Pendidikan

Matematika Jeblok? Tentu Saja, Pak Menteri!

(Sebuah ironi dari ruang kelas yang mungkin tak pernah sempat dilihat dari Jakarta)

Belakangan ini pernyataan Menteri Pendidikan—Abdul Mu’ti—soal nilai Matematika Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang katanya “jeblok” ramai dibahas di media. Dari KlikPendidikan, Pojoksatu, sampai Antara dan Kompas, semua mengulang narasi yang sama: hasil TKA rendah, 89,66% peserta dapat skor di bawah 50, dan ini dianggap sebagai sinyal bahwa pembelajaran matematika kita perlu “ditransformasi”. Dirjen GTK, Nunuk Suryani, bahkan menambahkan bahwa cara mengajar guru harus berubah, buku teksnya kurang menantang, metode mengajarnya belum membuat siswa penasaran, dan seterusnya.

Dan—seperti biasa—saya hanya bisa tersenyum miris membaca semua itu.

Bukan karena saya tidak peduli. Justru karena saya tahu betul di lapangan kondisinya jauh lebih kompleks dari kalimat-kalimat manis para pejabat itu.

Sebagai guru, saya saksinya langsung.

Saya mengajar SMA. Dan saya sering mendengar curhatan dari guru mapel Matematika seperti ini:
“Berat pak ngajarin anak-anak matematika, mereka ini dasar-dasar matematika aja gak bisa.”

Yup benar banget! Di lapangan inilah faktanya!

KABATAKU—Kali, Bagi, Tambah, Kurang—yang seharusnya menjadi refleks otomatis anak SMP pun, banyak yang belum menguasai.
Perkalian sederhana 7×8 masih salah.
Pembagian 84÷7 masih bingung.
Tambah-kurang pecahan? Jangan dulu.
Per-peran? Stigma mimpi buruk.
Desimal? Baru lihat koma saja sudah panik.

Jadi kalau ada yang bertanya: “Kenapa sih matematika SMA terasa begitu sulit?”

Jawabannya sederhana: karena matematika SD saja mereka belum kuat.

Ini bukan asumsi. Ini fakta yang saya lihat, saya dengar, dan saya hadapi setiap hari di kelas. Dan lucunya, angka-angka TKA nasional baru sekarang membuat orang-orang di atas tersentak, seolah baru tahu bahwa pondasinya memang keropos.

Sebagai kepala sekolah, saya lebih sering geleng-geleng kepala.

Setiap tahun kami menerima siswa baru. Dan sebagai standar sekolah, kami lakukan tes diagnostik untuk mengetahui kemampuan awal mereka. Hasilnya? Jujur saja: kaget.

Mayoritas siswa tidak bisa mengerjakan soal matematika dasar yang mestinya sudah diselesaikan di SD.
Akhirnya, kami harus menyediakan 2 jam pelajaran per pekan—iya, dua jam!—khusus untuk matematika matrikulasi.

Isinya?
Materi SD.
Benar-benar materi SD.

Mulai dari operasi bilangan, pecahan dasar, perbandingan, sampai logika paling sederhana. Kami bangun ulang semuanya dari nol, karena kalau tidak begitu, mereka tidak akan bisa mengikuti pembelajaran SMA yang sifatnya konsep lanjut.

Saya pernah berpikir:
“Kalau pondasi dasar saja belum selesai, bagaimana mungkin langsung bicara trigonometri, peluang, atau fungsi kuadrat?”

Dan sekarang muncul pertanyaan yang lebih besar:

Kalau matematika dasar saja belum kuasai, bagaimana mau diajak masuk STEM? PREET!!!

STEM? Iya bagus. Tapi di mana pijakannya?

Abdul Mu’ti dalam beberapa pemberitaan mengusulkan agar pembelajaran matematika diarahkan ke STEM—Sains, Teknologi, Engineering, dan Matematika. Katanya, supaya siswa lebih tertarik, lebih ingin tahu, lebih tertantang.

Saya tidak anti STEM. Konsepnya sangat baik. Ilmiahnya kuat. Jangka panjangnya pun ideal.

Tapi STEM adalah bangunan lantai tiga.

KABATAKU adalah pondasi tanahnya.

Jika pondasi kosong, mau segagah apa pun desain bangunannya, tetap akan roboh.

Saya sering membayangkan:
Bagaimana mungkin siswa yang perkalian dasar saja bingung, disuruh membuat prototipe jembatan mini berbasis engineering?
Bagaimana yang tambah-kurang pecahan masih salah, diminta mengerjakan proyek berbasis data dan modeling?
Bagaimana yang desimal saja belum kuat, diminta programming Arduino?

Tanpa kemampuan numerasi dasar, proyek STEM hanya akan berubah menjadi prakarya tempel-menempel, bukan pembelajaran lintas disiplin.

Dan ini bukan kesalahan siswa.
Bukan juga sepenuhnya kesalahan guru.

Ini adalah akumulasi dari:

  • kurikulum yang berubah terlalu cepat,
  • learning loss bertahun-tahun,
  • naik kelas otomatis,
  • beban administrasi guru yang memakan jam latihan numerasi,
  • serta kurangnya intervensi sistematis di jenjang dasar.

Kalau sudah begini, mengusulkan STEM sebagai solusi untuk nilai TKA yang jeblok rasanya… ya begitulah. Ironis.

Masalahnya bukan “cara mengajar kurang menarik”. Masalahnya jauh sebelum itu.

Ketika Menteri bilang, “bukan muridnya goblok”, tapi pengajarannya kurang menarik, jujur saya merasa seperti ditampar pelan.

Kami yang di lapangan sudah mati-matian mengajar, remedial, tambahan jam, matrikulasi, tugas proyek, kuis harian, modul belajar, sampai drilling numerasi.

Tapi tetap saja, kemampuan dasarnya tidak bisa diakselerasi dalam hitungan bulan.

Kita tidak sedang memperbaiki teknik. Kita sedang memperbaiki fondasi yang hilang.

Kalau negara mau serius memperbaiki numerasi, arah kebijakannya harus fokus pada:

  • memperkuat pembelajaran dasar SD—bukan langsung lompat STEM,
  • menata ulang asesmen diagnostik,
  • memberikan jam intervensi numerasi yang struktural,
  • dan membantu guru agar waktu mereka tidak habis untuk laporan administratif.

Karena faktanya, anak-anak kita tidak sedang kekurangan kreativitas atau rasa ingin tahu. Mereka sedang kekurangan pondasi.

Dan pondasi tidak bisa dibangun dengan jargon.

Jadi kalau ditanya: “Apakah mereka siap STEM?”

Jawaban jujurnya:

Belum. Jangankan STEM, KABATAKU saja masih harus dikejar.

TKA bukan alarm bahwa kita butuh pembelajaran canggih.
TKA adalah alarm keras bahwa pondasi numerasi kita sedang gawat darurat.
Dan guru sudah bekerja di ruang IGD itu setiap hari.

Saya hanya berharap, para pejabat pendidikan melihat realita ini sebagaimana adanya, bukan dari kacamata teori atau presentasi konsultan. Karena masalah numerasi tidak akan selesai dengan rapat-rapat berjudul besar.

Masalah ini selesai ketika kita kembali ke dasar.
Ke angka-angka sederhana yang dulu kita hafalkan tanpa beban.
Ke operasi-operasi yang jadi pijakan semua ilmu.

Dan itu hanya bisa dibereskan kalau kita tidak lagi berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Matematika tidak pernah bohong. Yang sering bohong adalah cara kita membaca kenyataan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *