Orang Tua Wajib Bertanggung Jawab, Bukan Sekolah
Dari dauroh parenting bersama Syekh Ahmad dari Mesir: Luqman memanggil anaknya tiga kali dengan lembut, dan menyampaikan sepuluh butir nasihat — aqidah, salat, akhlak. Bekal itulah yang membuat anak bisa berkembang di sekolah, bukan sibuk mengatur dirinya sendiri.
Isi tulisan (9 bagian)
Beberapa waktu lalu saya mengikuti dauroh parenting Islam bersama Syekh Ahmad, seorang ulama dari Mesir. Saya datang bukan karena merasa sudah tahu, tapi karena memang bingung: sejauh mana pendidikan anak boleh dititipkan kepada sekolah, dan di titik mana tanggung jawab itu tetap harus saya pegang sendiri?
Di sesi itu, Syekh Ahmad membahas ayat-ayat Luqman. Bukan ayat tentang sekolah, bukan tentang kurikulum, bukan tentang guru. Ayat tentang seorang ayah yang sedang berbicara kepada anaknya.
Yang paling menempel di kepala saya bukan penjelasan panjangnya, melainkan satu hal sederhana: tiga kali Luqman memanggil anaknya dengan panggilan yang sama, "wahai anakku". Bukan "hei", bukan namanya dengan nada tinggi.
Sejak itu saya mulai melihat persoalan ini dari sisi yang berbeda. Kita sering bertanya: sekolah mana yang bagus untuk anak saya? Padahal pertanyaan yang lebih tepat: apa yang akan saya sampaikan kepadanya sebelum ia saya serahkan ke sekolah?
Karena pada akhirnya, mendidik anak adalah tanggung jawab orang tua. Sekolah membantu — tapi tidak menggantikan.
Seorang Ayah, Tiga Panggilan
Luqman bukan nabi — menurut pendapat yang masyhur ia adalah hamba saleh yang diberi hikmah. Tapi namanya diabadikan dalam Al-Qur’an, dan nasihatnya dicatat sampai hari ini.
Menariknya, yang diabadikan bukan pidato panjang. Hanya beberapa ayat. Dan di dalamnya, tiga kali ia memanggil anaknya dengan satu kata yang sama:
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika ia memberi pelajaran kepadanya, 'Wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah. Sesungguhnya kesyirikan itu benar-benar kezaliman yang besar.'" (QS Luqman: 13)
Yā bunayya — "wahai anakku". Bukan "hei", bukan namanya dengan nada tinggi. Panggilan sayang, diulang di tiga tempat berbeda dalam satu rangkaian nasihat.
Ini bukan hal kecil. Anak yang dipanggil dengan sayang akan mendengar. Anak yang dipanggil untuk dimarahi akan memasang tameng sebelum kata pertama selesai diucapkan.
Tapi mari kita hitung dengan cermat, supaya tidak menyederhanakan Al-Qur’an. Dalam delapan ayat itu, dari 31:12 sampai 31:19, ada empat belas perintah dan larangan. Sembilan di antaranya diucapkan Luqman sendiri kepada anaknya; lima datang langsung dari Allah — tentang syukur dan tentang berbakti kepada orang tua. Ditambah satu kabar di ayat 16 yang bukan perintah, tapi justru menjadi inti semuanya: bahwa Allah mengetahui perbuatan seberat biji sawi, di mana pun ia berada.
Jadi "tiga" itu bukan jumlah isinya. Tiga adalah pilar — cara kita mengingatnya. Isinya sepuluh butir dalam tiga panggilan, dan seluruhnya berpijak pada empat belas perintah yang tidak satu pun sia-sia.
Yang Pertama: Aqidah
Hal pertama yang Luqman sampaikan bukan adab makan, bukan sopan santun, bukan prestasi. Yang pertama adalah keyakinan: jangan menyekutukan Allah.
Dan perhatikan, ia tidak berhenti pada larangan. Ia memberi alasan: "sesungguhnya kesyirikan itu kezaliman yang besar." Anak diajak berpikir, bukan hanya diperintah.
Lalu, beberapa ayat kemudian, Luqman menambahkan satu hal yang membuat aqidah itu tidak tinggal jadi hafalan:
يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ
"Wahai anakku, sesungguhnya jika ada sesuatu perbuatan seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya. Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui." (QS Luqman: 16)
Ini bukan sekadar "Allah itu ada". Ini kesadaran bahwa Allah melihat — bahkan yang tersembunyi di dalam batu. Anak yang tumbuh dengan kesadaran ini tidak perlu terus diawasi, karena ia merasa diawasi oleh Yang tidak pernah lengah.
Bandingkan dengan anak yang hanya diawasi manusia. Selama ada guru, ia patuh. Begitu keluar gerbang, ia berubah. Bukan karena ia jahat, tapi karena pengawasnya sedang tidak ada.
Yang Kedua: Sholat
Setelah aqidah, Luqman menyebut ibadah. Dan pilihan katanya perlu kita perhatikan:
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
"Wahai anakku, dirikanlah salat, dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik, dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan." (QS Luqman: 17)
Ia tidak berkata "sallī" — "salatlah". Ia berkata "aqim" — dirikanlah. Kata itu dipakai untuk sesuatu yang ditegakkan, diberi tiang, dijaga supaya tidak roboh.
Bedanya besar. "Salatlah" adalah perintah yang ditagih setiap waktu. "Dirikanlah salat" adalah kebiasaan yang dibangun bertahun-tahun, dengan contoh, dengan ditemani, dengan kesabaran.
Dan lihat kelanjutannya. Salat tidak berhenti di sajadah. Setelah salat, anak disiapkan untuk berani mengatakan yang benar (amar ma’ruf), berani menolak yang salah (nahi munkar), dan tahan ketika akibatnya menimpa dirinya (sabar).
Tiga hal itu jarang diajarkan di sekolah. Sekolah mengajarkan cara menjawab soal, bukan cara menghadapi orang yang tidak suka jawaban kita.
Yang Ketiga: Akhlaq
Setelah keyakinan dan ibadah, Luqman berbicara tentang hal-hal yang tampak sepele — dan justru karena sepele, paling sering dilupakan:
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
"Dan janganlah engkau memalingkan mukamu dari manusia karena sombong, dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS Luqman: 18)
وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِن صَوْتِكَ ۚ إِنَّ أَنكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ
"Dan sederhanalah dalam berjalan, dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai." (QS Luqman: 19)
Wajah, jalan, langkah, suara. Empat hal yang tidak pernah masuk rapor, tapi menentukan bagaimana orang memandang seorang anak seumur hidupnya.
Dan semua itu diakhiri dengan alasan, bukan ancaman: "sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong." Lagi-lagi, Luqman mengajak anaknya memahami, bukan sekadar takut.
Dua Hal yang Mengikat Ketiganya
Kalau kita membaca dari ayat 12, ada dua hal yang tidak termasuk "tiga" tadi, tapi menjadi pengikat semuanya.
Pertama, syukur. Di ayat 12, Allah menyebut hikmah yang diberikan kepada Luqman, dan isi hikmah itu dimulai dengan satu perintah: "Bersyukurlah kepada Allah." Anak yang terbiasa bersyukur tidak akan tumbuh menjadi orang yang selalu merasa kurang — dan itu pondasi yang membuat aqidah, salat, dan akhlak tidak terasa sebagai beban.
Kedua, bakti kepada orang tua. Di tengah nasihatnya, Allah menyelipkan perintah berbuat baik kepada ibu dan ayah — bahkan ketika keduanya memaksa anak menyekutukan Allah:
وَإِن جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا
"Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah engkau mengikuti keduanya, tetapi pergaulilah keduanya di dunia dengan baik." (QS Luqman: 15)
Perhatikan betapa halusnya. Ketika orang tua salah, anak tidak boleh mengikutinya — tapi juga tidak boleh memperlakukannya dengan kasar. Inilah akhlak yang tidak lahir dari aturan, melainkan dari contoh yang dilihat anak setiap hari di rumahnya.
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
"Dan Kami perintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu; hanya kepada-Ku lah kamu kembali." (QS Luqman: 14)
Cara Menyampaikannya Juga Bagian dari Isi
Ada satu hal yang membuat nasihat Luqman bertahan empat belas abad: caranya.
Panggilan yang lembut. Kalimat yang pendek — satu pesan, lalu berhenti. Alasan di setiap perintah, bukan "pokoknya begitu". Dan pengulangan: hal yang sama disampaikan lagi di kesempatan lain, tanpa nada mengungkit.
Bandingkan dengan cara kita. Kita sering menyampaikan tiga hal penting sekaligus dalam satu ceramah panjang, lalu kecewa karena anak tidak mengingatnya. Padahal yang diingat anak bukan yang paling lengkap — tapi yang paling sering diulang dengan sabar.
Bukan Cukup Makan, Fasilitas, dan Rasa Aman
Di titik ini saya perlu mengatakan sesuatu yang mungkin terasa keras: peran orang tua tidak berhenti pada memberi makan, menyediakan fasilitas, dan menciptakan rasa aman.
Semua itu penting. Tidak ada anak yang bisa belajar dengan perut kosong, dan tidak ada anak yang bisa tumbuh tanpa merasa aman. Nafkah itu kewajiban, dan mengabaikannya adalah kesalahan besar.
Tapi kalau kita berhenti di situ, kita baru memenuhi satu lapis: menjaga badannya. Yang belum tersentuh adalah jiwanya — dan justru jiwa itulah yang akan menentukan ke mana anak kita melangkah ketika tidak ada seorang pun yang mengawasinya.
Perhatikan lagi nasihat Luqman. Ia tidak berbicara tentang makanan, uang, atau rumah. Ia berbicara tentang aqidah, ibadah, dan akhlak — tiga hal yang tidak bisa dibeli, tidak bisa disewa, dan tidak bisa diwakilkan kepada siapa pun.
Orang tua bisa menyewa guru terbaik. Bisa membeli buku paling mahal. Bisa memilih sekolah dengan fasilitas paling lengkap. Tapi tidak ada yang bisa menyewa iman untuk anaknya, tidak bisa membeli kebiasaan salat, dan tidak bisa memesan akhlak lewat jasa.
Itu sebabnya tiga hal ini bukan pelengkap setelah kebutuhan lain terpenuhi. Ia kewajiban — sama wajibnya dengan memberi makan, hanya saja akibatnya tidak terlihat hari ini, melainkan bertahun-tahun kemudian.
Buahnya Terlihat di Sekolah
Di sinilah saya ingin jujur sebagai guru.
Anak yang datang ke sekolah dengan bekal aqidah, salat, dan akhlak yang sudah ditanamkan di rumah punya satu kelebihan yang tidak bisa dibeli: energinya bebas. Ia tidak sibuk mengatur dirinya sendiri. Ia tidak menghabiskan hari-harinya untuk menutupi kebingungan tentang siapa dirinya, atau untuk memberontak pada aturan yang tidak ia pahami.
Anak seperti ini bisa langsung masuk ke pekerjaan yang sebenarnya: mengembangkan dirinya — belajar, mencoba, bertanya, berkarya.
Sebaliknya, anak yang datang tanpa bekal itu akan menghabiskan banyak tenaga untuk hal lain: meregulasi masalah pribadinya, mencari perhatian, menguji batas, atau sekadar bertahan. Bukan karena ia anak buruk. Tapi karena ada pekerjaan rumah yang seharusnya sudah selesai di rumah, dan sekarang harus dikerjakan di sekolah — dengan waktu yang tidak cukup, dan sering kali oleh orang yang bukan orang tuanya.
Guru lalu ikut menanggungnya. Bukan sebagai keluhan, tapi sebagai kenyataan: kelas yang seharusnya dipakai untuk mengajar, sebagian waktunya habis untuk mengurus hal-hal yang tidak diajarkan di kurikulum.
Penutup
Maka tiga hal itu — aqidah, salat, akhlak — bukan tambahan untuk anak yang saleh. Ia bekal dasar yang membuat seorang anak bisa berdiri sendiri ketika tidak ada kita di sampingnya.
Sekolah akan mengajarkan banyak hal baik. Tapi sekolah tidak bisa menggantikan rumah dalam tiga hal ini, karena ketiganya tidak disampaikan lewat pelajaran — melainkan lewat siapa yang anak lihat setiap hari.
Sekolah boleh berganti, kurikulum boleh berubah, guru boleh datang dan pergi. Tapi tanggung jawab itu tidak berpindah ke mana-mana: ia tetap di tangan orang tua.
Dan kalau kita berhasil menanamkan tiga hal ini, hadiah terbesarnya bukan nilai di rapor. Hadiahnya adalah anak yang, ketika jauh dari kita, tetap tahu ke mana harus menghadap.
Fahrizal Mukhdar
Guru Bahasa Arab
Menulis tentang pendidikan, pembelajaran bahasa Arab, dan refleksi kehidupan sekolah — juga mengembangkan Bilarabiya.Online.
Suka tulisan ini? Masih ada banyak tulisan lain — dan pembaca boleh ikut berdiskusi di kolom komentar.
Semua tulisan Tentang penulisTulisan terkait
Kategori yang sama dengan tulisan ini — Refleksi Al-Qur'an
Terbaru
Dua tulisan terakhir di situs ini
Komentar
Belum ada komentar. Silakan jadi yang pertama.
Jangan lewatkan tulisan baru
Sekali tekan, tulisan baru langsung sampai ke HP-mu — tanpa email, tanpa daftar.