Sekarang Saya Tahu Apa yang Menghadang Murid Saya
Bab jembatan: guru bertemu murid dua sampai empat jam sepekan, sementara ada pihak ketiga yang menemani mereka berjam-jam setiap hari. Guru tidak boleh acuh pada dunia yang membentuk muridnya.
Isi tulisan (3 bagian)
Saya kira saya sudah cukup mengenal murid saya.
Saya tahu namanya satu per satu. Saya tahu siapa yang pemalu dan siapa yang suka mengganggu. Saya tahu siapa yang perlu didekati pelan-pelan dan siapa yang cukup ditatap lalu paham. Saya bahkan tahu siapa yang sering tidak sarapan sebelum ke sekolah.
Lalu suatu hari saya menghitung jam. Saya bertemu murid saya sekitar dua sampai empat jam dalam sepekan. Itu pun terbagi untuk banyak orang, banyak materi, dan banyak urusan administrasi yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran.
Di sisi lain, ada yang menemani mereka berjam-jam setiap hari. Tidak libur, tidak perlu absen, tidak lelah. Dan ia berbicara dengan cara yang jauh lebih menarik daripada cara saya.
Ada Pihak Ketiga
Selama ini saya menulis dan berpikir seolah hanya ada dua pihak dalam pendidikan: guru dan murid. Itu anggapan yang keliru, dan sekarang saya tahu. Ada pihak ketiga, dan ia jauh lebih rajin daripada saya.
Al-Qur’an sudah mengingatkan soal pembisik yang bukan dari kalangan jin saja:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِىٍّ عَدُوًّا شَيَـٰطِينَ ٱلْإِنسِ وَٱلْجِنِّ يُوحِى بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ ٱلْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ
"Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhan-mu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan." (Al-An’am: 112)
Perkataan-perkataan yang indah untuk menipu. Bukan ancaman, bukan bentakan. Yang menipu justru kata-kata yang indah. Yang menjatuhkan tidak datang dengan wajah seram, tapi dengan wajah yang menyenangkan, dengan suara yang membuat kita ingin terus mendengar.
Kalau dulu pembisik itu datang dari mulut ke mulut, sekarang ia masuk lewat benda yang kita berikan sendiri kepada anak-anak kita: layar. Ia ada di saku, di kamar, dan di atas meja makan.
Murid Saya Bukan Kepala yang Kosong
Ini pergeseran cara pandang yang saya butuhkan sebagai guru.
Saya sering membayangkan murid sebagai kepala kosong yang menunggu saya isi. Kenyataannya tidak. Murid saya datang ke kelas dengan kepala yang sudah diisi pihak lain — lebih dahulu, lebih lama, dan lebih memikat. Ia datang dengan narasi yang sudah jadi tentang dunia, tentang dirinya, tentang apa yang pantas dan apa yang memalukan.
Kalau saya tidak tahu apa yang sudah ada di kepalanya, seluruh penjelasan saya akan terasa seperti suara lain di dalam ruangan yang ramai.
Dan kalimat "anak sekarang memang begitu" adalah cara paling mudah untuk lari dari kenyataan itu. Kalimat itu menyalahkan orang yang paling lemah posisinya: anak yang belum pernah diajak bicara soal apa yang sedang ia tonton.
Yang Harus Saya Kerjakan Sebelum Masuk Kelas
Jadi bagian berikutnya dari buku ini bukan kritik sosial. Saya tidak sedang mengomentari zaman dari kursi pengamat. Saya sedang menyiapkan diri, karena beberapa hal harus punya jawaban sebelum saya masuk kelas:
Ukuran manusia yang dipakai di sekolah-sekolah kita. Pola pembangkangan yang sangat tua tapi selalu baru caranya. Layar yang menemani murid saya lebih lama dari saya. Kebebasan yang kehilangan batas. Kapitalisme yang menyusup ke kurikulum. Dan rasa malu yang pergi entah ke mana.
Semua itu bukan topik yang jauh. Semuanya hal-hal yang saya temui di kelas, kadang tanpa saya sadari.
Bersambung ke bagian keempat: guru yang dicintai memahami zamannya.
Fahrizal Mukhdar
Guru Bahasa Arab
Menulis tentang pendidikan, pembelajaran bahasa Arab, dan refleksi kehidupan sekolah — juga mengembangkan Bilarabiya.Online.
Suka tulisan ini? Masih ada banyak tulisan lain — dan pembaca boleh ikut berdiskusi di kolom komentar.
Semua tulisan Tentang penulisTulisan terkait
Kategori yang sama dengan tulisan ini — Pendidikan
Terbaru
Dua tulisan terakhir di situs ini
Komentar
Belum ada komentar. Silakan jadi yang pertama.
Jangan lewatkan tulisan baru
Sekali tekan, tulisan baru langsung sampai ke HP-mu — tanpa email, tanpa daftar.