Apa yang Membuat Murid Merasa Aman
Di satu kelas murid berani salah, di kelas lain mereka diam. Selisihnya bukan materi, melainkan satu hal: apakah murid merasa aman — dan rasa aman itu punya aturannya sendiri.
Isi tulisan (6 bagian)
Saya pernah masuk ke dua kelas yang berbeda, dan perbedaannya tidak ada hubungannya dengan kepintaran muridnya.
Di kelas pertama, murid berani mencoba. Salah, lalu mencoba lagi. Di kelas kedua, mereka diam. Ditanya, mereka menggeleng sambil tersenyum. Bukan karena tidak tahu, tapi karena mereka merasa salah sedikit saja akan berakibat sesuatu yang tidak menyenangkan.
Selisih antara dua kelas itu bukan materi, bukan jam pelajaran, bukan jumlah murid. Selisihnya satu hal: apakah murid merasa aman.
Yang Membuat Murid Menjauh
Al-Qur’an menyebut sebabnya dengan sangat tepat, dalam sebuah ayat yang turun setelah kekalahan di Perang Uhud — ketika pasukan sedang rapuh dan suasana sedang tidak baik:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ
"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka; mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya." (Ali Imran: 159)
Perhatikan bagian akhirnya. Kalau engkau keras dan berhati kasar, mereka akan menjauh. Yang membuat orang menjauh bukan materinya yang berat, melainkan caranya disampaikan. Ayat itu bahkan menyebut sebabnya bukan "berkata keras", melainkan hati yang kasar — sebab hati yang kasar akan tetap terasa, meskipun kata-katanya lembut.
Dan bagaimana teladan yang paling dekat dengan kita? Anas bin Malik pernah menuturkan pengalamannya:
"Aku melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selama sepuluh tahun. Beliau tidak pernah berkata kepadaku ‘uf’ — kata kesal yang paling ringan sekalipun — dan tidak pernah mencelaku dengan ucapan: ‘mengapa kamu lakukan ini, atau mengapa tidak kamu lakukan itu’." (HR al-Bukhari no. 6038, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)
Sepuluh tahun. Setiap hari, dari pagi sampai malam. Tidak ada satu pun teguran yang keluar karena kekesalan.
Aman Bukan Berarti Dimanja
Di sini saya perlu menegaskan sesuatu, karena kata "aman" sering disalahpahami.
Murid merasa aman bukan karena gurunya tidak punya aturan. Justru sebaliknya: rasa aman tumbuh dari aturan yang jelas dan diberlakukan sama untuk semua. Yang membuat murid gelisah bukan larangan, melainkan larangan yang berubah-ubah menurut suasana hati gurunya hari itu.
Jadi yang menyelamatkan kelas bukan ketiadaan aturan, melainkan kepastian. Murid perlu tahu di mana batasnya, apa yang membuat ia dimarahi, dan apa yang tidak. Tanpa kepastian, mereka akan memilih jalan yang paling aman untuk diri sendiri: diam dan tidak mencoba.
Penyaring Afektif: Kenapa Rasa Aman Bukan Pelengkap
Ini bukan hanya pengalaman saya. Dunia riset sudah punya istilahnya, dan istilah itu perlu kita kenal karena ia menjelaskan hampir semua yang terjadi di kelas.
Namanya penyaring afektif — affective filter. Istilah ini pertama dipakai oleh Heidi Dulay dan Marina Burt pada 1977, lalu dikembangkan dan dipopulerkan Stephen Krashen dalam bukunya tahun 1982. Gagasannya sederhana, dan bagi guru pengaruhnya besar.
Bayangkan sebuah penyaring yang berdiri di antara pelajaran dan kepala murid. Selama penyaring itu rendah, apa yang kita sampaikan masuk dengan lancar. Begitu penyaring itu naik, ia menahan hampir semuanya — sebaik apa pun materinya, secanggih apa pun metode kita.
Menurut Krashen, ada tiga hal yang menentukan naik-turunnya penyaring itu:
- Motivasi — apakah murid punya alasan untuk belajar;
- Kepercayaan diri — apakah ia merasa sanggup;
- Kecemasan — apakah ia takut salah, takut ditertawakan, atau takut dimarahi.
Perhatikan hal penting dari daftar itu: tidak satu pun berhubungan dengan kepintaran murid. Yang menentukan masuk atau tidaknya pelajaran kita adalah suasana hatinya, bukan kemampuan otaknya. Dan suasana hati itu sebagian besar kita yang membuatnya — guru yang menyambut jawaban salah dengan tatapan tertentu, guru yang menertawakan, atau guru yang membanding-bandingkan.
Di sini saya sempat salah paham bertahun-tahun. Saya kira penyaring afektif hanya soal guru harus ramah. Ternyata bukan. Seorang guru bisa sangat ramah tapi tidak dipercaya, dan penyaring murid tetap tinggi. Dan seorang guru bisa bicara datar tanpa senyum, tetapi murid merasa aman karena ia tahu gurunya adil dan bisa diandalkan. Yang menurunkan penyaring bukan keramahan, melainkan rasa aman.
Beberapa kajian di Indonesia mencatat hal yang sama pada pelajaran bahasa Arab. Sebuah penelitian pada mahasiswa menemukan rata-rata kecemasan mereka tergolong tinggi, dan penelitian lain menemukan lebih dari separuh murid berada pada tingkat cemas sedang. Ada juga penelitian yang mencoba menurunkan kecemasan lewat latihan relaksasi — dan hasilnya menarik: kecemasan memang turun cukup besar, tetapi kemampuan berbicara mereka tidak otomatis naik.
Kesimpulan itu jujur dan perlu kita terima: rasa aman adalah pintu masuk, bukan jaminan. Tanpa rasa aman, tidak ada yang bisa masuk. Tetapi dengan rasa aman saja, murid belum tentu berkembang — ia masih perlu benar-benar memakai apa yang dipelajarinya.
Namun ingat urutannya. Tidak masuk akal menuntut murid memakai sesuatu yang belum pernah sampai kepadanya. Pintu dulu, baru ruangannya.
Lelah Belajar, atau Lelah Emosi?
Ini bagian yang paling ingin saya tegaskan, karena saya sering mendengar kesimpulan yang keliru — termasuk dari diri saya sendiri dulu.
Kalau murid kelihatan lelah, cepat bosan, atau tidak bersemangat, kesimpulan yang cepat diambil biasanya: anaknya malas, atau pelajarannya terlalu berat.
Padahal ada dua macam lelah, dan keduanya sangat berbeda.
Yang pertama, lelah belajar. Ini lelah yang wajar — dari berpikir, menghafal, mencoba, dan berulang kali salah. Otak memang bekerja, dan bekerja membuat lelah. Lelah jenis ini justru pertanda belajar sedang berlangsung.
Yang kedua, lelah emosi. Ini lelah karena harus terus menjaga diri: takut salah, takut dipermalukan, merasa tidak akan pernah cukup baik, atau merasa tidak diterima di kelasnya sendiri. Lelah jenis ini tidak berasal dari pelajaran, melainkan dari suasana.
Dan inilah yang perlu ditegaskan: lelah belajar akan menjadi masalah kalau ia datang bersama lelah emosi. Ketika keduanya bertumpuk, murid bukan cuma letih — ia kehilangan alasan untuk terus mencoba. Penyaring afektifnya naik, dan pelajaran berhenti masuk sama sekali.
Tetapi kalau emosinya aman dan motivasinya tetap hidup, lelah belajar tidak akan menghambat. Ia hanya akan menjadikan belajar sesuatu yang perlu diistirahatkan, bukan sesuatu yang perlu ditinggalkan.
Buktinya bisa kita lihat di mana-mana, dan tidak perlu jauh-jauh mencari. Anak bisa berjam-jam mengerjakan sesuatu yang ia sukai dan merasa sanggup, lalu tiba-tiba tidak tahan sepuluh menit untuk sesuatu yang membuatnya takut gagal. Yang membedakan bukan tingkat kesulitannya, melainkan keadaan hatinya.
Karena itu kesimpulan saya begini. Tugas kita bukan membuat pelajaran menjadi mudah, dan bukan juga membuat murid tidak pernah lelah. Tugas kita adalah menjaga agar kelelahannya tetap berada di jenis yang pertama. Sesudah itu, kita justru boleh menuntut lebih banyak kepada mereka — sebab orang yang merasa aman mampu mengerjakan jauh lebih banyak daripada yang kita perkirakan.
Dan perlu saya tambahkan satu hal, supaya tidak salah arah: menjaga rasa aman bukan berarti selalu menyenangkan murid. Ada saatnya guru harus keras, menolak, dan menuntut. Yang membuat itu tidak merusak adalah kejelasan — murid tahu bahwa ketegasan itu datang dari kepedulian, bukan dari kekesalan pribadi. Itu pula yang kita bahas di bab sebelumnya.
Enam Kebiasaan yang Membangun Rasa Aman
Pertama, boleh salah tanpa dipermalukan. Kesalahan diperiksa, bukan dipertontonkan. Kalau seorang murid salah, saya sebaiknya membetulkan perbuatannya, bukan menghadirkan dia sebagai contoh keburukan di depan kawannya.
Kedua, jangan membanding-bandingkan. Kalimat seperti "kamu ini kok tidak seperti kakakmu" memang bisa memacu satu orang, tetapi ia mengorbankan orang lain — dan yang dikorbankan akan belajar bahwa kelas ini bukan tempat yang aman.
Ketiga, jaga yang rahasia. Kalau murid menceritakan masalahnya, jangan sampai cerita itu menjadi bahan pembicaraan di kelas lain. Sekali kita mengkhianatinya, semua yang lain akan menutup mulut untuk selamanya.
Keempat, jangan melampiaskan hari yang buruk kepada kelas. Murid bisa membaca suasana. Kalau marah hari ini dipicu urusan di rumah, mereka akan menyimpulkan bahwa guru mereka tidak bisa diprediksi — dan yang tidak bisa diprediksi selalu membuat orang berhati-hati berlebihan.
Kelima, dengarkan sampai selesai. Sebelum menilai, tanyakan dulu apa yang terjadi. Banyak kesalahan yang saya kira kemalasan ternyata berawal dari sesuatu yang tidak saya ketahui.
Keenam, pastikan murid tahu bahwa kita ada di pihaknya. Bukan pihak yang selalu membenarkan, tapi pihak yang menginginkan ia berhasil. Bedanya sederhana: yang satu membela, yang lain menemani.
Ini Baru Pintu Pertama
Kalau rasa aman adalah pintu, pertanyaan berikutnya jadi masuk akal: apa yang membuat murid merasa aman kepada saya?
Dari pengalaman dan dari apa yang saya baca, jawabannya bermuara pada tiga hal. Murid merasa aman kepada guru yang mengasah dirinya — sebab guru yang tidak siap membuat murid menanggung akibat ketidaksiapannya. Mereka merasa aman kepada guru yang memahami muridnya — sebab orang yang dipahami merasa diperlakukan sebagai manusia, bukan sebagai kewajiban. Dan mereka merasa aman kepada guru yang memahami zamannya — sebab guru yang tidak tahu apa yang anak-anaknya tonton dan pikirkan akan terasa hidup di dunia yang sudah lewat.
Ketiga hal itulah yang akan kita bahas di bagian-bagian berikutnya. Bukan sebagai daftar syarat, melainkan sebagai tiga pekerjaan yang tidak pernah selesai.
Fahrizal Mukhdar
Guru Bahasa Arab
Menulis tentang pendidikan, pembelajaran bahasa Arab, dan refleksi kehidupan sekolah — juga mengembangkan Bilarabiya.Online.
Suka tulisan ini? Masih ada banyak tulisan lain — dan pembaca boleh ikut berdiskusi di kolom komentar.
Semua tulisan Tentang penulisTulisan terkait
Kategori yang sama dengan tulisan ini — Pendidikan
Terbaru
Dua tulisan terakhir di situs ini
Komentar
Belum ada komentar. Silakan jadi yang pertama.
Jangan lewatkan tulisan baru
Sekali tekan, tulisan baru langsung sampai ke HP-mu — tanpa email, tanpa daftar.