Ilmu Tidak Cukup Membuat Murid Belajar
Bab jembatan: setelah bertahun-tahun menambah ilmu, hasil di kelas tidak berubah. Ternyata ilmu tidak otomatis membuat murid belajar — yang membuat mereka belajar adalah dikerjakan bersama.
Isi tulisan (3 bagian)
Ada satu perasaan yang berbahaya bagi seorang guru: merasa sudah cukup.
Saya pernah ada di titik itu. Setelah bertahun-tahun mengajar, bacaan saya bertambah. Saya mulai hafal istilah-istilah teori, tahu nama-nama penelitinya, dan bisa menjelaskan kenapa cara lama gagal dan kenapa cara baru lebih masuk akal. Di ruang rapat, saya jadi orang yang paling banyak bicara soal metode.
Dan itu membuat saya merasa sedang berjalan ke arah yang benar.
Yang membuat saya berhenti bukan satu peristiwa besar. Yang membuat saya berhenti adalah hal-hal yang saya lihat berulang di kelas: murid yang diam, murid yang bisa menjawab soal tapi tidak bisa memakai bahasanya, dan murid yang paham di pertemuan ini lalu lupa di pertemuan berikutnya.
Saya sudah menambah ilmu. Kenapa hasilnya sama saja?
Ilmu yang Dipikul, Tapi Tidak Dijalankan
Ada perumpamaan dalam Al-Qur’an yang membuat saya tidak nyaman setiap kali mengingatnya:
مَثَلُ ٱلَّذِينَ حُمِّلُوا۟ ٱلتَّوْرَىٰةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ ٱلْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًۢا ۚ بِئْسَ مَثَلُ ٱلْقَوْمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔايَـٰتِ ٱللَّهِ ۚ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلظَّـٰلِمِينَ
"Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim." (Al-Jumu’ah: 5)
Keledai yang membawa kitab-kitab tebal. Ia membawa ilmu, tapi ilmunya tidak mengubah jalannya sedikit pun. Ia tetap keledai, dengan beban kitab di punggungnya.
Saya membaca ayat itu dan bertanya pada diri sendiri: berapa banyak dari bacaan saya yang sebenarnya cuma menjadi beban di punggung, tanpa mengubah apa yang saya kerjakan di depan kelas?
Lalu ada satu teguran yang lebih keras lagi, dan kali ini jelas sekali sasarannya kepada orang yang berbicara:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?" (As-Saff: 2)
Jangan buru-buru mengarahkan ayat itu kepada murid. Guru jauh lebih pantas mendengarnya. Kita yang paling banyak bicara soal cara mengajar, soal metode, soal teori, soal seharusnya begini dan seharusnya begitu. Dan kita juga yang paling sering tidak mengerjakan apa yang kita ucapkan.
Bedanya Tahu dan Mengubah
Pelajarannya sederhana, tapi butuh waktu bertahun-tahun sampai saya mengakuinya: ilmu tidak otomatis membuat murid belajar.
Ilmu membuat saya lebih baik dalam menjelaskan. Tapi murid tidak belajar dari penjelasan saya. Murid belajar dari apa yang mereka kerjakan, dari apa yang mereka lihat saya kerjakan, dan dari apakah mereka merasa terlibat atau cuma menonton.
Karena itu, ketika sesuatu tidak berhasil di kelas, pertanyaan pertama yang harus saya ajukan bukan "apakah murid saya kurang mampu", dan bukan pula "apakah murid saya malas". Pertanyaan pertamanya: apakah saya sudah melibatkan mereka, atau baru menjelaskan kepada mereka?
Ada bahaya lain yang jarang dibicarakan. Ilmu yang menumpuk tanpa dikerjakan bisa membuat guru makin jauh dari muridnya. Bukannya makin dekat, tapi makin pintar menjelaskan dan makin sedikit mendengarkan. Makin banyak yang ingin disampaikan, makin sedikit ruang bagi murid untuk mencoba. Dan dari luar, itu tampak seperti guru yang sedang bekerja keras. Padahal ia sedang menjauh.
Ukuran yang Saya Ubah
Sejak itu saya mengubah ukuran keberhasilan saya sendiri. Bukan berapa banyak yang saya kuasai, tapi berapa banyak yang murid kerjakan. Bukan seberapa kuat penjelasan saya, tapi seberapa sering mereka mau mencoba walaupun salah.
Dan perubahan ukuran itu memaksa saya melakukan satu hal yang tidak nyaman: berhenti mengajar dari podium.
Bersambung ke bagian berikutnya: tiga tingkat pekerjaan seorang guru.
Fahrizal Mukhdar
Guru Bahasa Arab
Menulis tentang pendidikan, pembelajaran bahasa Arab, dan refleksi kehidupan sekolah — juga mengembangkan Bilarabiya.Online.
Suka tulisan ini? Masih ada banyak tulisan lain — dan pembaca boleh ikut berdiskusi di kolom komentar.
Semua tulisan Tentang penulisTulisan terkait
Kategori yang sama dengan tulisan ini — Pendidikan
Terbaru
Dua tulisan terakhir di situs ini
Komentar
Belum ada komentar. Silakan jadi yang pertama.
Jangan lewatkan tulisan baru
Sekali tekan, tulisan baru langsung sampai ke HP-mu — tanpa email, tanpa daftar.