Fahrizal Mukhdar
Fahrizal Mukhdar
Refleksi Al-Qur'an

Ketika Kegelisahan Tak Lagi Bisa Diabaikan

Fahrizal Mukhdar, guru Bahasa Arab Fahrizal Mukhdar · Guru Bahasa Arab • 26 Februari 2026 • ± 4 menit baca
Ketika Kegelisahan Tak Lagi Bisa Diabaikan

Pernahkah kamu merasa hidup di zaman yang terasa semakin berat, meski secara teknologi katanya semakin maju? Bekerja keras tapi tetap sulit bertahan. Ingin jujur tapi sistem mendorong untuk curang. Ingin hidup tenang tapi realitas justru penuh tekanan. Banyak orang hari ini merasakan kegelisahan yang sama: Menga…

Isi tulisan (4 bagian)
  1. QS. Ali ‘Imran Ayat 185–186
  2. Ujian yang Memurnikan Kesadaran Iman
  3. Ketika Bertahan dan Berjuang Menjadi Kesalahan
  4. Sampai Kapan Kita Bertahan?
Pernahkah kamu merasa hidup di zaman yang terasa semakin berat, meski secara teknologi katanya semakin maju? Bekerja keras tapi tetap sulit bertahan. Ingin jujur tapi sistem mendorong untuk curang. Ingin hidup tenang tapi realitas justru penuh tekanan. Banyak orang hari ini merasakan kegelisahan yang sama: Mengapa keadilan terasa jauh? Mengapa suara kita seperti tidak pernah benar-benar didengar? Mengapa untuk sekadar bertahan hidup, kita dipaksa masuk ke sistem yang bertentangan dengan nurani? Sebagian memilih diam, sebagian lagi lelah bertanya. Ada yang masih berusaha bertahan dengan iman, tapi justru merasa asing di tengah masyarakatnya sendiri. Bahkan tidak sedikit yang mulai ragu: apakah kegelisahan ini wajar, atau justru tanda iman yang melemah? Di titik inilah Al-Qur’an tidak datang dengan janji manis, tetapi dengan kejujuran yang menenangkan—bahwa apa yang kita rasakan bukan ilusi, dan apa yang kita hadapi bukan sesuatu yang di luar rencana-Nya.

QS. Ali ‘Imran Ayat 185–186

Allah Ta‘ala berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia telah beruntung. Kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. Ali ‘Imran: 185)
لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا ۚ وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
Sungguh, kamu akan diuji pada hartamu dan dirimu. Dan sungguh kamu akan mendengar banyak gangguan dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang musyrik. Tetapi jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sungguh yang demikian itu termasuk perkara yang patut diutamakan. (QS. Ali ‘Imran: 186)

Ujian yang Memurnikan Kesadaran Iman

Ayat-ayat ini bukan turun untuk meninabobokan manusia dengan harapan kosong. Ia hadir untuk membingkai kegelisahan kita hari ini: bahwa hidup orang beriman memang tidak dijanjikan bebas dari tekanan, tetapi dijanjikan makna di balik setiap tekanan. Hari ini, sebagai muslim, kita menghadapi ujian yang terasa menyeluruh. Secara politik, umat sering kali tidak benar-benar dilindungi. Suara diambil, tetapi kepentingan diabaikan. Yang ada justru eksploitasi, seolah umat hanyalah alat legitimasi kekuasaan, bukan subjek yang harus dijaga martabatnya. Secara informasi dan pendidikan, kita dijahati dengan cara yang halus. Sejarah dipersempit, kurikulum diarahkan, dan cara berpikir dibentuk agar jauh dari akar iman. Akibatnya, umat kesulitan maju dalam pemikiran dan kehilangan kepercayaan diri intelektualnya. Secara ekonomi, jebakan itu terasa lebih kejam. Sistem kapitalisme menjadikan uang sebagai pusat kehidupan. Ketika pintu rezeki halal terasa sempit, riba didorong sebagai solusi. Bukan karena umat tidak tahu bahayanya, tetapi karena sistem sengaja membuat pilihan yang benar terasa paling berat. Dalam urusan pangan, ironi itu semakin nyata. Negeri yang subur, dikenal sebagai negeri agraris, justru gagal berdiri mandiri. Ketergantungan dipelihara, sementara kemandirian hanya menjadi slogan. Impor beras hadir menjelma sebagai wujud penindasan pada petani kita. Semua ini diperkuat oleh cara pandang sekuler yang memisahkan iman dari kehidupan. Agama dipersempit menjadi urusan ritual, sementara kebijakan dan sistem berjalan tanpa takwa.

Ketika Bertahan dan Berjuang Menjadi Kesalahan

Yang paling menyakitkan bukan hanya ujiannya, tetapi stigma terhadap mereka yang berusaha keluar dari belenggu itu. Ketika ada upaya untuk kembali berpikir dengan iman, berbicara tentang keadilan dan kemandirian umat, gangguan pun datang. Dipersekusi, distigmatisasi, dicap radikal bahkan teroris. Ini persis dengan apa yang difirmankan-Nya:
“Dan sungguh kamu akan mendengar banyak gangguan…”
Artinya, gangguan itu bukan tanda kegagalan iman, tetapi justru tanda bahwa iman sedang diuji.

Sampai Kapan Kita Bertahan?

QS. Ali ‘Imran ayat 185 mengembalikan semua pertanyaan itu ke satu titik akhir: kematian. Hidup ini terbatas, dan dunia hanyalah kesenangan yang menipu. Maka pertanyaannya bukan lagi: apakah perjuangan ini akan berhasil? Tetapi: apakah kita sanggup menjaga iman sampai akhir? Bersabar dan bertakwa bukan berarti pasrah tanpa kesadaran. Ia adalah keteguhan untuk tidak menjual iman, meski sistem memaksa dan tekanan datang dari segala arah. Perjuangan ini bukan tentang menang cepat. Ia adalah tentang bertahan dalam kesadaran iman. Sampai kapan? Sampai mati. Karena di situlah kemenangan sejati itu ditentukan. Berat? Memang. Tapi, mereka yang bertahan dan berjuanglah yang meraih kemenangan sejati itu.
Bagikan
Fahrizal Mukhdar, guru Bahasa Arab

Fahrizal Mukhdar

Guru Bahasa Arab

Menulis tentang pendidikan, pembelajaran bahasa Arab, dan refleksi kehidupan sekolah — juga mengembangkan Bilarabiya.Online.

Tentang saya →

Suka tulisan ini? Masih ada banyak tulisan lain — dan pembaca boleh ikut berdiskusi di kolom komentar.

Semua tulisan Tentang penulis

Tulisan terkait

Kategori yang sama dengan tulisan ini — Refleksi Al-Qur'an

Komentar

Belum ada komentar. Silakan jadi yang pertama.

Tinggalkan komentar

Cukup nama dan komentar — tidak perlu email atau tautan.

Masuk dengan Google supaya komentarmu memakai namamu — atau lanjut tanpa login dengan mengisi nama di bawah.

Tampil setelah saya setujui.

Jangan lewatkan tulisan baru

Sekali tekan, tulisan baru langsung sampai ke HP-mu — tanpa email, tanpa daftar.