Fahrizal Mukhdar
Fahrizal Mukhdar
Opini

Ketika Guru Tidak Lagi Tegak, Masyarakat Ikut Meremehkan

Fahrizal Mukhdar, guru Bahasa Arab Fahrizal Mukhdar · Guru Bahasa Arab • 20 Desember 2025 • ± 3 menit baca
Ketika Guru Tidak Lagi Tegak, Masyarakat Ikut Meremehkan

Apresiasi sosial tidak hanya lahir dari sistem, tapi juga dari sikap kolektif profesi. Fakta pahitnya: sebagian guru memang kehilangan daya wibawa di mata masyarakat. Bukan karena ilmunya rendah, tapi karena: Sikap profesional yang tidak konsisten Ketidakberanian menjaga batas peran Lemah dalam komunik…

Isi tulisan (6 bagian)
  1. Wibawa Guru Tidak Datang dari Seragam, Tapi dari Sikap
  2. Lemahnya Posisi Guru di Hadapan Wali Murid
  3. Bukan Guru yang Lemah, Tapi Budaya Profesi yang Kurang Kuat
  4. Apresiasi Tidak Akan Datang Jika Guru Tidak Menuntutnya dengan Bermartabat
  5. Jalan Keluar: Menguatkan Guru dari Dalam
  6. Penutup: Wibawa Tidak Bisa Diminta, Tapi Dibangun
Apresiasi sosial tidak hanya lahir dari sistem, tapi juga dari sikap kolektif profesi. Fakta pahitnya: sebagian guru memang kehilangan daya wibawa di mata masyarakat. Bukan karena ilmunya rendah, tapi karena:
  • Sikap profesional yang tidak konsisten
  • Ketidakberanian menjaga batas peran
  • Lemah dalam komunikasi dan argumentasi
  • Terlalu defensif atau justru pasif saat berhadapan dengan wali murid
Akibatnya, guru mudah digeser posisinya—dari pendidik menjadi “penyedia jasa pendidikan”.

Wibawa Guru Tidak Datang dari Seragam, Tapi dari Sikap

Wibawa guru bukan bawaan jabatan, melainkan hasil dari:
  • Konsistensi sikap
  • Kejelasan nilai
  • Keberanian berbicara benar
  • Ketegasan yang rasional
Ketika guru:
  • Takut ditegur orang tua
  • Selalu mengalah demi “aman”
  • Tidak berani menjelaskan batas peran pendidikan
  • Enggan berargumentasi berbasis ilmu dan data
Maka yang terjadi: 👉 otoritas moral guru runtuh pelan-pelan.

Lemahnya Posisi Guru di Hadapan Wali Murid

Salah satu titik paling krusial adalah relasi guru–wali murid. Realitasnya:
  • Banyak guru merasa inferior di hadapan orang tua
  • Takut dilaporkan, diviralkan, atau dipersoalkan
Akhirnya memilih diam atau mengikuti kemauan wali murid Padahal, mendidik anak bukan wilayah tunggal orang tua, dan juga bukan sepenuhnya urusan sekolah. Ketika guru tidak mampu:
  • Menjelaskan peran pendidikan sekolah
  • Menegaskan batas otoritas wali murid
  • Berargumentasi secara pedagogik dan etis
Maka kontrol pendidikan bergeser ke pihak yang paling vokal, bukan yang paling kompeten.

Bukan Guru yang Lemah, Tapi Budaya Profesi yang Kurang Kuat

Penting dicatat: Ini bukan tuduhan individual, tapi masalah budaya profesi. Banyak guru sebenarnya:
  • Paham secara akademik
  • Peduli pada anak
  • Bekerja sungguh-sungguh
Namun:
  • Tidak dilatih komunikasi konflik
  • Tidak dibekali keberanian profesional
  • Tidak didukung sistem saat berkonflik
Sering “dikorbankan” oleh institusi demi meredam masalah Akhirnya guru belajar satu hal:
“Lebih aman diam daripada benar.”
Dan ini mematikan wibawa kolektif profesi

Apresiasi Tidak Akan Datang Jika Guru Tidak Menuntutnya dengan Bermartabat

Masyarakat menghargai profesi yang:
  • Tegas pada perannya
  • Konsisten pada nilainya
  • Berani berdiri pada kebenaran profesional
Selama guru:
  • Tidak solid
  • Tidak berani bicara
  • Tidak menjaga marwah profesi
  • Tidak saling melindungi
Maka tuntutan apresiasi akan terdengar seperti keluhan, bukan klaim profesional.

Jalan Keluar: Menguatkan Guru dari Dalam

Jika ingin guru dihargai, maka selain perubahan kebijakan, perlu transformasi sikap profesi:
  • Guru Harus Tegas pada Perannya. Guru bukan orang tua, tapi juga bukan pelayan. Pendidikan adalah kerja profesional, bukan negosiasi emosional
  • Guru Harus Kuat Berargumentasi. Berbasis pedagogik. Berbasis data. Berbasis nilai dan etika pendidikan
  • Guru Harus Konsisten Menjaga Wibawa. Dalam tutur kata. Dalam keputusan. Dalam sikap kolektif.
  • Institusi Harus Berdiri di Belakang Guru. Kepala sekolah tidak boleh “melempar guru ke publik”. Konflik harus diselesaikan dengan prinsip, bukan kepanikan.

Penutup: Wibawa Tidak Bisa Diminta, Tapi Dibangun

Negara wajib memperbaiki sistem. Masyarakat wajib mengubah cara pandang. Namun guru juga wajib menegakkan martabat profesinya sendiri.
Guru yang ragu pada otoritasnya sendiri, sulit dihormati orang lain.
Jika guru ingin dihargai sebagai profesional, maka guru harus berdiri, berbicara, dan bertindak sebagai profesional—dengan ilmu, etika, dan keberanian.
Bagikan
Fahrizal Mukhdar, guru Bahasa Arab

Fahrizal Mukhdar

Guru Bahasa Arab

Menulis tentang pendidikan, pembelajaran bahasa Arab, dan refleksi kehidupan sekolah — juga mengembangkan Bilarabiya.Online.

Tentang saya →

Suka tulisan ini? Masih ada banyak tulisan lain — dan pembaca boleh ikut berdiskusi di kolom komentar.

Semua tulisan Tentang penulis

Tulisan terkait

Kategori yang sama dengan tulisan ini — Opini

Komentar

Belum ada komentar. Silakan jadi yang pertama.

Tinggalkan komentar

Cukup nama dan komentar — tidak perlu email atau tautan.

Masuk dengan Google supaya komentarmu memakai namamu — atau lanjut tanpa login dengan mengisi nama di bawah.

Tampil setelah saya setujui.

Jangan lewatkan tulisan baru

Sekali tekan, tulisan baru langsung sampai ke HP-mu — tanpa email, tanpa daftar.