pertama.
Jangan lewatkan tulisan baru
Sekali tekan, tulisan baru langsung sampai ke HP-mu — tanpa email, tanpa daftar.