Fahrizal Mukhdar
Fahrizal Mukhdar
Pendidikan

Guru yang Mengajar dengan Hidupnya

Fahrizal Mukhdar, guru Bahasa Arab Fahrizal Mukhdar ยท Guru Bahasa Arab โ€ข 12 Oktober 2026 โ€ข ยฑ 9 menit baca
Guru yang Mengajar dengan Hidupnya

Delapan murid Nabi membuktikannya: yang membentuk mereka bukan hanya majelis ilmu, melainkan apa yang mereka saksikan dari pribadi guru mereka setiap hari.

Isi tulisan (6 bagian)
  1. Satu Cara Belajar, Delapan Nama
  2. Kesadaran Itu Ada pada Sahabat yang Lain
  3. Emosi Guru Itu Sendiri adalah Pelajaran
  4. Kesan yang Tertinggal Sepeninggal Kita
  5. Bagaimana Kita Mengajar dengan Hidup Kita
  6. Penutup

Kalau saya diminta menyebut apa yang paling membekas dari guru-guru saya, saya tidak akan menyebut materi pelajarannya. Yang saya ingat justru hal-hal kecil: bagaimana cara beliau menjawab pertanyaan bodoh tanpa membuat penanya merasa bodoh, bagaimana beliau tetap datang meski sedang tidak enak badan, bagaimana beliau menyebut nama muridnya dengan lengkap, dan bagaimana caranya berhenti bicara ketika ada yang ingin menyanggah.

Saya tidak menghafal itu dari papan tulis. Saya menyerapnya karena menyaksikannya berulang-ulang. Dan ternyata begitulah cara para sahabat belajar kepada Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam.

Ada satu kalimat beliau yang menjelaskan seluruh bab ini. Jabir radhiyallahu โ€˜anhu menceritakan bahwa beliau melihat Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam melempar jumrah di hari Nahr sambil menunggang untanya, lalu beliau bersabda:

ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ู„ูุชูŽุฃู’ุฎูุฐููˆุง ู…ูŽู†ูŽุงุณููƒูŽูƒูู…ู’ุŒ ููŽุฅูู†ูู‘ูŠ ู„ูŽุง ุฃูŽุฏู’ุฑููŠ ู„ูŽุนูŽู„ูู‘ูŠ ู„ูŽุง ุฃูŽู„ู’ู‚ูŽุงูƒูู…ู’ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุนูŽุงู…ููŠ ู‡ูŽุฐูŽุง

"Ambillah manasik kalian dariku โ€” sebab aku tidak tahu, boleh jadi aku tidak akan berjumpa lagi dengan kalian setelah tahunku ini." (HR Muslim no. 1297, dari Jabir radhiyallahu โ€˜anhu)

Coba perhatikan cara beliau mengajarkan haji. Beliau tidak berkata "hafalkan urutan manasik". Beliau berkata ambil dariku โ€” sedang beliau memperagakannya. Artinya: keteladanan itu metode, bukan pelengkap. Bukan bonus bagi murid yang beruntung, melainkan cara mengajar yang beliau sendiri tetapkan.

Satu Cara Belajar, Delapan Nama

Kalau kita membaca riwayat para sahabat, kita akan menemukan pola yang berulang: yang paling membentuk mereka bukan majelisnya, melainkan kedekatan mereka dengan pribadi Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam.

Anas bin Malik โ€” sepuluh tahun melayani beliau, siang dan malam, sejak ia masih anak-anak. Dari sepuluh tahun itu ia mengabarkan satu hal yang luar biasa: beliau tidak pernah berkata "uf" kepadanya dan tidak pernah mencelanya (HR al-Bukhari no. 6038). Sepuluh tahun menyaksikan cara beliau memaafkan โ€” itulah sekolah yang membentuknya, bukan sepuluh tahun menghafal.

Abdullah bin Abbas โ€” masih kecil ketika beliau memeluknya dan mendoakan: "ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูู…ูŽู‘ ุนูŽู„ูู‘ู…ู’ู‡ู ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจูŽ" โ€” "ya Allah, ajarkanlah kepadanya Kitab" (HR al-Bukhari no. 75). Ia tumbuh menjadi tempat bertanya umat, dan yang paling dulu menghunjam ke hatinya adalah pelukan seorang guru, bukan hafalan.

Abu Hurairah โ€” datang kepada beliau dalam keadaan miskin dan tinggal bersama ahli Suffah. Ia menyaksikan keseharian beliau sedekat-dekatnya, dan dalam riwayat al-Bukhari no. 119 dikisahkan bahwa beliau menggerakkan tangannya seperti mengisi sesuatu lalu menuangkannya ke kain Abu Hurairah, lalu Abu Hurairah menjadi sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis. Ilmu itu sampai kepadanya lewat kebersamaannya, bukan lewat jarak.

Bilal bin Rabah โ€” hamba sahaya yang disiksa di bawah terik matahari karena mempertahankan keimanannya. Riwayat sirah menyebutkan ia hanya mengulang satu kalimat: ahad, ahad โ€” satu, satu. Dan di sini bagian yang jarang kita sebut: Bilal tidak belajar keberanian dari nasihat. Ia menyaksikan keberanian, lalu keberanian itu berpindah kepadanya.

Abu Bakar ash-Shiddiq โ€” orang yang menemani beliau di saat paling genting, sampai Allah mengabadikannya dalam Al-Qurโ€™an: wa huwa tsaniyitsnaini idz huma fil-ghar โ€” "sedang dia adalah yang kedua dari dua orang, ketika keduanya berada di dalam gua" (at-Taubah: 40). Apa yang ia pelajari di gua itu tidak tertulis di kitab mana pun.

Umar bin Khaththab โ€” belajar dari beliau sampai pada hal-hal yang tidak ia pahami hikmahnya, dan itu kita bicarakan sebentar lagi. Utsman bin Affan โ€” dikenal lewat kedermawanannya, menyerahkan hartanya untuk kepentingan umat di saat semua orang sedang menyimpan. Ali bin Abi Thalib โ€” tumbuh dalam asuhan beliau sejak kecil, dan takdirnya membelah ilmu umat ini sampai hari ini.

Delapan orang, satu hal yang sama: mereka semua duduk di majelis โ€” tetapi yang menjadikan mereka besar adalah apa yang mereka saksikan setelah majelis ditutup.

Kesadaran Itu Ada pada Sahabat yang Lain

Yang membuat saya kagum: para sahabat sendiri sadar bahwa cara belajar mereka bukan mendengar semata. Perhatikan peristiwa yang kecil ini.

Di antara mereka tidak ada yang lebih paham kesucian tauhid daripada Umar radhiyallahu โ€˜anhu. Tetapi ketika ia datang ke Hajar Aswad, ia menciumnya dan berkata di depan orang banyak:

ุฅูู†ูู‘ูŠ ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุฃูŽู†ูŽู‘ูƒูŽ ุญูŽุฌูŽุฑูŒ ู„ูŽุง ุชูŽุถูุฑูู‘ ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽู†ู’ููŽุนูุŒ ูˆูŽู„ูŽูˆู’ู„ูŽุง ุฃูŽู†ูู‘ูŠ ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ูŠูู‚ูŽุจูู‘ู„ููƒูŽ ู…ูŽุง ู‚ูŽุจูŽู‘ู„ู’ุชููƒูŽ

"Sungguh aku tahu engkau hanyalah batu, tidak memberi mudarat dan tidak memberi manfaat. Kalau bukan karena aku melihat Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam menciummu, aku tidak akan menciummu." (HR al-Bukhari no. 1597)

Kenapa kalimat itu penting bagi kita sebagai guru? Karena Umar menerangkan dasar amalnya dengan kata "aku melihat". Ia belajar dengan matanya, dan ia sadar sedang belajar dengan matanya. Ia tidak berkata "aku merasa" atau "menurut pikiranku". Ia mengukur diri pada apa yang ia saksikan dari gurunya.

Kesadaran yang sama mengalir di seluruh generasi itu. Mereka bertanya tentang cara beliau makan, cara beliau tidur, cara beliau berjalan, cara beliau bersikap ketika marah โ€” pertanyaan-pertanyaan yang tidak akan muncul dari orang yang menganggap pelajaran hanya sebatas isi ceramah. Bagi mereka, pribadi guru itu sendiri adalah kurikulum.

Emosi Guru Itu Sendiri adalah Pelajaran

Di titik ini saya perlu menambahkan satu hal yang sering kita lewatkan, karena ini bukan soal materi sama sekali. Yang dipelajari murid bukan hanya isi pelajaran, melainkan juga emosi yang kita tampilkan saat mengajar.

Kalau kita mengajar dengan tenang, itu pun pelajaran: murid belajar bahwa ilmu adalah tempat yang aman untuk berpikir. Kalau kita mengajar dengan kesal, itu pun pelajaran: murid belajar bahwa bertanya berisiko. Kalau kita mengajar dengan malas, mereka belajar bahwa pelajaran ini tidak penting. Tidak satu pun dari itu tertulis di buku catatan mereka, tetapi semuanya terekam โ€” dan terekam paling dalam.

Jadi setiap guru, sadar atau tidak, sedang mengajar dua pelajaran sekaligus: pelajaran yang ia ucapkan, dan pelajaran yang ia rasakan oleh muridnya. Yang kedua bertahan jauh lebih lama. Ada murid yang lupa seluruh isi pelajaran bahasa Arabnya, tapi tidak pernah lupa bagaimana wajah gurunya ketika ia salah. Dan murid yang mengingat wajah itu dengan baik akan mencintai pelajarannya; yang mengingatnya dengan takut akan menjauh dari pelajaran itu seumur hidup.

Pengalaman paling jelas soal ini tidak saya dapat di kelas, melainkan di jalan. Suatu hari saya hanya berkata kepada seorang murid: "Ayo ikut Abang." Ia bertanya, "Ngapain, Bang?" Saya jawab, "Kita beli kayu. Abang mau pasang spanduk undangan jamaah ke musholla."

Itu saja percakapannya. Tidak ada penjelasan panjang, tidak ada tujuan pembelajaran yang saya tulis di papan, tidak ada lembar kerja. Ia ikut ke mana saya menuju, memegang ujung kayu, membantu menahan spanduk waktu saya pasang. Dan di tengah perjalanan itu saya tersadar akan satu hal yang membuat saya terdiam: anak di samping saya ini sedang mempelajari sesuatu. Bukan materi pelajaran, melainkan cara saya bekerja, cara saya menghadapi hal yang tidak jalan, cara saya memperlakukan orang di jalan, dan cara saya menepati janji kepada jamaah.

Di tulisan itu saya juga mengutip firman Allah: laqad kฤna lakum fฤซ rasลซlillฤhi uswatun แธฅasanah โ€” "sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu" (al-Ahzab: 21). Yang diserahkan pertama-tama bukan kitab dan bukan metode, melainkan sosok yang bisa dilihat dan diikuti. Dan saya menuliskan satu kalimat yang saya rasa berlaku tepat untuk bab ini: teladan tidak bisa difotokopi โ€” ia harus hadir dan bisa disaksikan.

Cerita lengkapnya saya tuliskan di bagian #2 seri Mendidik, Mengajar, Mewariskan: "Ayo Ikut Abang" โ€” lengkap dengan pembahasan malakah Ibnu Khaldun dan pola legitimate peripheral participation dari Lave dan Wenger.

Ternyata begitulah cara para sahabat belajar kepada Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam. Mereka ikut. Ikut safar, ikut duduk, ikut makan, ikut bersedih, ikut menangis. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyebut dirinya lulus karena sudah selesai menghafal materi. Yang mereka bawa adalah seorang manusia yang mereka saksikan setiap hari.

Di situ saya mulai memahami satu hal yang dulu terasa aneh: kenapa ilmu para sahabat bisa bertahan sampai empat belas abad, sedangkan banyak dari kita tidak bertahan sampai lulus. Rahasianya bukan pada materi yang lebih baik, sebab materi kita hari ini jauh lebih lengkap daripada yang mereka miliki. Rahasianya ada pada kesan yang ditinggalkan.

Kesan yang Tertinggal Sepeninggal Kita

Ada satu pertanyaan yang mungkin jarang kita ajukan sebagai guru: ketika kita sudah tidak ada, apa yang tertinggal? Bukan nama kita di daftar hadir, bukan nilai-nilai yang kita tulis, melainkan kesan yang tersisa di hati orang-orang yang pernah duduk di hadapan kita.

Lihatlah yang terjadi pada sahabat. Ketika Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam wafat, tidak ada yang bisa bertanya lagi kepada beliau. Tetapi apa yang terjadi setelah beliau tiada? Para sahabat berjalan ke seluruh penjuru dunia dengan membawa apa yang mereka saksikan โ€” bukan salinan catatan, melainkan kesan yang membekas pada diri mereka. Mereka mengajarkan cara beliau shalat karena mereka melihatnya, cara beliau berwudhu karena mereka memperhatikannya, cara beliau bersikap kepada orang lemah karena mereka menyaksikannya sendiri.

Kalau kita ingin meninggalkan kesan yang baik di hati murid sepeninggal kita, inilah buktinya: bukan kita yang menjaganya, melainkan apa yang sudah masuk ke dalam diri mereka. Pelajaran yang cuma dihafal akan hilang bersama bukunya. Sikap yang pernah mereka rasakan akan mereka bawa, dan mereka teruskan kepada orang lain sepanjang umur mereka.

Yakni kalau kita mengajar dengan sisa tenaga, dengan kekesalan, dengan muka tegang dan tatapan menyalahkan, itu yang tertinggal โ€” dan akan diteruskan juga kepada murid-murid mereka. Tetapi kalau kita mengajar dengan sabar, dengan tawa yang pantas, dengan perhatian pada yang paling lemah di kelas, itu pun akan diwariskan. Guru mengajar dua kali: sekali saat ia menjelaskan, sekali saat ia ada. Yang kedua tidak bisa dibatalkan, dan tidak bisa diganti oleh metode apa pun yang dipelajari di seminar.

Bagaimana Kita Mengajar dengan Hidup Kita

Pertama, jangan berpikir murid hanya mengamati kita di dalam kelas. Yang paling mereka ingat justru waktu-waktu di luar jam pelajaran: cara kita menyapa, cara kita menunggu, cara kita menghadapi murid yang menjengkelkan. Kejujuran kita di sana akan membatalkan seluruh isi ceramah kita, atau menguatkannya sampai tak terbantahkan.

Kedua, jangan punya dua wajah. Murid bukan pengamat yang malas; mereka mengumpulkan data setiap hari, lalu membandingkan. Kalau yang mereka lihat di luar kelas berbeda dengan yang kami ucapkan di dalamnya, yang mereka tiru adalah yang mereka lihat.

Ketiga, jangan menunggu sempurna untuk mulai menjadi teladan. Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bukan hanya teladan bagi orang yang sempurna โ€” sebab justru di hadapan para sahabatnya beliau pernah mengakui lupa, pernah menegur, pernah meminta pendapat. Teladan yang bisa ditiru bukan yang tidak pernah salah, melainkan yang jujur memperbaiki diri di depan orang-orang yang belajar kepadanya.

Keempat, sadari bahwa kita sedang mengajar bahkan ketika kita diam. Cara kita menerima kekalahan, cara kita menyebut nama orang yang berbuat salah, dan cara kita bersikap kepada orang yang tidak punya kuasa apa-apa kepada kita โ€” semuanya pelajaran, dan semuanya tercatat di kepala murid.

Penutup

Kalau ada satu kalimat yang paling pantas menggantung di dinding ruang guru, saya rasa bukan soal kualitas pengajaran, melainkan ini: murid belajar dari hidup kita, bukan hanya dari pelajaran kita.

Dan kabar baiknya, inilah satu-satunya hal yang tidak bisa dipalsukan tapi juga tidak menuntut kesempurnaan. Kita tidak diminta menjadi guru yang tanpa cela. Kita hanya diminta tidak menampilkan wajah yang berbeda kepada orang yang sedang belajar mempercayai kita.

Kalau suatu hari kita tidak lagi berdiri di depan kelas โ€” entah karena pensiun, pindah, atau karena dipanggil pulang โ€” yang akan berbicara tentang kita bukan rapor, bukan absensi, dan bukan nilai yang kita berikan. Yang berbicara adalah tabiat yang tertinggal di cara murid kita memperlakukan orang lain. Semoga tabiat itu berasal dari sesuatu yang pernah mereka lihat dari kita, dan semoga Allah menerima semua kelelahan kita sebagai amal.

Bersambung ke bagian berikutnya: apa yang menghadang murid-murid kita di luar ruang kelas.

Bagikan
Fahrizal Mukhdar, guru Bahasa Arab

Fahrizal Mukhdar

Guru Bahasa Arab

Menulis tentang pendidikan, pembelajaran bahasa Arab, dan refleksi kehidupan sekolah โ€” juga mengembangkan Bilarabiya.Online.

Tentang saya โ†’

Suka tulisan ini? Masih ada banyak tulisan lain โ€” dan pembaca boleh ikut berdiskusi di kolom komentar.

Semua tulisan Tentang penulis

Tulisan terkait

Kategori yang sama dengan tulisan ini โ€” Pendidikan

Komentar

Belum ada komentar. Silakan jadi yang pertama.

Tinggalkan komentar

Cukup nama dan komentar โ€” tidak perlu email atau tautan.

Masuk dengan Google supaya komentarmu memakai namamu โ€” atau lanjut tanpa login dengan mengisi nama di bawah.

Tampil setelah saya setujui.

Jangan lewatkan tulisan baru

Sekali tekan, tulisan baru langsung sampai ke HP-mu โ€” tanpa email, tanpa daftar.