Opini - Pendidikan

Catatan Seorang Santri tentang Polemik Trans7 dan Pesantren

Akhir-akhir ini ramai soal pemberitaan Trans7 yang menyorot budaya pesantren. Dan sebagai orang yang pernah hidup di pondok, jujur saya cukup terusik. Bukan karena pesantren itu suci tanpa masalah—nggak juga—tapi lebih karena cara pemberitaannya yang menurut saya nggak adil, berat sebelah, dan terasa banget framing-nya. Rasanya seperti apa yang tidak sesuai dengan kacamata mereka langsung dilabeli negatif, seakan-akan pesantren itu dunia gelap yang penuh praktik tidak manusiawi. Padahal yang terlihat di kamera cuma satu sudut kecil dari realitas yang jauh lebih luas dan dalam.

Saya nggak bilang pesantren itu sempurna. Tapi saya juga nggak setuju kalau satu budaya langsung dicap buruk tanpa dipahami konteksnya. Media, apalagi sekelas Trans7 dengan audiens jutaan, harusnya bisa lebih berhati-hati. Punya pengaruh besar kan? Jadi apa yang mereka lempar ke publik dampaknya juga besar.

Dan di situ awal keresahan saya muncul.

Media Mengkritik, Silakan. Tapi Jangan Emosional dan Tergesa-gesa

Kalau media mau mengkritik budaya pesantren, boleh banget. Kritik itu penting. Tapi kalau sudah menyangkut budaya, apalagi budaya yang punya akar historis dan nilai spiritual panjang, harusnya ada landasan ilmiah, ada referensi, ada pendalaman konteks. Jangan cuma modal shoot video beberapa detik, terus langsung dibuat narasi emosional yang arahnya jelas-jelas menggiring opini.

Saya tidak melihat upaya pendalaman itu di pemberitaan Trans7 kemarin.

Yang saya lihat lebih ke “ini saya tidak suka, maka ini salah”.
Sedih aja rasanya.

Karena kalau kritiknya ilmiah, elegan, dan objektif, pesantren juga bisa menjawab dengan elegan. Pesantren bisa menyampaikan perspektifnya berdasarkan ilmu, sejarah, adab, dan nilai yang selama ini dipegang. Dialognya bisa sehat. Tidak saling merendahkan.

Tapi kalau kritiknya emosional, ya akhirnya respon yang muncul juga emosional.

Di Sisi Lain: Saya Juga Mengakui Ada Oknum yang Salah

Nah, saya juga tidak mau membela membabi buta. Ada kok oknum pesantren yang kadang memanfaatkan posisi dan power-nya untuk hal-hal yang tidak benar. Ada yang oportunis, ada yang kelewat batas, ada yang menuntut penghormatan dengan cara yang tidak tepat. Itu fakta.

Dan kalau media mengangkat itu, ya nggak masalah. Bahkan bagus, supaya jadi bahan evaluasi.

Tapi yang salah itu oknum.
Bukan seluruh pesantren.
Bukan seluruh kiai.

Yang bikin saya kurang terima adalah ketika satu cuplikan langsung membuat citra pesantren seolah institusi yang menormalisasi tindakan semena-mena. Itu berat. Apalagi bagi pesantren besar seperti Lirboyo, yang kontribusinya jauh lebih besar daripada isu sesaat seperti itu.

Peran ulama terlalu besar untuk dirusak oleh satu framing tidak objektif. Mereka yang menjaga ilmu, akhlak, dan moral kita sejak puluhan tahun lalu. Kalau ada satu kasus salah, proses saja. Tapi jangan jadikan itu alasan untuk merendahkan marwah para kiai dan ulama.

Dari Sisi Seorang Santri: Rasa Hormat Kami Kadang Memang Berlebihan

Saya ngomong begini bukan sebagai orang luar. Saya santri. Dan jujur, saya sadar betul betapa besar rasa hormat kami kepada guru-guru kami. Kepala nunduk, badan sedikit bungkuk, suara pelan, itu semua bentuk adab yang kita bangga punya. Karena tanpa mereka, tanpa bimbingan ustadz-ustadzah, tanpa tempaan malam-malam penuh ngaji, kami ini bukan apa-apa.

Saya tahu mana yang benar dan salah karena mereka.
Saya belajar hidup karena mereka.
Saya jadi manusia yang bermanfaat juga karena mereka.

Makanya budaya hormat itu terasa sangat wajar. Bahkan kalau perlu sampai “menghamba”, itu bukan hina buat kami. Itu rasa syukur. Itu cinta. Itu keberkahan.

Tetap, Islam mengajarkan batas: hormat tidak boleh menyerupai ibadah. Mengagungkan guru tidak boleh sampai derajat ruku’. Jadi sebenarnya kalaupun ada budaya jongkok atau tunduk, asal tidak dengan niat ibadah, itu masuk area adab. Masih ada ruang ijtihad di sana.

Tapi… tetap ada hal yang perlu dibenahi.

Jujur, Pesantren Juga Punya PR Besar

Sebagai santri, saya juga punya keresahan. Budaya-budaya tertentu yang dianggap adab itu sebenarnya bagian dari budaya lama, budaya pada masa Belanda, atau budaya masyarakat dulu. Tapi terkadang dibawa terus tanpa pernah ditinjau ulang apakah masih relevan secara konteks zaman.

Di sinilah masalahnya. Pesantren kadang terlalu menutup diri. Lingkungannya begitu kuat, sehingga budaya internal yang dulu relevan di zaman kolonial terus dipertahankan tanpa memikirkan bagaimana dunia luar melihatnya. Akhirnya ketika zaman berubah, pesantren terlihat “aneh” di mata masyarakat modern.

Padahal bukan salah niat.
Bukan salah nilai.
Hanya kurang adaptasi.

Dan ketika masyarakat luar tidak paham konteks, ditambah media menyorot dengan framing tertentu, jadilah kontradiksi besar seperti sekarang.

Zaman Sudah Berubah: Pesantren Perlu Membekali Santri dengan Skill Dunia Nyata

Ini keresahan lain yang sering saya dengar dari teman-teman sesama santri. Banyak alumni pesantren yang lulus hanya bermodalkan teks. Hafal kitab, paham nahwu, mengerti fiqih. Itu keren. Luar biasa malah. Tapi dunia saat ini bukan hanya soal teks.

Dunia butuh kompetensi.
Butuh skill.
Butuh kemampuan adaptasi.
Butuh literasi digital, komunikasi, bisnis, teknologi, dan lainnya.

Karena itu banyak teman-teman santri yang akhirnya hidup seadanya. Jadi marbot, jadi guru ngaji, atau bahkan tidak punya arah yang jelas. Ada juga yang akhirnya terlalu terbawa arus modernisasi sampai lupa nilai pesantren.

Bukan karena pesantren buruk.
Tapi karena pesantren hanya membekali setengah kebutuhan, sedangkan dunia menuntut utuh.

Pesantren kuat di teks.
Tapi konteks? Banyak yang tertinggal.

Ini PR besar. Dan kalau PR ini tidak diselesaikan, maka setiap kali ada isu seperti polemik Trans7, pesantren akan selalu berada dalam posisi diserang dan sulit membela diri.

Penutup: Ini Saatnya Media Lebih Obyektif dan Pesantren Lebih Responsif

Polemik Trans7 vs pesantren sebenarnya bisa menjadi momentum penting untuk dua pihak.

Untuk media, hendaknya lebih bijak, lebih adil, lebih dalam dalam memotret budaya pesantren. Karena apa yang mereka tayangkan benar-benar mempengaruhi cara masyarakat melihat pesantren.

Untuk pesantren, ini kesempatan besar untuk berbenah. Membuka diri. Menjelaskan budaya dengan cara yang lebih komunikatif. Mengembangkan santri agar bukan hanya paham teks, tapi siap menghadapi konteks.

Sebagai santri, saya tidak menulis ini karena membenci pesantren. Justru karena saya cinta. Saya ingin pesantren tetap mulia, tetap menjadi pusat ilmu, tetap menjadi cahaya bagi umat, tapi juga tetap relevan dengan zaman.

Cinta yang tidak mau pesantren diserang tanpa bisa menjelaskan diri.
Cinta yang ingin melihat pesantren berdiri lebih kokoh dari sebelumnya.

Semoga ini menjadi awal dialog yang lebih dewasa bagi semua pihak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *