Fahrizal Mukhdar
Fahrizal Mukhdar
Pendidikan

Mendidik, Mengajar, Mewariskan #3: Ketika Murid Harus Mengajari Adiknya

Fahrizal Mukhdar, guru Bahasa Arab Fahrizal Mukhdar ยท Guru Bahasa Arab โ€ข 28 September 2026 โ€ข ยฑ 5 menit baca
Mendidik, Mengajar, Mewariskan #3: Ketika Murid Harus Mengajari Adiknya

Tingkat tertinggi pendidikan adalah menyerahkan peran. Dan itu justru yang paling hilang dari rumah dan sekolah kita hari ini.

Isi tulisan (5 bagian)
  1. Tingkat Ketiga
  2. Anas bin Malik: Diserahkan ke Dalam Praktik
  3. Saksi dari Pesantren, dan Catatan yang Jujur
  4. Yang Hilang dari Rumah Kita
  5. Bukan Menolak Sekolah, Tapi Memulihkan Tiga Jalur

Saya baru benar-benar tahu bahwa pelajaran saya berpindah ketika orang yang saya ajar mulai mengajar orang lain.

Bukan waktu ia jawab soal dengan benar, atau nilainya naik, atau ia mengulang penjelasan saya dengan kata-katanya sendiri โ€” karena mengulang itu bisa terjadi tanpa ada yang berpindah.

Saya tahu pelajaran itu berpindah waktu anak saya yang lebih besar harus mengajari adiknya. Atau waktu murid saya harus membetulkan yang lebih kecil darinya. Di momen itu kedudukannya berubah: dari orang yang diajari jadi orang yang bertanggung jawab. Dan justru saat itulah ia belajar paling banyak โ€” karena ia tidak bisa lagi sembunyi di balik alasan bahwa ia masih belajar.

Tingkat Ketiga

Mari saya rapikan ketiga tingkat itu, karena dari ketiganya kita cuma sadar dua yang pertama.

Mengajar: menyampaikan bahan. Ukurannya pemahaman murid dan keefektifan metode guru.

Mendidik: mengajak ikut bekerja. Ukurannya perubahan perilaku dan kemampuan bekerja.

Mewariskan: menyerahkan peran. Ukurannya munculnya penerus โ€” orang yang sanggup mengerjakan pekerjaan itu tanpa kita.

Dua tingkat pertama bisa dinilai minggu depan. Tingkat ketiga tidak bisa, bahkan sering tidak bisa dinilai tahun depan. Warisan cuma kelihatan pada generasi setelah kita, karena yang kita ukur bukan apa yang diketahui seseorang, tapi apa yang diteruskannya.

Itu sebabnya pekerjaan ini tidak akan pernah bisa dinilai lembar jawaban: lembar jawaban mengukur tingkat pertama, kita mengerjakan tingkat ketiga.

Anas bin Malik: Diserahkan ke Dalam Praktik

Lihat bagaimana dulu ini dikerjakan. Waktu Rasulullah tiba di Madinah, Ummu Sulaim โ€” ibunda Anas bin Malik โ€” datang menghadap membawa putranya yang masih sekitar sepuluh tahun, dan menyerahkannya untuk melayani beliau. Ia berkata kurang lebih: ini Anas, anak yang pandai, ia akan jadi pelayanmu.

Anas melayani Rasulullah sekitar sepuluh tahun: membawa keperluan beliau, menyiapkan makanan, menemani beliau di rumah dan di perjalanan.

Dan hasilnya? Anas jadi salah satu periwayat hadis terbanyak dalam sejarah Islam โ€” lebih dari dua ribu hadis. Ia tidak dikirim ke negeri asing, tidak dimasukkan ke kelas bahasa, tidak diberi kurikulum. Ia dimasukkan ke dalam rumah: menyaksikan, mengerjakan, menemani, jadi bagian dari pekerjaan itu.

Para ulama menyimpulkan hal yang sama tentang cara para sahabat menuntut ilmu: bukan lewat pelajaran formal, tapi lewat suhbah โ€” kebersamaan โ€” dan khidmah โ€” pelayanan. Kata kedua itu, khidmah, adalah kata yang sama yang kita pakai untuk santri yang membantu kiyainya.

Dan Al-Qur'an menyebut urutan yang mengejutkan:

ูƒููˆู†ููˆุง ุฑูŽุจูŽู‘ุงู†ููŠูู‘ูŠู†ูŽ ุจูู…ูŽุง ูƒูู†ู’ุชูู…ู’ ุชูุนูŽู„ูู‘ู…ููˆู†ูŽ ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจูŽ ูˆูŽุจูู…ูŽุง ูƒูู†ู’ุชูู…ู’ ุชูŽุฏู’ุฑูุณููˆู†ูŽ

"Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Alkitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya." (Ali Imran: 79)

Perhatikan urutannya: mengajarkan disebut lebih dulu daripada mempelajari. Kedudukan rabbani โ€” orang yang matang ilmunya dan mendidik manusia โ€” didapat lewat dua-duanya, tapi bagian mengajar disebut lebih dulu. Orang yang mengajar sedang mengerjakan pekerjaan yang membentuk dirinya.

Saksi dari Pesantren, dan Catatan yang Jujur

Di pesantren, jalur ini hidup. Saya lihat sendiri: santri yang aktif berkegiatan dan berkhidmah ke kiyainya biasanya yang paling berdampak setelah lulus. Bukan yang paling tinggi nilainya, tapi yang pernah diberi pekerjaan, dipercaya mengurus sesuatu, dan merasa bertanggung jawab atas sesuatu.

Tapi saya tidak mau melebih-lebihkan. Hal itu hidup bergantung pada kiai yang mengajak โ€” orang yang mau membawa orang lain ikut bekerja. Ia bukan hasil kurikulum, aturan, atau target lembaga. Karena itu ia bisa hidup, bisa juga mati, meskipun lembaganya tetap berdiri.

Jadi saya tidak menulis bahwa pendidikan warisan tidak ada di sekolah dan kampus. Yang lebih tepat: ia tidak dijadikan inti. Lembaga kita sibuk dengan kurikulum, jadwal, dan penilaian. Jalur yang paling menentukan itu hidup hanya kalau ada orang yang dengan kesadaran sendiri mau mengajak orang lain bekerja bersamanya.

Yang Hilang dari Rumah Kita

Di rumah, jalan itu makin sempit. Bukan cuma karena orang tua kerja dua belas sampai enam belas jam sehari atau anak dititipkan sepanjang hari. Ada hal yang lebih dalam daripada soal jadwal.

Rumah sudah berhenti jadi tempat kerja.

Dulu rumah itu tempat pekerjaan berlangsung: menanam dan memelihara, memasak, memperbaiki, menjahit, mengajari yang kecil mengaji. Anak belajar karena ia ikut bekerja di situ. Sekarang hampir semua pekerjaan rumah sudah dibeli atau diserahkan ke orang lain. Seandainya orang tua duduk di rumah sepanjang hari, anak tetap tidak punya pekerjaan nyata untuk dimasuki โ€” karena memang tidak ada pekerjaan yang dikerjakan di rumah itu.

Jadi pertanyaannya bukan lagi soal berapa jam orang tua ada di rumah. Pertanyaannya: apakah orang tua masih mengerjakan sesuatu yang bisa diikuti anaknya? Apakah anak kita diberi peran, atau cuma diberi jadwal?

Pertanyaan itu tidak nyaman buat saya sendiri. Dan saya kira itu tanda pertanyaannya penting.

Bukan Menolak Sekolah, Tapi Memulihkan Tiga Jalur

Saya tidak sedang mengajak membongkar sekolah, dan tidak memusuhi ukuran. Ukuran itu alat. Yang bahaya kalau alat itu kita jadikan tujuan. Yang saya ajak adalah memulihkan tiga jalur yang sudah bekerja ribuan tahun: pembiasaan, keteladanan, dan pengajaran โ€” sejak generasi pertama manusia, dan sejak itu pula pengajaran cuma salah satunya.

Bisa dimulai dari yang paling dekat. Di rumah: memberi pekerjaan yang benar-benar dibutuhkan, bukan pekerjaan buatan. Di musholla: mengajak yang kecil ikut menyiapkan dan melayani, lalu mempercayakan peran yang lebih besar. Di kelas: memberi setiap murid bagian untuk mengajar kawannya.

Dan akhirnya pertanyaannya sederhana, meskipun jawabannya butuh bertahun-tahun untuk kita ketahui: siapa yang akan meneruskan pekerjaan ini kalau saya tidak ada?

Itu pertanyaan orang yang sedang mendidik. Bukan pertanyaan orang yang sedang mengajar.

Kembali ke bagian #1: "Yang Kita Ukur Baru Pemahaman" dan bagian #2: "Ayo Ikut Abang". Tulisan ini bagian ketiga dari rangkaian tiga tingkat: mengajar, mendidik, mewariskan.

Bagikan
Fahrizal Mukhdar, guru Bahasa Arab

Fahrizal Mukhdar

Guru Bahasa Arab

Menulis tentang pendidikan, pembelajaran bahasa Arab, dan refleksi kehidupan sekolah โ€” juga mengembangkan Bilarabiya.Online.

Tentang saya โ†’

Suka tulisan ini? Masih ada banyak tulisan lain โ€” dan pembaca boleh ikut berdiskusi di kolom komentar.

Semua tulisan Tentang penulis

Tulisan terkait

Kategori yang sama dengan tulisan ini โ€” Pendidikan

Komentar

Belum ada komentar. Silakan jadi yang pertama.

Tinggalkan komentar

Cukup nama dan komentar โ€” tidak perlu email atau tautan.

Masuk dengan Google supaya komentarmu memakai namamu โ€” atau lanjut tanpa login dengan mengisi nama di bawah.

Tampil setelah saya setujui.

Jangan lewatkan tulisan baru

Sekali tekan, tulisan baru langsung sampai ke HP-mu โ€” tanpa email, tanpa daftar.