Fahrizal Mukhdar
Fahrizal Mukhdar
Pendidikan

Tiga Hal yang Menentukan Apakah Bahasa Arab Masuk ke Kepala Murid

Fahrizal Mukhdar, guru Bahasa Arab Fahrizal Mukhdar · Guru Bahasa Arab 20 September 2026 ± 7 menit baca
Tiga Hal yang Menentukan Apakah Bahasa Arab Masuk ke Kepala Murid

Anak-anak aktif dan serius belajar, tapi hasilnya nihil. Kita sudah berbusa menjelaskan, minggu depan mereka lupa. Sampai saya menyaksikan anak saya sendiri fasih berbahasa Banjar yang tidak pernah saya ajarkan — dan di situ saya sadar apa yang hilang dari kelas bahasa Arab saya.

Isi tulisan (7 bagian)
  1. Jadi, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
  2. Satu: Bahasa yang Bisa Mereka Pahami
  3. Dua: Hati yang Sedang Tidak Takut
  4. Tiga: Bahasa yang Benar-Benar Dipakai
  5. Membaca Kelas Kita Sendiri
  6. Kalau Ingin Dibantu Alat
  7. Jadi, Apakah Mimpi Itu Utopis?

Pernahkah asatidzah, saat mengajar bahasa Arab, menyaksikan anak-anak cukup aktif dan serius belajarnya? Mencatat, mengangguk, bertanya, mengerjakan latihan. Tapi… hasilnya tetap nol. Nihil.

Saya sudah berbusa-busa menjelaskan. Di pertemuan itu mereka paham, bahkan bisa mengulang contoh yang saya berikan. Lalu pertemuan minggu depan? Lupa. Hilang seperti menguap begitu saja.

Jujur saja, ini sering sekali saya hadapi. Dan saya bingung harus bagaimana. Kok rasanya sia-sia ya, menjelaskan sampai mulut berbusa, tapi akhirnya lewat begitu saja tanpa bekas.

Saya jadi bertanya-tanya: apa harus banget ya sistem sekolah itu jadi seperti Gontor — wajib berbahasa, dan dapat sanksi kalau tidak berbahasa? Terus terang saya kurang sejalan dengan prinsip itu. Bukan karena cara itu tidak berhasil; ia jelas berhasil di tempat yang menjalankannya sungguh-sungguh. Tapi kalau sekolahnya tidak punya sumber daya guru yang cukup untuk mewujudkannya, bagaimana?

Apakah mengajar bahasa Arab dan mendambakan murid jadi jago berbahasa Arab di luar Gontor itu cuma mimpi yang utopis?

Ini selalu membuat saya galau. Sampai suatu hari saya menyaksikan anak saya bermain di depan rumah, dan ia berbicara dengan bahasa daerah. Bahasa Banjar. Lancar, wajar, tanpa berpikir.

Saya termenung. Anak ini di rumah dilatih berbicara memakai bahasa Indonesia sejak kecil. Saya tidak pernah mengajaknya berbicara bahasa Banjar, tidak pernah memberinya kosakata, apalagi menyuruhnya menghafal. Tapi kok bisa?

Di situ titik balik kesadaran saya. Bahasa bukan matematika. Ia tidak harus dibuka dengan nalar logika yang kaku dan segala rumusnya. Bahasa seharusnya diterima seperti apa adanya, sesuai kebutuhan penggunaannya dalam interaksi dan kehidupan sosial sehari-hari.

Bukankah itu yang tidak ada di kelas bahasa Arab saya?

Satu contoh kecil lagi. Ketika murid mau izin ke toilet, mereka bisa, kok, memakai bahasa Arab. أَسْتَأْذِنُ إِلَى الْمِرْحَاضِ — “Saya minta izin ke toilet.” Awalnya saya beri contoh sekali, lalu saya latih setiap kali ada yang mau izin. Sampai akhirnya mereka mengucapkannya sendiri, tanpa saya suruh, tanpa mereka hafal-matikan lebih dahulu. Kalimat yang sama juga sudah pernah saya singgung di tulisan Bahasa Arab Bukan untuk Dijelaskan, Tapi untuk Dihadirkan, tapi di sini saya ingin lebih dalam.

Jadi, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Bukan karena murid malas. Bukan karena bahasa Arabnya terlalu berat. Dan bukan karena kita kurang berbusa menjelaskan. Yang terjadi adalah: mereka mengingat bahasa yang mereka pakai, dan melupakan bahasa yang kita jelaskan.

Anak saya tidak pernah les bahasa Banjar, tapi bisa. Murid saya dikasih contoh satu kali soal izin ke toilet, lalu bisa. Keduanya tidak punya kesamaan pada hafalan — kesamaannya ada pada pemakaian: bahasa itu mereka butuhkan, mereka dengar berkali-kali dalam situasi sungguhan, dan mereka harus memakainya untuk mendapat sesuatu.

Dalam kajian pemerolehan bahasa, ada tiga hal yang menentukan apakah bahasa benar-benar masuk atau hanya lewat. Setelah bertahun-tahun galau, saya kira inilah tiga hal itu.

Satu: Bahasa yang Bisa Mereka Pahami

Istilahnya input yang terpahami — yang dipopulerkan Stephen Krashen. Maksudnya sederhana: bahasa masuk kalau yang mereka dengar atau baca berada sedikit di atas kemampuan yang sudah mereka punya. Tidak jauh di atas, tidak juga sama persis.

Di sinilah kesalahan saya yang paling sering: saya menjelaskan dengan bahasa yang lebih sulit daripada materinya. Saya bicara panjang lebar dalam bahasa Arab, sementara murid belum lancar mengenali kata-katanya. Bagi saya kalimat itu jelas. Bagi mereka, ia hanya bunyi yang mengalir lewat. Pantas saja menguap.

Jadi memperbaikinya bukan dengan mengurangi isi, tapi memperbaiki jalan masuknya: kalimat pendek, konteks yang jelas, bantuan gambar dan peragaan, dan pengulangan yang bervariasi. Kalau murid tidak paham, jangan buru-buru menyimpulkan mereka malas.

Dua: Hati yang Sedang Tidak Takut

Yang kedua juga dari Krashen, namanya penyaring afektif. Gambarannya begini: begitu seseorang cemas, takut salah, malu, atau bosan, seolah ada penyaring yang menutup pintu masuk. Materinya tersedia, gurunya mengajar, telinganya mendengar — tapi tidak ada yang nyambung.

Saya pernah punya kelas yang hening setiap kali saya bertanya. Dulu saya simpulkan mereka tidak belajar. Ternyata mereka tahu jawabannya, hanya tidak berani salah di depan teman-temannya. Dan yang paling saya sesali: sebagian ketidakberanian itu lahir dari cara saya mengoreksi. Koreksi bernada tinggi di depan kelas meninggalkan bekas lebih dalam daripada yang saya niatkan — setelah itu, murid tersebut tidak lagi mengangkat tangan sepanjang semester.

Yang bisa kita mulai tidak menuntut apa pun. Mulailah dari pertanyaan yang hampir pasti bisa dijawab murid yang paling pendiam. Koreksi dengan suara lembut, sebisanya dekat ke pribadinya, bukan ke tengah kelas. Sebut dulu keberaniannya menjawab sebelum menilai benar-salahnya. Dan satu aturan sederhana yang sepenuhnya ada di tangan kita: di kelas ini, tidak ada yang ditertawakan karena berusaha berbicara.

Tiga: Bahasa yang Benar-Benar Dipakai

Yang ketiga datang dari teori berbeda, karena di sini Krashen memang tidak menutup ceritanya. Merrill Swain pada 1985 mengajukan gagasan output yang terpahami: kemampuan bahasa justru tumbuh ketika murid dipaksa menghasilkan bahasa yang bisa dipahami orang lain. Michael Long menambahkan bahwa bahasa tumbuh dalam percakapan nyata, tempat dua orang saling menyesuaikan sampai maksud mereka tembus.

Inilah yang paling kentara dari dua pengalaman saya tadi. Anak saya bisa bahasa Banjar karena ia harus bicara untuk ikut bermain. Murid saya bisa memakai kalimat izin ke toilet karena kalimat itu berguna: tanpanya, ia tidak dapat izin. Bahasa yang dipakai untuk mencapai sesuatu akan selalu menang melawan bahasa yang hanya dijelaskan.

Maka bahasa di kelas perlu dipakai untuk benar-benar melakukan sesuatu: meminta izin, menanyakan arah, menawarkan, berjanji, memesan, memberi perintah kepada temannya. Di situ mereka sedang tidak menghafal bahasa, tapi memakainya. Dan justru di situlah kesalahan mereka menandai bagian yang sedang tumbuh — bukan bukti kegagalan.

Membaca Kelas Kita Sendiri

Kalau boleh saya bagikan cara memeriksa, ketiga hal ini bisa dipakai untuk memahami kelas kita tanpa alat apa pun.

Kalau murid tidak paham pertanyaan kita, masalahnya di yang pertama: jalan masuknya terlalu tinggi. Kalau murid paham tapi tidak berani menjawab, masalahnya di yang kedua: hatinya sedang waspada. Kalau murid lancar di latihan tapi bisu begitu situasinya nyata — misalnya ada tamu, atau harus bertanya sesuatu dengan bahasa Arab — masalahnya di yang ketiga: bahasa itu belum pernah benar-benar dipakai.

Perhatikan bahwa tiga keadaan itu terlihat sama dari depan kelas: murid diam. Tapi obatnya berbeda. Dan selama ini, banyak dari kita — termasuk saya — menanggapinya dengan cara yang sama: menambah penjelasan. Padahal penjelasan itu justru bagian yang sudah cukup banyak.

Kalau Ingin Dibantu Alat

Karena itulah saya menghadirkan Bilarabiya.online. Niatnya satu: membantu guru mengajarkan ungkapan bahasa Arab yang secara konsep memang dibutuhkan murid, lalu membuat ungkapan itu berulang-ulang disimak dan dilakukan dalam berbagai format latihan — bukan dijelaskan sekali lalu ditinggalkan.

Di dalamnya, tiga hal yang kita bicarakan di atas saya coba terjemahkan menjadi rancangan. Pengulangan yang cukup supaya ungkapan itu melekat, bukan cuma lewat. Suasana latihan yang menurunkan penyaring afektif — murid berlatih sendiri, boleh keliru berkali-kali, tanpa ada yang menertawakan. Dan kesempatan mempraktikkan langsung, sebab salah saat berlatih adalah bagian dari cara belajar, bukan aib yang harus disembunyikan di depan kelas.

Karena itu ia bukan sekadar kumpulan soal, melainkan saya susun sebagai sistem pembangun bahan ajar dengan gamifikasi — dibangun di atas prinsip pemerolehan bahasa yang sedang kita bicarakan ini. Dan seperti hal-hal lain di tulisan ini, saya perlu mengatakannya dengan jelas: ia bukan pengganti guru. Yang menghadirkan bahasa tetap guru; alat hanya menjaga agar bahasa itu terus terpakai di antara pertemuan-pertemuan kita.

Jadi, Apakah Mimpi Itu Utopis?

Kembali ke kegalauan saya di awal: apakah menginginkan murid jago berbahasa Arab tanpa sistem wajib-berbahasa seperti di pesantren tertentu itu cuma angan-angan?

Setelah saya pikirkan, bukan. Tapi syaratnya bukan fasilitas besar atau jumlah jam yang tak terbatas. Syaratnya adalah tiga hal yang tadi: bahasa yang bisa mereka pahami, suasana yang tidak menakutkan, dan kesempatan memakai bahasa itu untuk keperluan yang nyata — dimulai dari hal-hal sekecil izin ke toilet.

Saya tidak lagi menuntut kelas saya sehebat pesantren bergengsi. Saya hanya berusaha memastikan setiap hari ada bahasa yang hadir, dipahami, dan dipakai. Perlahan hasilnya mulai terasa — tidak seperti keajaiban, tapi nyata.

Yang berubah dari cara mengajar saya bukan jumlah materinya. Yang berubah adalah apa yang setiap hari saya hadirkan dan apa yang saya minta murid pakai.

Bagikan
Fahrizal Mukhdar, guru Bahasa Arab

Fahrizal Mukhdar

Guru Bahasa Arab

Menulis tentang pendidikan, pembelajaran bahasa Arab, dan refleksi kehidupan sekolah — juga mengembangkan Bilarabiya.Online.

Tentang saya →

Suka tulisan ini? Masih ada banyak tulisan lain — dan pembaca boleh ikut berdiskusi di kolom komentar.

Semua tulisan Tentang penulis

Tulisan terkait

Kategori yang sama dengan tulisan ini — Pendidikan

Komentar

Belum ada komentar. Silakan jadi yang pertama.

Tinggalkan komentar

Cukup nama dan komentar — tidak perlu email atau tautan.

Tampil setelah saya setujui.