Adab yang Tidak Bisa Dituntut
Adab tidak hilang — dasar berpijaknya yang berpindah. Yang menilai kulit melahirkan anak yang pandai menyembunyikan diri; yang hanya menghangatkan melahirkan anak yang tak pernah mendengar kata tidak.
Isi tulisan (7 bagian)
Ada satu kalimat yang sering saya dengar di ruang guru, dan yang paling mengganggu saya bukan karena kalimat itu keluar dari mulut orang lain — tapi karena saya pernah mengucapkannya sendiri: "murid sekarang tidak ada adabnya."
Kalimat itu terasa benar. Dan justru karena terasa benar, ia jarang diperiksa. Setiap kali saya mengucapkannya, ada bagian kecil dari diri saya yang tidak nyaman — karena kalimat itu hanya menjelaskan satu sisi, sisi yang paling mudah dijelaskan.
Maka pertanyaan yang kemudian mengganggu saya lebih lama: yang hilang adab muridnya, atau alasan saya untuk dihormati?
Yang Tidak Boleh Dibantah
Saya tidak akan berpura-pura bahwa erosi itu tidak nyata. Ia nyata, dan siapa pun yang mengajar sekarang merasakannya.
Murid hari ini memperlakukan guru seperti penyedia jasa: bayar, dapat nilai, selesai. Layar mengajari mereka bahwa setiap otoritas harus diuji dulu sebelum dipercaya. Orang tua menuntut angka, bukan ilmu. Dan ada guru yang dihormati bukan karena ilmunya, melainkan karena takut nilainya dipermainkan.
Semua itu benar. Tapi menyebut yang di luar diri saja hanya setengah cerita — dan biasanya setengah cerita yang paling enak didengar.
Dari Mana Kekakuan Itu Diwarisi
Mari kita jujur soal asal-usulnya. Orang tua kita — orang tua dari guru-guru generasi saya — kebanyakan pragmatis. Mereka menilai segala sesuatu dari luarnya. Cara bicara yang tidak sesuai ekspektasi mereka sudah keburu diberi label: kurang ajar, tidak sopan, salah pergaulan.
Perhatikan apa yang dipelajari anak dari cara penilaian seperti itu. Bukan "jangan berbuat salah", melainkan "jangan sampai terlihat salah." Adab berubah menjadi topeng — dan topeng selalu menyembunyikan sesuatu di baliknya.
Namun di sini saya harus adil kepada mereka. Peneliti Ruth Chao, dalam kajiannya tahun 1994 di jurnal Child Development, menunjukkan bahwa label "otoriter" yang biasa dipakai psikologi Barat itu sebenarnya agak etnosentris. Pola asuh ketat di banyak keluarga Asia tidak berisi niat mendominasi, melainkan konsep chiao shun — melatih. Orang tua kita bukan ingin menindas; mereka ingin melatih sampai bisa.
Masalahnya bukan niatnya. Masalahnya bentuknya: komando tanpa penjelasan. Kontrol tanpa percakapan. Jadi yang kita warisi bukan kekejaman, melainkan kebaikan yang belum diuji bentuknya.
Ketika Hangat Kehilangan Batas
Generasi saya bereaksi terhadap itu. Dan reaksinya wajar: kami memilih jalan yang berlawanan. Pendekatan yang sekarang dikenal sebagai gentle parenting — mengutamakan kasih sayang, mengenali perasaan anak, dan mengatur emosi orang tuanya sendiri lebih dulu.
Data menunjukkan generasi kami memang membawa dua hal sekaligus: kekuatan dan luka. Survei kesehatan mental remaja nasional I-NAMHS tahun 2022 — kerja sama UGM, Johns Hopkins, dan University of Queensland — menemukan satu dari tiga remaja Indonesia (34,9 persen, setara 15,5 juta) mengalami masalah kesehatan mental dalam dua belas bulan terakhir; satu dari dua puluh memenuhi kriteria gangguan mental; dan hanya 2,6 persen yang pernah mengakses layanan konseling.
Jadi kami tumbuh lebih peka secara emosional — dan memang perlu peka. Tapi reaksi pun punya harga. Studi sistematis pertama tentang gentle parenting, yang diterbitkan Davidson dan Pezalla di jurnal PLoS ONE tahun 2024, menemukan bahwa lebih dari sepertiga orang tua yang mengaku memakai pendekatan ini melaporkan kelelahan dan ketidakpastian; dan pelaksanaan batas terhadap anak tidak seragam. Sampai hari ini, belum ada studi besar yang membandingkan hasil jangka panjang anak yang diasuh dengan pendekatan ini.
Sementara itu, literatur psikologi sejak Baumrind (1966) sampai meta-analisis Pinquart dan Kauser (2017) yang menelaah 428 studi di berbagai kawasan, konsisten menunjukkan satu hal: gaya asuh yang paling baik bukan yang paling hangat, dan bukan yang paling tegas — melainkan yang keduanya ada sekaligus: tuntutan yang jelas plus kehangatan yang nyata.
Dan di Indonesia, hasilnya tidak sesederhana yang diklaim banyak orang. Sebuah studi atas 500 remaja perkotaan menemukan pola asuh otoriter tidak berkaitan dengan hasil apa pun — berbeda dari temuan Barat. Jadi saya tidak akan menulis bahwa keras selalu merusak. Yang bisa saya tulis: dua ujung sama-sama pincang, karena masing-masing kehilangan satu dimensi.
Murid yang Menguji Keaslian
Lalu datanglah murid-murid hari ini — anak-anak dari guru generasi saya. Mereka masuk ke tengah pergeseran itu, dan yang mereka bawa bukan penolakan terhadap adab, melainkan ujian terhadap keaslian.
Mereka masih butuh adab. Adab lahir tetap penting — sopan, hormat, menjaga lisan. Tapi itu tidak lagi cukup. Mereka akan menghormati guru yang adil di depan semua orang, yang mengakui kekeliruannya, yang tidak membedakan anak pejabat dan anak tukang. Guru yang menuntut sopan tapi tidak adil akan mendapat sopan di depan wajahnya, dan ketidakhormatan di belakangnya.
Itu bukan generasi yang rusak. Itu generasi yang menilai dengan alat ukur yang berbeda dari alat ukur kita — dan alat ukur mereka tidak selalu salah.
Cara Nabi: Hangat pada Orangnya, Tegas pada Perbuatannya
Di sinilah saya selalu kembali ke satu riwayat yang membuat saya berhenti menuntut apa pun dari murid saya. Seorang Badui kencing di dalam masjid. Para sahabat bangkit — sebagian ingin menindaknya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
دَعُوهُ
"Biarkan dia." (HR al-Bukhari no. 219, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Setelah orang itu selesai, beliau meminta seember air disiramkan ke tempat itu, lalu bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ
"Sesungguhnya kalian diutus untuk memudahkan, bukan untuk menyulitkan." (HR al-Bukhari no. 219)
Perhatikan dua hal yang terjadi bersamaan di situ: perbuatannya tetap dibetulkan — airnya disiram, najisnya dibersihkan; tetapi orangnya tidak dihina. Tidak ada hukuman, tidak ada cap "tidak beradab", tidak ada murid lain yang dijadikan penonton.
Ada juga seorang sahabat bernama Nu’aiman yang dikenal sebagai penjenaka. Dalam kisah yang masyhur — meskipun sebagian ahli hadis menilai sanadnya lemah — ia melakukan ulah yang membuat orang lain marah, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menghardiknya. Beliau memahami karakternya, menyelesaikan akibat perbuatannya, lalu membiarkan orangnya tumbuh.
Dan kepada seorang lelaki yang meminta wasiat, beliau hanya berkata:
لَا تَغْضَبْ
"Jangan marah." Lelaki itu mengulang permintaannya berkali-kali, dan beliau tetap menjawab, "Jangan marah." (HR al-Bukhari no. 6116, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Itulah bedanya menegakkan adab dengan menuntut adab. Yang pertama membaca karakter orangnya, lalu memperbaiki perbuatannya. Yang kedua hanya menilai kulitnya, lalu menghukum orangnya.
Yang Kami Coba di Sekolah
Saya tidak ingin bab ini berhenti sebagai diagnosis. Di sekolah tempat saya mengajar, para guru mengikhtiarkan pembinaan adab itu — dan yang kami lakukan bukan hal yang muluk.
Secara tampak, perilaku memang dilatih: masuk kelas dengan salam, bicara dengan santun, meminta izin, menghormati yang lebih tua. Tetapi cara melatihnya bukan dengan penghakiman. Tegurannya lembut. Kesalahannya disampaikan lewat pertanyaan retoris yang membuat anak berpikir sendiri — bukan lewat kalimat yang mempermalukannya di depan kawan-kawannya.
Dan ada satu bagian yang menurut saya paling menentukan, yang jarang dibicarakan: guru juga dibina. Kami diarahkan untuk membangun pribadi yang layak mendapat perlakuan adab — guru yang menjadi teladan, guru yang mengayomi, tetapi tetap tegas. Jadi adab tidak dituntut dari murid saja; ia diusahakan dari kedua arah.
Alhamdulillah, sedikit demi sedikit budaya itu terbentuk. Bukan karena ada aturan yang menakuti, melainkan karena anak-anak melihat gurunya lebih dulu.
Penutup: Adab yang Tidak Bisa Dituntut
Maka judul bab ini bukan ajakan untuk berhenti mengajarkan adab. Justru sebaliknya: adab harus diajarkan — dilatih, dibiasakan, ditegakkan. Tapi ia tidak bisa dituntut seperti menagih utang. Ia ditumbuhkan dari dua arah: murid dilatih beradab, dan guru dilatih pantas diadabi.
Dan ada satu ujian terakhir yang jarang kita pikirkan. Selama guru masih berdiri di depan kelas, ia masih bisa memberi nilai, menegur, membela, atau memaafkan. Begitu ia tiada, tidak ada lagi yang bisa dituntut darinya — dan tidak ada lagi yang bisa ia tagih dari muridnya.
Di situlah adab yang sebenarnya kelihatan. Bukan pada saat guru masih bisa memberi sesuatu, melainkan pada saat guru sudah tidak bisa memberi apa-apa lagi: apakah ilmunya masih dijaga, namanya masih didoakan, dan amalnya masih diteruskan.
Bersambung ke bab berikutnya: menegur tanpa melukai.
Fahrizal Mukhdar
Guru Bahasa Arab
Menulis tentang pendidikan, pembelajaran bahasa Arab, dan refleksi kehidupan sekolah — juga mengembangkan Bilarabiya.Online.
Suka tulisan ini? Masih ada banyak tulisan lain — dan pembaca boleh ikut berdiskusi di kolom komentar.
Semua tulisan Tentang penulisTulisan terkait
Kategori yang sama dengan tulisan ini — Pendidikan
Terbaru
Dua tulisan terakhir di situs ini
Komentar
Belum ada komentar. Silakan jadi yang pertama.
Jangan lewatkan tulisan baru
Sekali tekan, tulisan baru langsung sampai ke HP-mu — tanpa email, tanpa daftar.