Fahrizal Mukhdar
Fahrizal Mukhdar
Pendidikan

Guru yang Dicintai Bukan yang Selalu Benar

Fahrizal Mukhdar, guru Bahasa Arab Fahrizal Mukhdar · Guru Bahasa Arab • 12 Oktober 2026 • ± 5 menit baca
Guru yang Dicintai Bukan yang Selalu Benar

Guru tidak dicintai karena tak pernah keliru — itu mustahil. Murid mencintai guru yang tidak mempertahankan kesalahannya hanya untuk menjaga kedudukan.

Isi tulisan (5 bagian)
  1. Kalau Beliau Lupa, Sahabat Mengingatkan
  2. Kisah yang Paling Menyentuh: Dzul Yadain
  3. Kenapa Guru Sulit Mengakui Salah
  4. Empat Kebiasaan Kecil yang Mengubah Banyak
  5. Guru yang Dicintai

Dulu saya menyangka guru yang dihormati adalah guru yang tidak pernah salah. Dan karena itu saya berjuang keras menjaga wibawa dengan satu cara yang salah: menutupi kalau saya keliru.

Seorang murid bertanya sesuatu yang saya tidak bisa jawab, saya menjawab seadanya lalu mengalihkan pembicaraan. Saya menulis satu kata Arab dengan harakat yang keliru di papan, seorang murid membetulkannya, dan saya berkata, "oh, itu cuma coretan." Padahal waktu itu saya tahu betul saya sedang menyelamatkan muka.

Sekarang saya tahu: tidak ada yang saya selamatkan. Yang terselamatkan hanya nama saya selama beberapa menit, dan yang tumbuh justru satu pelajaran buruk di kepala murid-murid saya — bahwa yang salah harus dipertahankan kalau ia seorang guru.

Kalau Beliau Lupa, Sahabat Mengingatkan

Ada satu riwayat yang membuat saya malu pada diri sendiri. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bercerita bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat, dan beliau menambah atau mengurangi. Setelah salam, beliau ditanya, "Wahai Rasulullah, apakah ada hal baru dalam shalat?" Beliau menjawab:

إِنَّهُ لَوْ حَدَثَ فِي الصَّلاَةِ شَىْءٌ أَنْبَأْتُكُمْ بِهِ، وَلَكِنْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ، فَإِذَا نَسِيتُ فَذَكِّرُونِي، وَإِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلاَتِهِ فَلْيَتَحَرَّ الصَّوَابَ فَلْيُتِمَّ عَلَيْهِ ثُمَّ لْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ

"Kalau ada hal baru dalam shalat, pasti aku kabarkan kepada kalian. Tetapi aku hanyalah manusia: aku lupa seperti kalian juga lupa. Maka apabila aku lupa, ingatkanlah aku." (HR Muslim no. 572, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)

Perhatikan kalimat itu. Yang mengucapkannya bukan orang biasa; seluruh perbuatannya menjadi contoh, dan seluruh ucapannya menjadi pedoman. Tetapi justru dari lisan beliau kita mendengar pengakuan itu: aku hanya manusia, aku bisa lupa.

Kalau seorang guru merasa wibawanya akan jatuh karena mengakui kekeliruan, ia sedang memasang ukuran yang lebih tinggi daripada ukuran yang dipasang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dirinya sendiri.

Kisah yang Paling Menyentuh: Dzul Yadain

Ada riwayat lain di kitab yang sama, dan menurut saya inilah pelajaran terbesar bagi seorang guru. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat bersama mereka ketika salah satu shalat petang, lalu beliau salam setelah dua rakaat. Kemudian beliau pergi ke sebatang pelepah kurma di arah kiblat masjid dan bersandar padanya, sementara di tengah jamaah ada Abu Bakar dan Umar — dan keduanya takut untuk berbicara. Orang-orang keluar dengan tergesa sambil berkata, "Shalat telah diqashar!"

Maka berdirilah seorang laki-laki bernama Dzul Yadain dan bertanya:

فَقَامَ ذُو الْيَدَيْنِ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَقُصِرَتِ الصَّلاَةُ أَمْ نَسِيتَ؟ فَنَظَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمِينًا وَشِمَالًا فَقَالَ: مَا يَقُولُ ذُو الْيَدَيْنِ؟ قَالُوا: صَدَقَ، لَمْ تُصَلِّ إِلاَّ رَكْعَتَيْنِ

"Wahai Rasulullah, apakah shalatnya telah diringkas, ataukah engkau lupa?" Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat ke kanan dan ke kiri lalu bersabda, "Apa yang dikatakan Dzul Yadain?" Mereka menjawab, "Ia benar, engkau tidak shalat kecuali dua rakaat." (HR Muslim no. 573, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Coba bayangkan suasana itu. Seorang murid berdiri di tengah jamaah dan berkata di depan semua orang: apakah engkau lupa? Kepada nabinya. Dan apa yang terjadi? Beliau tidak memarahinya, tidak menyebutnya tidak tahu adab, dan tidak berkata "jangan membantah guru". Beliau justru menoleh ke kanan dan ke kiri, bertanya apa yang dikatakan Dzul Yadain, lalu — setelah para sahabat membenarkannya — beliau menyempurnakan shalatnya dan tidak mengulang kesalahan itu kembali sesudah diketahui.

Sekarang perhatikan bagian yang paling menusuk: Abu Bakar dan Umar diam. Bukan karena mereka tidak tahu. Keduanya tahu. Mereka diam karena mereka sungkan kepada beliau. Orang yang paling tahu adab justru menjadi orang yang paling segan menyampaikan koreksi.

Kalau hal itu bisa terjadi di depan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apa lagi di depan kita — guru bahasa Arab di sebuah kelas yang jauh dari kata sempurna. Kalau murid-murid kita diam ketika kita keliru, jangan buru-buru merasa tenang. Bisa jadi itu bukan tanda mereka sudah paham, melainkan tanda mereka sudah segan.

Kenapa Guru Sulit Mengakui Salah

Jawabannya biasanya sederhana: gengsi. Kita mengira wibawa itu semacam gelas berisi air — sekali bocor, habis. Padahal wibawa guru bekerja dengan cara yang berlainan. Ia bertambah justru ketika guru terlihat jujur.

Saya mengalami keduanya, dan bedanya terasa sangat jauh. Guru yang tidak pernah mengaku salah membuat murid berhenti bertanya — sebab pertanyaan yang benar pun bisa berubah menjadi masalah. Sedangkan guru yang mengaku salah membuat murid berani berpikir, sebab mereka tahu kebenaran lebih penting daripada penampilan gurunya.

Empat Kebiasaan Kecil yang Mengubah Banyak

Pertama, perbaiki kekeliruan itu di depan kelas. Bukan harus menunggu ditanya. Cukup kalimat pendek: "kemarin saya salah menulis harakatnya, yang benar begini." Murid akan mengingat kalimat itu lebih lama daripada materi pelajarannya.

Kedua, berani mengatakan "saya tidak tahu". Untuk soal yang memang belum kita kuasai, jawaban jujur bukan aib. Yang aib adalah mengarang jawaban, sebab murid akan membawa karangan itu bertahun-tahun tanpa tahu asalnya keliru.

Ketiga, minta maaf bila teguran kita berlebihan. Ini bagian yang amat jarang kita lakukan, padahal tekanannya besar sekali: murid yang pernah diceramahi melebihi salahnya akan lebih menghargai guru yang datang dan berkata, "kemarin saya terlalu keras."

Keempat, katakan terus terang bahwa mengoreksi guru bukan pelanggaran. Sampaikan bahwa tugas murid bukan menyetujui semua yang kita ucapkan, melainkan menjaganya benar bersama-sama. Kelas yang muridnya tidak berani mengoreksi guru adalah kelas yang kesalahannya akan kita wariskan.

Guru yang Dicintai

Jadi ketika seorang guru berkata, "guru yang dicintai bukan yang selalu benar", maksudnya bukan bahwa guru boleh sembarangan dan tidak perlu belajar. Maksudnya begini: murid tidak mencintai guru karena guru itu tak pernah keliru — itu mustahil, sebab guru juga manusia yang lupa seperti yang dikatakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Murid mencintai guru yang kesalahan kecilnya tidak ia tutupi, dan yang tidak mempertahankan kesalahannya hanya untuk menjaga kedudukan.

Sebab yang paling kita takutkan sebenarnya bukan salah hari ini. Yang paling kita takutkan adalah salah yang kita wariskan — dan itu hanya bisa terjadi kalau tidak ada seorang pun yang berani berkata di depan kita: pak, itu keliru.

Bersambung ke bab berikutnya: guru yang mengajar dengan hidupnya, bukan hanya dengan ucapannya.

Bagikan
Fahrizal Mukhdar, guru Bahasa Arab

Fahrizal Mukhdar

Guru Bahasa Arab

Menulis tentang pendidikan, pembelajaran bahasa Arab, dan refleksi kehidupan sekolah — juga mengembangkan Bilarabiya.Online.

Tentang saya →

Suka tulisan ini? Masih ada banyak tulisan lain — dan pembaca boleh ikut berdiskusi di kolom komentar.

Semua tulisan Tentang penulis

Tulisan terkait

Kategori yang sama dengan tulisan ini — Pendidikan

Komentar

Belum ada komentar. Silakan jadi yang pertama.

Tinggalkan komentar

Cukup nama dan komentar — tidak perlu email atau tautan.

Masuk dengan Google supaya komentarmu memakai namamu — atau lanjut tanpa login dengan mengisi nama di bawah.

Tampil setelah saya setujui.

Jangan lewatkan tulisan baru

Sekali tekan, tulisan baru langsung sampai ke HP-mu — tanpa email, tanpa daftar.