Yaman yang Didoakan Nabi
Di negeri yang perangnya membuat seorang anak meninggal setiap sembilan menit, ada kota yang majelis ilmunya tetap menggema. Mengapa Tarim tetap tenang, dan mengapa justru ulama damainya yang paling sering diberi label.
Isi tulisan (6 bagian)
Yaman selalu tampil di berita dengan satu wajah: perang. Dan memang angkanya tidak bisa dibantah. Laporan UNDP tahun 2021 memperkirakan perang yang berlarut sejak 2014 itu sudah menelan 377.000 nyawa sampai akhir tahun itu โ hampir 60 persennya bukan karena peluru, melainkan karena lapar, penyakit, dan rusaknya layanan dasar. Pada tahun yang sama, satu anak di bawah lima tahun meninggal setiap sembilan menit. Kalau perang berlanjut, proyeksi mereka: 1,3 juta nyawa pada 2030.
Dari sudut geopolitik, Yaman memang jadi medan tarik-ulur kekuatan kawasan. Tapi saya tidak ingin menulis tentang peta politik. Ada satu pertanyaan yang lebih mengganggu saya: mengapa negeri yang begini didoakan justru tidak pernah sepi dari badai?
Doa yang Turun dari Lisan Nabi
Jawaban pertama yang saya pegang bukan analisis politik, melainkan sabda yang sudah berdiri berabad-abad sebelum negara-negara modern ini ada. Dari Ibnu Umar radhiyallahu โanhuma, Nabi shallallahu โalaihi wa sallam bersabda:
ุงููููููู ูู ุจูุงุฑููู ููููุง ููู ุดูุงู ูููุงุ ุงููููููู ูู ุจูุงุฑููู ููููุง ููู ููู ูููููุง
"Ya Allah, berkatilah untuk kami negeri Syam kami. Ya Allah, berkatilah untuk kami negeri Yaman kami." (HR al-Bukhari no. 447 dan 7094, dari Ibnu Umar radhiyallahu โanhuma)
Perhatikan: dua negeri itu beliau sebut dengan kata kami โ Syam kami, Yaman kami. Dan tentang penduduknya, beliau bersabda:
ุฃูุชูุงููู ู ุฃููููู ุงููููู ูููุ ููู ู ุฃูุฑูููู ุฃูููุฆูุฏูุฉู ููุฃููููููู ูููููุจูุงุ ุงูุฅููู ูุงูู ููู ูุงูู ููุงููุญูููู ูุฉู ููู ูุงููููุฉู
"Telah datang kepada kalian penduduk Yaman: mereka paling halus hati dan paling lunak qalbu. Iman itu ada pada Yaman, dan hikmah itu ada pada Yaman." (HR al-Bukhari no. 4392 dan Muslim no. 52, dari Abu Hurairah radhiyallahu โanhu)
Keutamaan Yaman bukan narasi buatan manusia. Ia distempel oleh doa dan pujian Rasulullah shallallahu โalaihi wa sallam sendiri. Dan kalau kita perhatikan, yang dijanjikan beliau bukan bebas dari badai โ melainkan keberkahan dan kelembutan hati di dalam badai itu.
Anomali yang Bernama Tarim

Di sinilah anomali yang membuat saya terdiam. Di lembah Hadramaut, lebih dari 800 kilometer dari pusat konflik, ada sebuah kota kecil bernama Tarim. Mahasiswa Indonesia yang kuliah di sana menyebutkan bahwa kota itu nyaris tidak tersentuh perang. Dan di kota itulah, justru di tengah perang berlarut, majelis-majelis ilmu tetap menggema.
Dari Tarim inilah Darul Mustafa berdiri โ dimulai dari majelis di rumah Habib Umar bin Hafiz pada awal 1990-an, lalu resmi dibuka sebagai lembaga pada 1997. Sampai hari ini ia terus melahirkan para penuntut ilmu dari berbagai penjuru dunia. Dan pada 2026, daftar The Muslim 500 menempatkan Habib Umar bin Hafiz sebagai muslim paling berpengaruh ketiga di dunia โ di atas banyak raja dan presiden.
Coba bandingkan dua gambar itu. Di satu sisi: negara yang perangnya membuat anak mati setiap sembilan menit. Di sisi lain, di dalam negara yang sama: kota yang majelisnya tetap penuh. Yang membedakan bukan letak geografisnya semata. Ada sesuatu yang lain yang bekerja.
Saya kembali ke dua hadis di atas. Masyarakat Tarim tidak larut dalam kepanikan justru karena yang mereka kerjakan sehari-hari adalah isi kedua hadis itu: iman dan hikmah โ pendalaman agama dan pendidikan karakter. Ketenangan itu bukan ketiadaan badai; ia daya tahan yang dibangun bertahun-tahun sebelum badai datang.
Dakwah yang Menyeberangi Lautan
Keutamaan Yaman tidak berhenti pada batas geografisnya. Dari lembah-lembah Hadramaut inilah, sejak berabad-abad lalu, gelombang dai berangkat ke penjuru dunia. Salah satu jalurnya menembus sampai ke Nusantara: sebagian besar Wali Songo dan leluhur para habib kita menelusuri silsilahnya ke Hadramaut. Islam masuk ke tanah kita lewat jalur dakwah, akhlak, dan perdagangan โ bukan lewat pedang.
Ciri dakwah dari lembah ini juga konsisten sepanjang sejarah: tidak mengusung agenda politik praktis, fokus pada penyucian jiwa, dan menanamkan cinta kepada Rasulullah shallallahu โalaihi wa sallam lewat kajian sirah dan shalawat. Pola yang sama yang hari ini dipraktikkan para alumni Tarim di berbagai negara โ dari Asia Tenggara sampai Eropa dan Amerika.
Yang Aneh: Ulama Damai yang Diberi Label
Nah, sekarang bagian yang tidak nyaman ini saya sampaikan dengan hati-hati, sebab di sinilah letak ujian kejujuran kita.
Fenomenanya nyata dan tidak bisa dibantah: belakangan kita menyaksikan maraknya serangan, fitnah, dan label โ ahli bidโah, penyebar khurafat, sampai tuduhan sesat โ yang dilontarkan sekelompok orang kepada ulama-ulama Yaman, dan salah satu yang paling sering menjadi sasaran adalah Al-Habib Umar bin Hafiz. Orang yang majelisnya mengajarkan shalawat itu dituduh mengajarkan kesesatan. Anak-anak muda yang baru pulang menuntut ilmu dari Tarim disuruh orang tuanya waspada, katanya nanti dibawa ke arah yang salah.
Kalau kita lacak akar polemiknya, arus ini punya sejarah panjang. Gerakan Salafi Yaman yang dirintis Muqbil al-Wadiโi sejak awal 1980-an โ beliau alumni institusi keagamaan Saudi โ memang dikenal keras menyerang tasawuf dan tradisi ulama Hadramaut. Dan ke Indonesia, arus pemikiran transnasional yang sejenis datang lebih masif lagi: sejarawan kita Noorhaidi Hasan mencatatnya dalam tulisannya tentang ekspansi Saudi, kampanye Salafi, dan โIslam yang di-Arab-kanโ di Indonesia. Ini bukan konspirasi yang saya karang; ini tercatat dalam kajian akademik.
Begitu juga di level negara: ketika Saudi melancarkan Operasi Decisive Storm di Yaman pada 2015, Dewan Ulama Senior Saudi โ lembaga fatwa resmi negara itu โ mengeluarkan fatwa yang menyebut intervensi militer terhadap sesama Muslim itu sebagai jihad di jalan Allah. Sebuah kajian akademik menelaah fatwa itu dan menyimpulkan konsep jihadnya dibentuk ulang agar cocok dengan kepentingan negara. Fatwa agama yang lahir dari kepentingan geopolitik.
Maka inilah tesis saya โ dan saya sampaikan terus terang sebagai tafsir penulis, bukan fatwa: dua gerakan ini berjalan seirama. Yang satu meruntuhkan bangunan secara fisik dari udara; yang satu meruntuhkan otoritas ulama secara ideologis dari mimbar dan media sosial. Keduanya mengenai Yaman, dan keduanya beririsan dengan arus yang sama. Saya tidak mengklaim ada satu komando yang mengendalikan semuanya โ bukti untuk itu belum saya temukan, dan saya tidak mau menulis melebihi bukti. Yang saya lihat: arah anginnya sama, dan yang kena angin itu para ulama yang mengajarkan cinta.
Mengapa Cinta Kepada Nabi yang Paling Ditakuti
Pertanyaan terakhir: mengapa justru dakwah yang paling lembut ini yang paling gencar digembosi?
Saya kira jawabannya ada pada sifat perekatnya. Cinta kepada Rasulullah shallallahu โalaihi wa sallam adalah satu-satunya fondasi yang mampu menyatukan umat lintas organisasi, lintas golongan, lintas bangsa. Umat yang bersatu di atas mahabbah, dengan sanad keilmuan yang tersambung sampai kepada Nabi, adalah umat yang tidak mudah dipecah dan tidak mudah dikendalikan. Maka sekat-sekat yang paling menguntungkan para pemecah belah adalah sekat kecurigaan: curiga kepada habib, curiga kepada tasawuf, curiga kepada shalawat. Selama umat sibuk saling curiga, mereka tidak sempat bersatu.
Penutup
Perang bisa menghancurkan bangunan di Yaman, dan propaganda bisa menyesatkan sebagian orang. Tapi doa Rasulullah shallallahu โalaihi wa sallam untuk keberkahan Yaman tidak akan pernah bisa dibatalkan oleh manusia โ dan sejarah sudah membuktikannya berulang kali.
Bagi kita di Indonesia, saya kira ada dua hal yang perlu kita pegang. Pertama, baca setiap narasi โ termasuk narasi keagamaan โ dengan hati yang cerdas: siapa yang diuntungkan kalau kita saling curiga? Kedua, dan ini yang paling penting: jangan biarkan pohon yang ditanam para wali kita dari lembah Yaman itu rontok di tangan generasi ini. Menyanjungnya bukan dengan hafalan, melainkan dengan menghidupkan kembali yang mereka kerjakan: sunnah, sirah, dan cinta kepada Nabi Muhammad shallallahu โalaihi wa sallam.
Semoga Allah memberkati negeri Yaman kami, sebagaimana doa Nabi-Nya.
Fahrizal Mukhdar
Guru Bahasa Arab
Menulis tentang pendidikan, pembelajaran bahasa Arab, dan refleksi kehidupan sekolah โ juga mengembangkan Bilarabiya.Online.
Suka tulisan ini? Masih ada banyak tulisan lain โ dan pembaca boleh ikut berdiskusi di kolom komentar.
Semua tulisan Tentang penulisTulisan terkait
Kategori yang sama dengan tulisan ini โ Opini
Terbaru
Dua tulisan terakhir di situs ini
Komentar
Belum ada komentar. Silakan jadi yang pertama.
Jangan lewatkan tulisan baru
Sekali tekan, tulisan baru langsung sampai ke HP-mu โ tanpa email, tanpa daftar.