Mendidik, Mengajar, Mewariskan #2: "Ayo Ikut Abang"
Mendidik bukan menyampaikan bahan, tapi mengajak orang lain ikut mengerjakan pekerjaan yang nyata. Di situ pelajaran berpindah tanpa perlu dijelaskan.
Isi tulisan (4 bagian)
"Ayo ikut Abang."
"Ngapain, Bang?"
"Kita beli kayu. Abang mau pasang spanduk undangan jamaah ke musholla."
Itu saja percakapannya. Tidak ada penjelasan panjang, tidak ada tujuan pembelajaran yang saya tulis di papan, tidak ada lembar kerja. Salah satu murid saya ikut. Ia ikut ke mana saya menuju, mengerjakan apa pun yang saya kerjakan, memegang ujung kayu, bantu menahan spanduk waktu saya pasang.
Di perjalanan itu, karena saya memang guru, saya sadar akan satu hal yang bikin saya terdiam beberapa saat.
Anak di samping saya ini sedang mempelajari sesuatu. Bukan materi pelajaran. Tapi cara saya bekerja. Cara saya menghadapi hal yang tidak jalan. Cara saya memperlakukan orang di jalan. Cara saya menepati janji ke jamaah.
Yang Terjadi Waktu Orang Ikut Bekerja
Ada dua nama untuk kejadian di jalan itu, dan dua-duanya bukan saya yang karang.
Yang pertama dari khazanah kita sendiri. Ibnu Khaldun menyebutnya malakah: kemahiran yang terbentuk karena sesuatu dikerjakan berulang-ulang dalam keadaan yang sesungguhnya. Bukan karena dijelaskan. Ia tidak memakai istilah "praktik" untuk latihan kelas yang hasilnya dibuang setelah bel berbunyi. Malakah menuntut pekerjaan yang benar-benar dikerjakan โ lagi dan lagi โ sampai caranya meresap.
Yang kedua dari dunia riset modern, dan ini menarik: orangnya juga tidak suka sekolah. Jean Lave dan Etienne Wenger, dalam Situated Learning (1991), meneliti bagaimana orang sungguh-sungguh jadi ahli: penjahit di Liberia, bidan, tukang jagal. Pola yang mereka temukan sama di mana-mana. Pemula belajar dengan ikut mengerjakan pekerjaan nyata orang yang lebih ahli. Bukan menonton dari jauh, bukan juga latihan buatan.
Penjahit pemula mulai dari memasang kancing. Tapi kancing itu dipasang di baju pesanan sungguhan yang akan dipakai orang โ bukan di kain latihan yang lalu dibuang.
Lave dan Wenger memberi nama pola itu legitimate peripheral participation: ikut serta secara sah, walaupun masih di pinggir. Dan mereka punya satu kesimpulan yang keras. Kalau belajar itu soal mendapat kemampuan, maka cara paling ampuh untuk belajar adalah mengerjakannya โ bukan membicarakannya. Mereka bahkan memisahkan pengajaran dari persekolahan, karena sekolah berdiri di atas anggapan bahwa ilmu bisa dilepas dari tempat dan keadaannya.
Coba bandingkan dengan cara murid saya belajar memasang spanduk. Saya tidak pernah memberinya soal tentang spanduk. Saya tidak pernah menyuruhnya menghafal langkah-langkahnya. Ia cuma ikut, mengerjakan, dan tahu.
Al-Qur'an Menaruh Teladan di Depan, Bukan Bacaan
Jalur ini dasarnya jauh lebih tua dari teori mana pun:
ููููุฏู ููุงูู ููููู ู ููู ุฑูุณูููู ุงูููููู ุฃูุณูููุฉู ุญูุณูููุฉู
"Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu." (Al-Ahzab: 21)
Perhatikan kata yang dipakai: uswah, teladan. Bukan kitab, bukan manhaj. Yang diserahkan pertama-tama adalah sosok yang bisa dilihat dan diikuti. Teladan cuma bekerja kalau ia hadir dan bisa disaksikan. Ia tidak bisa difotokopi.
Lalu lihat ukuran kedewasaan dalam kisah Ibrahim dan Ismail:
ููููู ููุง ุจูููุบู ู ูุนููู ุงูุณููุนููู ููุงูู ููุง ุจูููููู
"Maka ketika anak itu sampai pada usia sanggup berusaha bersama-sama dengan dia, Ibrahim berkata: 'Hai anakku...'" (Ash-Shaffat: 102)
Ukuran kesiapannya bukan umur, bukan nilai, bukan hafalan. Ukurannya: sudah sanggup berusaha bersama-sama dengan ayahnya. Di situ percakapan besarnya baru dibuka. Selama ini saya membaca ayat itu sebagai kisah pengorbanan. Sekarang saya lihat hal lain di dalamnya: ada masa panjang sebelumnya, waktu Ismail tumbuh bersama ayahnya โ dan dari kebersamaan itulah kesiapan itu lahir.
Riwayat yang Bisa Kita Pertanggungjawabkan
Bagaimana Rasulullah menyiapkan orang untuk pekerjaan yang butuh kemampuan baru? Lihat Zaid bin Tsabit, penulis wahyu dan surat-surat Nabi.
Rasulullah berkata kepadanya kurang lebih: "Saya berkirim surat kepada orang, dan saya khawatir mereka menambah atau mengurangi surat saya. Karena itu pelajarilah bahasa Suryani." Zaid mempelajarinya, dan menurut riwayat ia menguasainya dalam waktu singkat โ sekitar tujuh belas hari. Bahasa Ibrani sekitar lima belas hari. Riwayat ini dicatat antara lain oleh Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim. Sebagian ulama menilai sanadnya ada kelemahan, tapi riwayatnya masyhur dan banyak dipakai.
Perhatikan apa yang tidak dilakukan Nabi. Beliau tidak mendirikan kelas bahasa Suryani. Tidak menyusun silabus. Tidak menetapkan target nilai. Tidak mengadakan ujian. Beliau memberi tugas nyata โ surat-surat kenegaraan โ dan bahasanya menyusul, karena memang dibutuhkan. Zaid belajar bahasa asing karena ada pekerjaan yang menuntutnya, bukan karena ada jadwal pelajaran.
Itulah bedanya mendidik dan mengajar. Dan bedanya bukan soal manis atau kerasnya cara. Bedanya: mengajar menyerahkan bahan, mendidik menyerahkan pekerjaan.
Yang Saya Kerjakan di Rumah
Hal yang sama saya alami dengan anak-anak saya sendiri, cuma saya baru sadar belakangan. Waktu saya ajak mereka bersih-bersih rumah, mengaji, mengajar โ mereka sedang mempelajari sesuatu. Tapi bukan pelajaran yang saya sampaikan.
Saya tahu mereka benar-benar dapat pelajaran itu ketika mereka mulai merasa punya peran yang sama seperti saya. Ketika mereka yang harus mendidik adiknya. Mengajari yang lebih kecil bacaan. Menegur yang keliru.
Di titik itu tidak ada lagi guru dan murid. Yang ada pekerjaan bersama, dan orang-orang yang sama-sama bertanggung jawab atas pekerjaan itu.
Bersambung ke bagian #3: "Ketika Murid Harus Mengajari Adiknya" โ tentang tingkat ketiga, yaitu mewariskan, dan apa yang hilang dari rumah kita hari ini.
Fahrizal Mukhdar
Guru Bahasa Arab
Menulis tentang pendidikan, pembelajaran bahasa Arab, dan refleksi kehidupan sekolah โ juga mengembangkan Bilarabiya.Online.
Suka tulisan ini? Masih ada banyak tulisan lain โ dan pembaca boleh ikut berdiskusi di kolom komentar.
Semua tulisan Tentang penulisTulisan terkait
Kategori yang sama dengan tulisan ini โ Pendidikan
Komentar
Belum ada komentar. Silakan jadi yang pertama.
Jangan lewatkan tulisan baru
Sekali tekan, tulisan baru langsung sampai ke HP-mu โ tanpa email, tanpa daftar.