Besok Pagi, Apa yang Saya Ubah?
Bab jembatan: beban yang tidak berubah jadi gerakan akan berakhir jadi keluhan. Tujuh langkah kecil yang bisa dimulai besok pagi, dengan ukuran amalan yang paling terus-menerus walaupun sedikit.
Isi tulisan (3 bagian)
Bahaya terbesar setelah membaca semua yang berat itu bukan putus asa. Bahaya terbesarnya adalah merasa sudah tahu, lalu tidak mengubah apa pun.
Saya pernah ada di titik itu. Saya bisa menjelaskan kerusakan sebuah sistem dengan rapi, saya bisa menyebut istilah-istilahnya, dan saya merasa sudah melakukan bagian saya. Padahal yang berubah di kelas saya hari itu: tidak ada.
Beban yang tidak berubah menjadi gerakan akan berakhir menjadi keluhan. Dan keluhan tidak pernah mengubah kelas.
Ukuran yang Dipakai Al-Qur’an
Perhatikan pilihan kata dalam surat yang paling ringkas ini:
وَٱلْعَصْرِ
"Demi masa." (Al-‘Ashr: 1)
إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ
"kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran, dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran." (Al-‘Ashr: 3)
Yang diselamatkan dari kerugian bukan yang paling tahu. Melainkan yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, dan yang saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Semuanya kata kerja. Tidak ada satu pun yang berbentuk pengetahuan saja.
Dan ukuran besar-kecilnya amal sudah dijelaskan Nabi:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
"Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus, walaupun sedikit." (HR al-Bukhari no. 6464, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha)
Jadi bukan "yang paling besar", bukan "yang paling mengesankan", tapi yang paling terus-menerus. Ini kabar baik bagi guru yang tidak punya banyak waktu. Yang dibutuhkan bukan proyek raksasa, melainkan langkah kecil yang tidak berhenti.
Tujuh Hal yang Bisa Dimulai Besok Pagi
Ini yang saya susun untuk diri saya sendiri. Semuanya kecil, semuanya bisa dikerjakan tanpa izin siapa pun, dan semuanya bisa diulang.
Satu, siapkan jawaban. Setiap pekan, ambil satu hal yang sedang ramai di antara murid — tontonan, istilah baru, kebiasaan baru — dan pelajari sampai saya punya jawaban yang tenang. Bukan jawaban menghakimi, bukan juga diam. Guru yang kedapatan tidak tahu apa-apa akan kehilangan tempat di percakapan itu.
Dua, bereskan rumah sendiri dulu. Sebelum bicara soal layar kepada murid dan orang tua, saya periksa dulu waktu layar saya dan waktu layar anak saya. Guru yang melarang sesuatu yang ia kerjakan sendiri tidak akan dipercaya lama.
Tiga, satu pekerjaan nyata setiap pekan. Ajak murid mengerjakan sesuatu yang hasilnya dipakai orang: menyiapkan, menata, memasang, melayani. Bukan tugas sekolah, bukan latihan yang dibuang. Satu saja setiap pekan.
Empat, satu catatan mengajar setiap pekan. Satu halaman. Apa yang berhasil, apa yang gagal, dan bagian mana yang saya ulangi dari kekeliruan lama. Tanpa catatan, saya akan mengulang kesalahan yang sama bertahun-tahun tanpa sadar.
Lima, satu kabar baik untuk orang tua setiap pekan. Kabar buruk sudah biasa mereka terima. Kirim satu hal baik tentang anak mereka. Itu membangun kepercayaan yang nanti sangat dibutuhkan saat ada masalah.
Enam, satu kebiasaan baik yang diulang terus. Misalnya membuka atau menutup pelajaran dengan satu kalimat yang sama, atau memakai satu ungkapan bahasa Arab di setiap kesempatan. Tidak perlu banyak. Yang penting diulang.
Tujuh, periksa satu hal yang saya ajarkan. Ambil satu materi atau satu kebiasaan di kelas, lalu tanyakan: ini berguna untuk hidup murid saya, dan sesuai dengan ukuran Islam, atau ini hanya warisan kebiasaan yang tidak pernah saya periksa?
Kecil, Tapi Terus-Menerus
Tidak ada satu pun dari tujuh hal itu yang mengesankan. Tidak akan ada yang menulis berita tentang seorang guru yang mengirim kabar baik ke orang tua, atau yang menulis satu halaman catatan setiap pekan.
Tapi justru itu ukurannya. Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus, walaupun sedikit.
Dan kalau langkah-langkah itu dikerjakan terus, yang tumbuh bukan kepandaian murid. Yang tumbuh sesuatu yang tidak bisa dibeli dan tidak bisa dipalsukan: kepercayaan. Dan dari kepercayaan itulah tumbuh cinta yang saya maksud di awal buku ini.
Bersambung ke bab berikutnya: doa seorang guru untuk muridnya.
Fahrizal Mukhdar
Guru Bahasa Arab
Menulis tentang pendidikan, pembelajaran bahasa Arab, dan refleksi kehidupan sekolah — juga mengembangkan Bilarabiya.Online.
Suka tulisan ini? Masih ada banyak tulisan lain — dan pembaca boleh ikut berdiskusi di kolom komentar.
Semua tulisan Tentang penulisTulisan terkait
Kategori yang sama dengan tulisan ini — Pendidikan
Terbaru
Dua tulisan terakhir di situs ini
Komentar
Belum ada komentar. Silakan jadi yang pertama.
Jangan lewatkan tulisan baru
Sekali tekan, tulisan baru langsung sampai ke HP-mu — tanpa email, tanpa daftar.