Fahrizal Mukhdar
Fahrizal Mukhdar
Pendidikan

Mendidik, Mengajar, Mewariskan #1: Yang Kita Ukur Baru Pemahaman

Fahrizal Mukhdar, guru Bahasa Arab Fahrizal Mukhdar ยท Guru Bahasa Arab โ€ข 28 September 2026 โ€ข ยฑ 5 menit baca
Mendidik, Mengajar, Mewariskan #1: Yang Kita Ukur Baru Pemahaman

Saya mengajar bahasa Arab dan sering merasa itu belum berdampak pada kehidupan murid. Sampai bahasa itu menolong mereka memahami doa dan sholat mereka sendiri.

Isi tulisan (5 bagian)
  1. Momen yang Membuat Saya Berhenti
  2. Tiga Tingkat yang Kita Campur Aduk
  3. Paham Belum Berarti Punya
  4. Kenapa Kita Berhenti di Tingkat Pertama
  5. Mengajar Itu Mulia, Tapi Bukan Puncaknya

Saya mengajar bahasa Arab. Dan jujur saja, bertahun-tahun saya merasa apa yang saya kerjakan ini belum begitu berdampak pada kehidupan murid saya.

Yang saya kejar cuma satu: mereka paham materinya. Kalau mereka paham, saya senang. Kalau tidak, saya periksa metode saya โ€” bagian mana yang melompat, contohnya kurang, urutannya salah. Lalu saya perbaiki, dan saya ulang lagi.

Begitulah pekerjaan saya. Bertahun-tahun. Sampai saya mulai bertanya-tanya: kok rasanya ada yang kurang ya?

Momen yang Membuat Saya Berhenti

Ada satu momen yang membuat saya berhenti dan berpikir ulang.

Waktu itu bahasa Arab yang saya ajarkan mulai menolong mereka memahami doa mereka. Memahami sholat mereka. Bukan karena nilainya naik, bukan karena mereka menang lomba. Tapi karena mereka akhirnya tahu apa yang sedang mereka ucapkan kepada Allah setiap hari.

ุฅููŠู‘ูŽุงูƒูŽ ู†ูŽุนู’ุจูุฏู ูˆูŽุฅููŠู‘ูŽุงูƒูŽ ู†ูŽุณู’ุชูŽุนููŠู†ู

"Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan." (Al-Fatihah: 5)

Kalimat itu mereka ucapkan setiap sholat. Dan tiba-tiba kalimat itu bukan lagi bunyi yang harus dihafal, tapi sesuatu yang mereka mengerti. Di situ saya sadar: selama ini saya sibuk mengukur hal yang bukan intinya.

Saya bisa mengukur pemahaman mereka. Tapi saya tidak punya alat apa pun untuk mengukur apakah ada sesuatu yang lebih besar sedang berpindah kepada mereka โ€” sesuatu yang tidak muncul di daftar nilai, tidak kelihatan di hasil ujian, dan tidak pernah saya catat di buku penilaian.

Warisan.

Tiga Tingkat yang Kita Campur Aduk

Saya jadi melihat pekerjaan ini punya tiga tingkat, dan selama ini saya cuma sadar dua yang pertama.

Mengajar: menyampaikan bahan. Ukurannya pemahaman murid dan keefektifan metode guru.

Mendidik: mengajak ikut bekerja. Ukurannya perubahan perilaku dan kemampuan bekerja.

Mewariskan: menyerahkan peran. Ukurannya munculnya penerus โ€” orang yang sanggup mengerjakan pekerjaan itu tanpa kita.

Masalahnya, dua tingkat pertama bisa dinilai minggu depan. Tingkat ketiga tidak bisa dinilai minggu depan, dan sering juga tidak bisa dinilai tahun depan. Warisan hanya kelihatan pada generasi setelah kita, karena yang kita ukur bukan apa yang diketahui seseorang, tapi apa yang diteruskannya.

Itu sebabnya lembar jawaban tidak akan pernah bisa menilai pekerjaan ini. Lembar jawaban mengukur tingkat pertama. Sedangkan kita sedang mengerjakan tingkat ketiga.

Paham Belum Berarti Punya

Ibnu Khaldun, enam abad lalu, sudah memberi nama untuk sesuatu yang lebih dalam daripada paham. Ia menyebutnya malakah.

Dalam Muqaddimah, ia menjelaskan bahwa kemahiran bukan hasil dari mengerti sebuah keterangan. Kemahiran lahir dari pengulangan yang terus-menerus sampai menjadi bagian dari diri kita. Dan soal bahasa, ia tegas: penguasaan bahasa hanya bisa dicapai lewat malakah โ€” lewat kebiasaan memakai, bukan lewat penjelasan tentang aturan.

Coba pikirkan. Seorang murid bisa paham pola jumlah ismiyah dengan sempurna, dan tetap tidak punya bahasa Arab sama sekali. Paham itu berhenti di kepala. Malakah turun ke lidah dan tangan, ke tempat bahasa itu dipakai.

Ibnu Khaldun juga menolak cara mengajar yang keras dan hukuman fisik. Bukan karena ia orang tua yang lembek, tapi karena menurut pengamatannya, cara seperti itu cuma melahirkan kebiasaan buruk pada murid.

Kenapa Kita Berhenti di Tingkat Pertama

Jawabannya tidak enak: karena yang bisa diukur cuma itu.

Ada seorang pakar pendidikan dari Belanda, Gert Biesta, yang menulis buku berjudul Good Education in an Age of Measurement โ€” pendidikan yang baik di zaman pengukuran. Tesisnya sederhana tapi pedas: pendidikan zaman sekarang begitu sibuk mengukur hasil, sampai pertanyaan paling dasarnya malah hilang. Pertanyaannya: pendidikan ini sebenarnya untuk apa?

Ia bahkan punya istilah untuk penyakit ini: learnification. Pendidikan disederhanakan jadi "belajar" โ€” sesuatu yang bisa dijadwalkan, diuji, dan dilaporkan angkanya. Padahal pertanyaan "berhasil untuk apa" tidak pernah bisa dijawab data. Itu selalu harus dijawab manusia.

Jadi guru yang sibuk mengevaluasi metodenya bukan sedang salah. Ia sedang mengerjakan apa yang diukur oleh sistem. Dan sistem cuma bisa mengukur yang bisa diangkakan: nilai, ketuntasan materi, kehadiran, target hafalan.

Sedangkan yang justru paling menentukan โ€” apakah murid melihat gurunya bekerja jujur, apakah ia ikut mengerjakan sesuatu yang nyata, apakah ia diberi tanggung jawab, apakah ia meniru cara gurunya memperlakukan orang lain โ€” semuanya tidak terukur. Dan karena tidak terukur, pelan-pelan ia hilang dari kesadaran kita. Bukan ditolak. Cuma terlupakan.

Mengajar Itu Mulia, Tapi Bukan Puncaknya

Saya tidak sedang bilang mengajar itu salah. Mengajar itu mulia, dan ada sejak manusia pertama:

ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุขุฏูŽู…ูŽ ุงู„ู’ุฃูŽุณู’ู…ูŽุงุกูŽ ูƒูู„ูŽู‘ู‡ูŽุง ุซูู…ูŽู‘ ุนูŽุฑูŽุถูŽู‡ูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูŽู„ูŽุงุฆููƒูŽุฉู

"Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama benda seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat." (Al-Baqarah: 31)

Allah mengajar. Jadi mengajar bukan pekerjaan rendahan yang perlu kita tinggalkan. Yang perlu diperbaiki bukan keberadaannya, tapi posisinya. Mengajar itu pintu masuk, bukan ruang tamunya.

Kalau mengajar kita jadikan puncak, kita akan mengukur segala sesuatu dengan alat ukur pengajaran โ€” pemahaman materi dan keefektifan metode โ€” dan kita tidak akan pernah bisa menjawab pertanyaan paling penting: apakah orang yang saya ajar sedang jadi penerus, atau cuma jadi orang yang pernah paham?

Di tulisan saya sebelumnya saya sudah sampai pada kesimpulan serupa dari arah lain: mengerti saja tidak cukup, bahasa harus dipakai. Sekarang saya lihat persoalannya lebih dalam daripada metode. Bukan cuma cara kita mengajar yang perlu diperiksa, tapi tingkat pekerjaan yang sedang kita kerjakan.

Karena ada tingkat kedua. Di tingkat itu, guru tidak lagi menjelaskan. Ia mengajak seseorang ikut bekerja bersamanya.

Bersambung ke bagian #2: "Ayo Ikut Abang" โ€” tentang mendidik sebagai mengajak bekerja, bukan memberi tugas.

Bagikan
Fahrizal Mukhdar, guru Bahasa Arab

Fahrizal Mukhdar

Guru Bahasa Arab

Menulis tentang pendidikan, pembelajaran bahasa Arab, dan refleksi kehidupan sekolah โ€” juga mengembangkan Bilarabiya.Online.

Tentang saya โ†’

Suka tulisan ini? Masih ada banyak tulisan lain โ€” dan pembaca boleh ikut berdiskusi di kolom komentar.

Semua tulisan Tentang penulis

Tulisan terkait

Kategori yang sama dengan tulisan ini โ€” Pendidikan

Komentar

Belum ada komentar. Silakan jadi yang pertama.

Tinggalkan komentar

Cukup nama dan komentar โ€” tidak perlu email atau tautan.

Masuk dengan Google supaya komentarmu memakai namamu โ€” atau lanjut tanpa login dengan mengisi nama di bawah.

Tampil setelah saya setujui.

Jangan lewatkan tulisan baru

Sekali tekan, tulisan baru langsung sampai ke HP-mu โ€” tanpa email, tanpa daftar.