Fahrizal Mukhdar
Fahrizal Mukhdar
Pendidikan

Menegur Tanpa Melukai

Fahrizal Mukhdar, guru Bahasa Arab Fahrizal Mukhdar · Guru Bahasa Arab • 4 Oktober 2026 • ± 4 menit baca
Menegur Tanpa Melukai

Tujuan sebuah teguran bukan membuat murid berhenti salah di depan kita, melainkan berhenti salah ketika kita tidak ada — dan itu hanya bisa dicapai kalau teguran tidak melukai harga dirinya.

Isi tulisan (6 bagian)
  1. Pertanyaan yang Harus Saya Ajukan Sebelum Menegur
  2. Kelembutan Bukan Kelemahan
  3. Empat Cara Menegur yang Diam-Diam Melukai
  4. Enam Langkah Menegur Tanpa Melukai
  5. Menegur di Pelajaran Bahasa: Ada Ilmunya
  6. Penutup: Tujuan Sebuah Teguran

Ada teguran yang membuat murid berubah. Dan ada teguran yang membuat murid berhenti mencoba.

Saya pernah melakukan yang kedua. Waktu itu saya merasa sedang membela kebenaran — padahal yang saya bela adalah perasaan saya sendiri yang tersinggung karena kelas tidak berjalan seperti keinginan saya.

Pertanyaan yang Harus Saya Ajukan Sebelum Menegur

Ada satu riwayat yang membuat saya berhenti dan memeriksa diri. Aisyah radhiyallahu ‘anha menggambarkan akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begini:

مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ، وَلَا امْرَأَةً وَلَا خَادِمًا، إِلَّا أَنْ يُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَمَا نِيلَ مِنْهُ شَيْءٌ قَطُّ فَيَنْتَقِمَ مِنْ صَاحِبِهِ، إِلَّا أَنْ يُنْتَهَكَ شَيْءٌ مِنْ مَحَارِمِ اللَّهِ فَيَنْتَقِمَ لِلَّهِ

"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memukul sesuatu pun dengan tangannya, tidak perempuan dan tidak pelayan, kecuali ketika berjihad di jalan Allah. Dan tidak pernah beliau ditimpa sesuatu lalu membalasnya, kecuali apabila dilanggar sesuatu dari hal-hal yang diharamkan Allah — maka beliau membalas karena Allah." (HR Muslim no. 2328, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha)

Perhatikan bagian akhirnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membalas untuk dirinya sendiri. Kalau yang tersinggung adalah perasaannya, beliau diamkan. Yang membuat beliau bersikap keras hanyalah satu: apabila batas-batas Allah dilanggar.

Dari situ pertanyaannya menjadi sederhana, dan tidak nyaman: ketika saya menegur murid, saya sedang membela apa? Kebenaran, atau harga diri saya yang merasa tidak dihormati di depan kelas?

Kelembutan Bukan Kelemahan

Banyak guru, termasuk saya dulu, mengira harus tampak keras supaya dihormati. Aisyah radhiyallahu ‘anha mengabarkan sebaliknya:

إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ

"Sesungguhnya kelembutan tidak ada pada sesuatu melainkan ia menghiasinya, dan tidak dicabut dari sesuatu melainkan ia membuatnya tercela." (HR Muslim no. 2594, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha)

Jadi lembut itu bukan lawan dari tegas. Lembut adalah cara menyampaikan ketegasan supaya sampai, bukan supaya lawan bicara kita terpojok. Teguran yang keras memang bisa membuat kelas diam — tapi diam karena takut bukan tanda kita berhasil mendidik. Itu tanda kita berhasil membuat mereka menghindari kita.

Empat Cara Menegur yang Diam-Diam Melukai

Saya mencatat empat kesalahan yang paling sering saya lakukan, dan saya kira bukan saya saja.

Satu, menegur di depan orang banyak. Tidak ada gunanya membetulkan seseorang sambil membuat sisa murid menonton. Yang tumbuh bukan kesadaran, tapi rasa malu yang membekas dan dendam kecil yang disimpan.

Dua, menyerang orangnya, bukan perbuatannya. "Kamu memang malas" bukan teguran. Itu label. Dan label cenderung dipenuhi: murid yang disebut malas akan cenderung menganggap dirinya memang begitu.

Tiga, menegur dengan nada kekesalan. Isi tegurannya bisa benar, tapi kalau nadanya kekesalan pribadi, yang ditangkap murid bukan isinya — hanya kemarahan gurunya.

Empat, menegur tanpa memberi jalan keluar. Murid tahu dirinya salah, tapi tidak tahu harus bagaimana. Akhirnya ia menghindari pelajarannya, bukan memperbaiki kesalahannya.

Enam Langkah Menegur Tanpa Melukai

Pertama, empat mata. Sebisa mungkin bicara berhadapan langsung dengan murid, bukan di depan kawan-kawannya. Menjaga harga diri seseorang bukan kelemahan seorang guru, melainkan bagian dari pekerjaannya.

Kedua, tanya dulu. Sebelum menegur, tanyakan apa yang terjadi. Banyak hal yang saya kira kesalahan ternyata ada sebabnya yang tidak saya tahu.

Ketiga, sebut perbuatannya, bukan sifatnya. "Kamu tidak mengerjakan tugas tiga kali" itu bisa diperiksa dan diperbaiki. "Kamu pemalas" tidak memberi jalan apa pun.

Keempat, pisahkan harga diri dari kesalahan. Murid perlu tahu bahwa yang saya tolak adalah perbuatannya, dan saya tetap menganggapnya orang yang mampu berubah. Kalau ia merasa dirinya sudah dicap buruk, tidak ada alasan lagi baginya untuk membaik.

Kelima, beri jalan memperbaiki. Jangan berhenti di "jangan begitu". Sampaikan juga apa yang bisa ia kerjakan setelah ini — dalam waktu yang jelas.

Keenam, pastikan ia keluar dari teguran itu dengan kejelasan, bukan dengan luka. Kalimat semacam "saya bicarakan ini karena saya ingin kamu bisa" jauh berbeda akibatnya daripada diam-diam marah yang tidak diketahui ujungnya.

Menegur di Pelajaran Bahasa: Ada Ilmunya

Khusus untuk koreksi pelajaran bahasa, saya belajar hal yang bertolak belakang dengan kebiasaan saya dulu. Riset tentang koreksi bahasa di kelas menunjukkan hal yang penting: pembetulan yang disampaikan langsung guru (recast) memang paling sering muncul di percakapan kelas — sekitar separuh dari semua koreksi — tetapi hanya sebagian kecil yang benar-benar diikuti perbaikan oleh murid. Yang jauh lebih membekas adalah ketika murid didorong membetulkan dirinya sendiri.

Praktiknya sederhana. Jangan memotong ucapan murid di tengah kalimat, karena yang mati adalah keberaniannya berbicara. Catat dulu kesalahannya, lalu kembali lagi di akhir. Ketika ia salah, beri isyarat atau pertanyaan pendek yang menuntunnya menemukan bentuk yang benar — jangan langsung menyodorkan jawabannya.

Koreksi yang paling cepat adalah koreksi yang paling tidak berguna. Yang kita inginkan bukan murid berhenti salah hari itu karena takut, tapi murid yang tetap mau mencoba sampai akhirnya benar.

Penutup: Tujuan Sebuah Teguran

Guru yang tidak pernah menegur bukan guru yang penyayang. Ia hanya orang yang tidak mau repot. Menegur adalah bagian dari mencintai — sama seperti pembiasaan, keteladanan, dan pengajaran yang kita bahas di bagian sebelumnya.

Tapi tujuan sebuah teguran bukan membuat murid berhenti salah di depan kita. Tujuannya membuat ia berhenti salah ketika kita tidak ada. Yang pertama bisa dicapai dengan kemarahan. Yang kedua hanya bisa dicapai kalau teguran itu tidak melukai harga dirinya.

Bersambung ke bab berikutnya: guru yang dicintai bukan yang selalu benar.

Bagikan
Fahrizal Mukhdar, guru Bahasa Arab

Fahrizal Mukhdar

Guru Bahasa Arab

Menulis tentang pendidikan, pembelajaran bahasa Arab, dan refleksi kehidupan sekolah — juga mengembangkan Bilarabiya.Online.

Tentang saya →

Suka tulisan ini? Masih ada banyak tulisan lain — dan pembaca boleh ikut berdiskusi di kolom komentar.

Semua tulisan Tentang penulis

Tulisan terkait

Kategori yang sama dengan tulisan ini — Pendidikan

Komentar

Belum ada komentar. Silakan jadi yang pertama.

Tinggalkan komentar

Cukup nama dan komentar — tidak perlu email atau tautan.

Masuk dengan Google supaya komentarmu memakai namamu — atau lanjut tanpa login dengan mengisi nama di bawah.

Tampil setelah saya setujui.

Jangan lewatkan tulisan baru

Sekali tekan, tulisan baru langsung sampai ke HP-mu — tanpa email, tanpa daftar.