Fahrizal Mukhdar
Fahrizal Mukhdar
Refleksi Al-Qur'an

Belajar dari Musa dan Khidir: Tarbiyah dan Ta'lim, Dua Warisan yang Harus Berjalan

Fahrizal Mukhdar, guru Bahasa Arab Fahrizal Mukhdar · Guru Bahasa Arab • 28 September 2026 • ± 6 menit baca
Belajar dari Musa dan Khidir: Tarbiyah dan Ta'lim, Dua Warisan yang Harus Berjalan

Surat Al-Kahfi menyimpan satu metode belajar yang tidak diajarkan di mana pun: pengalaman dulu, penjelasan kemudian — dan dua warisan yang harus berjalan berbarengan.

Isi tulisan (5 bagian)
  1. Satu: Musa dan Pelayannya
  2. Dua: Musa dan Khidir
  3. Tiga: Dua Warisan yang Harus Berjalan Berbarengan
  4. Empat: Apa yang Terjadi Kalau Sejarah dan Budaya Dicabut
  5. Penutup

Orang-orang besar dahulu belajar dengan cara yang aneh kalau dilihat dari ukuran kita sekarang. Mereka tidak duduk di kelas, tidak menghafal silabus, tidak mengejar nilai. Mereka berjalan — benar-benar berjalan — dan pelajarannya datang dari apa yang mereka alami di jalan itu.

Kalau kita mau satu contoh yang paling jelas, buka surat Al-Kahfi. Di situ ada satu kisah yang isinya sebenarnya adalah metode belajar, dan bukan metode yang diajarkan di manuskrip mana pun.

Satu: Musa dan Pelayannya

Kisahnya dimulai dari sebuah keputusan yang terdengar nekat. Musa berkata kepada pelayannya:

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَىٰهُ لَآ أَبْرَحُ حَتَّىٰٓ أَبْلُغَ مَجْمَعَ ٱلْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِىَ حُقُبًا

"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya , "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun"." (Al-Kahfi: 60)

Perhatikan pilihan katanya. Ia tidak bilang "aku ingin tahu". Ia bilang aku tidak akan berhenti — dan ia siap berjalan sangat jauh sampai bertemu apa yang dicarinya. Belajar, di sini, bukan pekerjaan yang santai. Ia menuntut jalan.

Lalu apa yang terjadi di jalan itu? Mereka kelelahan, dan ada sesuatu yang mereka lupakan.

قَالَ أَرَءَيْتَ إِذْ أَوَيْنَآ إِلَى ٱلصَّخْرَةِ فَإِنِّى نَسِيتُ ٱلْحُوتَ وَمَآ أَنسَىٰنِيهُ إِلَّا ٱلشَّيْطَـٰنُ أَنْ أَذْكُرَهُۥ ۚ وَٱتَّخَذَ سَبِيلَهُۥ فِى ٱلْبَحْرِ عَجَبًا

"Muridnya menjawab, "Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya, kecuali setan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali."" (Al-Kahfi: 63)

Ikan itu — yang jadi tanda — justru hilang ketika mereka lupa. Dan perhatikan bagaimana Musa menerimanya: ia tidak marah, ia tidak menyalahkan pelayannya. Ia bilang:

قَالَ ذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ ۚ فَٱرْتَدَّا عَلَىٰٓ ءَاثَارِهِمَا قَصَصًا

"Musa berkata, "Itulah (tempat) yang kita cari". Lalu, keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula." (Al-Kahfi: 64)

"Itulah tempat yang kita cari." Lalu keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula. Ini pelajaran pertama yang sering kita lupakan: kesediaan menempuh ulang jalan yang sudah dilalui. Belajar itu boleh gagal di tengah, asal mau kembali.

Dua: Musa dan Khidir

Di titik itulah mereka bertemu dengan orangnya.

فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَآ ءَاتَيْنَـٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَـٰهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًا

"Lalu, mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami ." (Al-Kahfi: 65)

Perhatikan ayat ini baik-baik, karena di sini ada dua hal sekaligus. Allah memberi hamba itu rahmat dari sisi Kami, dan mengajarinya ilmu dari sisi Kami. Dua pemberian, bukan satu. Saya akan kembali ke ayat ini di bagian akhir, karena di situlah letak seluruh tulisan ini.

Lalu lihat bagaimana Musa meminta. Ia tidak memerintah, tidak menantang, tidak menawar. Ia meminta izin:

قَالَ لَهُۥ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

"Musa berkata kepada Khiḍr, "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?"" (Al-Kahfi: 66)

Guru itu menjawab dengan jujur, dan jawabannya bukan pujian:

قَالَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِىَ صَبْرًا

"Dia menjawab, "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku." (Al-Kahfi: 67)

Musa tahu bahwa syaratnya berat, dan ia menerimanya. Ia tidak protes, tidak berdebat soal kemampuannya sendiri:

قَالَ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ صَابِرًا وَلَآ أَعْصِى لَكَ أَمْرًا

"Musa berkata, "Insyaallah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun"." (Al-Kahfi: 69)

Lalu gurunya menetapkan satu aturan yang sangat penting bagi siapa pun yang mau belajar darinya:

قَالَ فَإِنِ ٱتَّبَعْتَنِى فَلَا تَسْـَٔلْنِى عَن شَىْءٍ حَتَّىٰٓ أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا

"Dia berkata, "Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu"." (Al-Kahfi: 70)

Jangan bertanya dulu. Ikut, kerjakan, lihat — nanti aku yang menjelaskan. Bandingkan dengan cara kita mengajar hari ini: kita menjelaskan dulu di depan kelas, lalu murid menghafal, lalu diuji. Khidir melakukan kebalikannya. Pengalaman lebih dulu, penjelasan kemudian.

Dan itulah yang terjadi. Kapal dilubangi. Anak dibunuh. Dinding ditegakkan tanpa upah. Musa tidak bisa menahan diri, dan setiap kali ia bersuara, gurunya mengingatkan janjinya. Sampai akhirnya tibalah waktu penjelasan itu:

قَالَ هَـٰذَا فِرَاقُ بَيْنِى وَبَيْنِكَ ۚ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيلِ مَا لَمْ تَسْتَطِع عَّلَيْهِ صَبْرًا

"Khiḍr berkata, "Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya." (Al-Kahfi: 78)

Baru pada akhir perjalanan — setelah semuanya terjadi — satu per satu perbuatan itu dibuka maksudnya:

أَمَّا ٱلسَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَـٰكِينَ يَعْمَلُونَ فِى ٱلْبَحْرِ فَأَرَدتُّ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَآءَهُم مَّلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا

"Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera." (Al-Kahfi: 79)

وَأَمَّا ٱلْغُلَـٰمُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَآ أَن يُرْهِقَهُمَا طُغْيَـٰنًا وَكُفْرًا

"Dan adapun anak muda itu, maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran." (Al-Kahfi: 80)

Perhatikan urutannya. Kalau penjelasan itu diberikan di awal, Musa tidak akan pernah paham — ia belum mengalami apa pun. Ilmu itu baru masuk karena ada pengalaman sebelumnya yang menopangnya.

Tiga: Dua Warisan yang Harus Berjalan Berbarengan

Dari kisah ini saya melihat ada dua jalur yang dalam Islam seharusnya berjalan bersama, bukan saling menggantikan.

Pertama, peradaban diwariskan lewat pendidikan — tarbiyah. Ia berjalan lewat pembiasaan, keteladanan, dan ikut bekerja bersama orang yang lebih tua. Musa tidak membaca kitab tentang kesabaran; ia berjalan bersama gurunya, dan kesabarannya diuji di jalan.

Kedua, pengetahuan diwariskan lewat pengajaran — ta'lim. Ia berjalan lewat penjelasan, riwayat, kitab, dan pengajaran yang disampaikan dari satu orang ke orang lain. Di akhir kisah itu, Musa akhirnya mendapat penjelasan. Kalau tidak ada bagian ini, Musa cuma lelah di jalan tanpa mengerti apa yang terjadi.

Dan kedua jalur itu ada dalam satu ayat yang tadi kita baca: rahmat dari sisi Kami, dan ilmu dari sisi Kami. Rahmat itu jalur pengasuhan — peradaban. Ilmu itu jalur pengajaran — pengetahuan. Satu orang seperti Khidir membawa dua-duanya sekaligus.

Kalau kita cuma mengerjakan ta'lim, kita mendapatkan orang yang tahu banyak tapi tidak berakar. Ia hafal aturan, lulus ujian, lalu bingung harus jadi apa. Kalau kita cuma mengerjakan tarbiyah, kita mendapatkan orang yang berakar tapi tidak berkembang. Yang kita butuhkan bukan memilih salah satu — tapi menjalankan dua-duanya sekaligus, seperti yang saya tulis di bagian ketiga seri sebelumnya: mendidik, mengajar, mewariskan.

Empat: Apa yang Terjadi Kalau Sejarah dan Budaya Dicabut

Ada satu kisah fiksi Jepang yang membuat saya berhenti dan berpikir: One Piece. Di sana ada sekelompok orang yang mengaku dewa — mereka menyebut diri orang-orang langit. Dan mereka punya pasukan khusus: Ksatria Dewa.

Pasukan itu dikirim ke Elbaf, negeri bangsa raksasa. Dan tujuan mereka bukan sekadar menaklukkan. Yang mereka kerjakan adalah menghapus budaya dan sejarah bangsa raksasa — lalu menjadikan bangsa itu tentara dalam perang mereka. Anak-anak mereka pun ditawan dan digiring untuk diperbudak.

Logikanya kurang lebih begini: kami tidak butuh budaya kalia, tidak butuh sejarah nenek moyang kalian — kalian ini budak kami.

Statemen itu menohok justru karena kedengarannya bukan lagi fiksi. Sepanjang sejarah, penjajahan bekerja dengan cara yang sama: pertama ambil tanahnya, lalu cabut bahasanya, lalu ganti sejarahnya. Orang yang tidak lagi tahu dari mana ia berasal akan sangat mudah diatur oleh siapa pun yang mau mengatur.

Dan menariknya, yang dicabut bukan cuma pengetahuan. Yang dicabut justru tarbiyah: pembiasaan, keteladanan, bahasa ibu, cara-cara bekerja yang diwariskan di rumah. Pengetahuan bisa diganti dengan buku pelajaran baru. Tapi peradaban yang sudah dicabut lebih sulit ditumbuhkan kembali.

Penutup

Jadi itu sebabnya kita mengerjakan dua-duanya. Kalau kita hanya mengajar, murid kita tahu banyak hal tapi tidak punya akar. Kalau kita hanya membangun kedekatan tanpa ilmu, kita menciptakan orang yang berakar tapi tidak sanggup membawa apa pun ke depan.

Kita butuh keduanya: mengajar mereka, dan mengajak mereka bekerja. Mewariskan pengetahuan lewat pengajaran, dan mewariskan peradaban lewat pendidikan.

Seperti Musa, yang tidak berhenti sebelum bertemu apa yang dicarinya. Seperti Khidir, yang tidak berbicara banyak, tapi membawa muridnya berjalan.

Bagikan
Fahrizal Mukhdar, guru Bahasa Arab

Fahrizal Mukhdar

Guru Bahasa Arab

Menulis tentang pendidikan, pembelajaran bahasa Arab, dan refleksi kehidupan sekolah — juga mengembangkan Bilarabiya.Online.

Tentang saya →

Suka tulisan ini? Masih ada banyak tulisan lain — dan pembaca boleh ikut berdiskusi di kolom komentar.

Semua tulisan Tentang penulis

Tulisan terkait

Kategori yang sama dengan tulisan ini — Refleksi Al-Qur'an

Komentar

Belum ada komentar. Silakan jadi yang pertama.

Tinggalkan komentar

Cukup nama dan komentar — tidak perlu email atau tautan.

Masuk dengan Google supaya komentarmu memakai namamu — atau lanjut tanpa login dengan mengisi nama di bawah.

Tampil setelah saya setujui.

Jangan lewatkan tulisan baru

Sekali tekan, tulisan baru langsung sampai ke HP-mu — tanpa email, tanpa daftar.