Opini

Guru Profesional, Tapi Apresiasi Negara dan Masyarakat Masih Rendah

Di tengah tuntutan mutu pendidikan yang terus meningkat, ironi besar justru masih kita saksikan: guru dituntut profesional, tetapi belum diperlakukan secara profesional—baik oleh negara maupun masyarakat.

Guru diwajibkan memenuhi standar kompetensi, mengikuti sertifikasi, pelatihan berkelanjutan, dan evaluasi kinerja. Namun pada saat yang sama, cara negara menghitung dan menghargai kerja guru masih sangat sempit, seolah-olah tugas guru hanya berdiri di depan kelas dan berbicara selama 24 jam pelajaran (JP) per minggu.

Padahal, realitas kerja guru jauh lebih kompleks dari sekadar jam tatap muka.

Guru: Beban Harian Paling Konsisten, Kuasa Paling Kecil

Guru bekerja setiap hari, dengan ritme yang nyaris tidak pernah longgar. Mereka tidak hanya mengajar, tetapi juga:

  • Menyusun perencanaan pembelajaran (modul ajar/RPP)
  • Menyiapkan bahan dan media pembelajaran
  • Menyusun dan menerapkan evaluasi
  • Mengoreksi ratusan tugas dan hasil asesmen
  • Menganalisis capaian belajar siswa
  • Menyusun tindak lanjut pembelajaran
  • Mengelola administrasi sekolah
  • Membina karakter, disiplin, dan nilai moral peserta didik
  • Menghadapi dinamika psikologis siswa
  • Berkomunikasi intens dengan orang tua dan masyarakat

Berbeda dengan profesi lain yang output-nya bisa diukur dengan angka, laporan, atau target produksi, output guru adalah manusia—yang dampaknya baru terlihat bertahun-tahun kemudian.

Namun ironisnya, beban kerja yang kompleks, intelektual, dan emosional ini nyaris tidak dihargai secara proporsional.

Guru Bukan “Sekadar Teriak di Depan Kelas”

Masih kuat anggapan bahwa guru adalah “orang yang mengajar di kelas”. Pandangan ini keliru dan merendahkan profesi guru.

Faktanya, guru profesional bekerja dalam satu siklus keilmuan pendidikan yang utuh, meliputi:

  • Keahlian mengajar (professional teaching skill)
    Menguasai materi, metode, diferensiasi, dan manajemen kelas.
  • Perencanaan pembelajaran
    Merancang pembelajaran berbasis capaian, karakter siswa, dan konteks.
  • Evaluasi dan analisis pembelajaran
    Bukan hanya memberi nilai, tetapi membaca data belajar dan memperbaiki proses.
  • Pengembangan diri dan karya profesional
    Pelatihan, inovasi, modul ajar, praktik baik, dan karya ilmiah.
  • Pembinaan dan pendampingan
    Kerja karakter, etika, dan emosi yang tidak tercatat dalam angka JP.

Semua ini adalah kerja profesional, bukan kerja sambilan. Namun sayangnya, hampir seluruhnya tidak dihitung dan tidak dihargai secara rinci oleh sistem.

24 JP: Administrasi, Bukan Ukuran Profesionalisme

Masalah mendasar ada pada cara negara menilai kerja guru:
👉 yang dihitung adalah jam, bukan kualitas dan kompleksitas kerja.

Akibatnya:

  • Guru yang serius merencanakan, mengevaluasi, dan mengembangkan pembelajaran dihargai sama dengan guru yang sekadar hadir mengajar.
  • Masa kerja, pengalaman, dan karya profesional kurang berdampak signifikan pada kesejahteraan.
  • Profesionalisme menjadi slogan, bukan sistem.

Bandingkan dengan:

  • Dosen, yang dinilai melalui SKS, penelitian, publikasi, dan pengabdian.
  • Manajer, yang dinilai dari kinerja, target, dan hasil kerja.

Guru seharusnya juga dinilai secara profesional, antara lain dari:

  • Kualitas mengajar (observasi berbasis rubrik)
  • Masa kerja dan pengalaman nyata
  • Karya dan inovasi pembelajaran
  • Perencanaan dan pengembangan kurikulum
  • Evaluasi dan dampak pembelajaran
  • Pembinaan karakter dan iklim kelas

Semua itu harus dihargai secara nyata, bukan diringkas menjadi angka 24 JP.

Dibandingkan Profesi Lain: Ketimpangan yang Nyata

Jika kita bandingkan secara objektif:

  • Dosen memiliki beban intelektual tinggi, namun ritme kerja lebih fleksibel dan pendapatan relatif lebih baik, terutama pada jenjang senior.
  • Lurah dan kepala desa mengelola administrasi dan masyarakat dengan risiko politik dan hukum tertentu, tetapi memiliki otoritas dan posisi tawar yang jelas.
  • Manajer perkebunan sawit menghadapi tekanan target dan risiko karier, namun memperoleh kompensasi finansial yang tinggi.

Sementara itu:

  • Guru honorer masih banyak yang digaji di bawah standar kelayakan hidup.
  • Guru ASN memiliki stabilitas, tetapi pendapatannya tertinggal dibanding kompleksitas dan intensitas beban kerjanya.

Padahal, tidak ada satu pun dari profesi tersebut yang bisa lahir tanpa guru.

Guru Profesional, Tapi Diperlakukan Seperti Pekerja Sosial

Negara menuntut guru untuk:

  • Bersertifikat
  • Terus meningkatkan kompetensi
  • Menguasai pedagogik, psikologi, dan teknologi
  • Menjadi teladan moral
  • Menjaga etika publik

Namun dalam praktik:

  • Guru mudah disalahkan
  • Rentan dikriminalisasi
  • Minim perlindungan hukum
  • Kurang dilibatkan dalam kebijakan pendidikan
  • Masih dipersepsikan sebagai “pekerja pengabdian”, bukan profesional

Ini menunjukkan satu hal yang jelas:
👉 keseriusan negara dan masyarakat dalam mengapresiasi guru masih sangat rendah.

Profesionalisme Tidak Bisa Hidup dari Idealisme Saja

Narasi “ikhlas”, “mengabdi”, dan “demi anak bangsa” sering dibebankan pada guru. Narasi ini terdengar mulia, tetapi berbahaya jika digunakan untuk:

  • Mengabaikan kesejahteraan
  • Menormalisasi ketimpangan
  • Menunda keadilan struktural

Profesionalisme tidak bisa hidup dari idealisme semata. Ia membutuhkan:

  • Sistem penilaian yang adil
  • Penghargaan yang layak
  • Perlindungan hukum
  • Kejelasan karier
  • Kepercayaan publik

Tanpa itu, yang terjadi bukan penguatan pendidikan, tetapi keletihan sistemik para guru.

Penutup: Mengaku Ingin Pendidikan Maju, Tapi Lalai pada Gurunya

Kita sering berbicara tentang bonus demografi, SDM unggul, dan Indonesia Emas. Namun semua itu akan tinggal slogan jika guru—sebagai fondasi utama peradaban—masih diperlakukan setengah hati.

Guru adalah arsitek pembelajaran, bukan pengeras suara kurikulum.

Jika negara sungguh-sungguh ingin pendidikan bermutu, maka:

  • Ukur guru dari kualitas kerja profesionalnya
  • Hargai guru dengan sistem penilaian yang rinci dan adil
  • Lepaskan guru dari kungkungan angka 24 JP semata

Karena masa depan bangsa sedang duduk setiap hari di depan guru, dan guru tidak boleh dibiarkan berjuang sendirian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *