Opini

Hari Kartini: Antara Pencerahan Akal atau Jeratan Eksploitasi Kapitalisme?

​Setiap tanggal 21 April, ruang publik kita dipenuhi dengan kebaya, sanggul, dan narasi tentang “kebebasan perempuan”. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya secara jujur: Benarkah perempuan hari ini sudah benar-benar merdeka, atau kita hanya sekadar berganti “tuan” dari pingitan adat ke pingitan korporat?

​Jika kita membedah sejarah secara sinkronis, ada benang merah yang jarang terungkap antara gerakan emansipasi global dengan kebutuhan mesin industri kapitalisme.

​1. Emansipasi: Saat Perempuan Menjadi “Sekrup” Industri

​Sejarah di Barat mencatat bahwa pergolakan kebebasan perempuan masif terjadi pasca Perang Dunia II. Saat laki-laki dikirim ke medan perang, industri manufaktur hampir lumpuh. Di sinilah narasi “kebebasan bekerja” dipompa secara besar-besaran.

​Bukan karena industri peduli pada hak perempuan, melainkan karena mereka butuh tenaga kerja baru yang masif dan (saat itu) bisa dibayar lebih murah. Perempuan ditarik keluar dari rumah bukan sekadar untuk cerdas, tapi untuk menjadi unit produksi dan sekaligus target pasar (konsumen) baru bagi produk kosmetik hingga gaya hidup. Inilah titik di mana perempuan sering kali hanya dijadikan objek bisnis di balik jubah kebebasan.

​2. Kartini dan Visi “Iqra” yang Terdistorsi

​Kartini di Indonesia memiliki akar perjuangan yang berbeda. Semangat intinya adalah Pendidikan (Enlightenment). Beliau gelisah melihat kebodohan dan adat yang membelenggu potensi akal perempuan. Bagi Kartini, perempuan harus cerdas karena mereka adalah pendidik pertama bagi anak-anaknya—pendidik bagi sebuah bangsa.

​Namun, kapitalisme hari ini sering kali membelokkan visi Kartini. Merdeka hari ini sering diartikan sesempit “memiliki karir dan gaji”. Akibatnya, banyak perempuan terjebak dalam eksploitasi beban ganda: diperas oleh target perusahaan di kantor, namun kehilangan waktu fitrahnya untuk mendidik peradaban di rumah.

​3. Kita Tidak Pernah “Lapar” Akan Teladan

​Sebagai muslim, kita sebenarnya tidak perlu repot-repot mengimpor standar kebebasan dari Barat yang sering kali semu. Jauh sebelum revolusi industri, Islam telah menempatkan perempuan pada posisi yang sangat strategis dan terhormat.

  • Sayyidah Khadijah r.a.: Beliau adalah teladan kemandirian ekonomi. Beliau bukan buruh yang diperas sistem, melainkan seorang Business Owner visioner. Kekayaannya tidak digunakan untuk konsumsi hedonis, melainkan menjadi pilar utama tegaknya dakwah Nabi SAW.
  • Sayyidah Aisyah r.a.: Beliau adalah mercusuar intelektual. Kecerdasannya menjadikannya rujukan utama ilmu pengetahuan dan hukum bagi kaum muslimin. Beliau membuktikan bahwa dalam Islam, tidak ada batas bagi perempuan untuk menjadi pemimpin pemikiran.

​4. Menuju Emansipasi yang Bermartabat

​Memperingati Hari Kartini seharusnya bukan sekadar seremoni pakaian adat atau diskon belanja “Kartini Day”. Momentum ini harus menjadi titik balik untuk mengoreksi arah hidup kita:

  1. Cerdas karena Perintah Agama: Menuntut ilmu adalah kewajiban, agar perempuan tidak mudah ditipu oleh sistem yang eksploitatif.
  2. Berdaya untuk Memberi Dampak: Seperti Khadijah, kemandirian ekonomi (karir/bisnis) seharusnya menjadi sarana untuk mendukung kebaikan dan dakwah, bukan sekadar menjadi hamba konsumerisme.
  3. Menjaga Fitrah: Kebebasan sejati adalah ketika perempuan berdaulat atas dirinya sendiri—bebas dari tekanan patriarki yang abuse, namun juga tidak terjebak menjadi “robot” produksi kapitalisme yang kehilangan jati dirinya.

Kesimpulan

Perempuan yang mulia adalah perempuan yang cerdas akalnya, mandiri jiwanya, dan teguh aqidahnya. Mari kita kembalikan semangat Kartini ke jalur yang benar: Menjadi perempuan yang berpendidikan tinggi untuk melahirkan generasi yang lebih beradab, bukan sekadar menjadi tambahan angka dalam statistik tenaga kerja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *