Fahrizal Mukhdar
Fahrizal Mukhdar
Opini

Menjadi Guru yang Dicintai

Fahrizal Mukhdar, guru Bahasa Arab Fahrizal Mukhdar · Guru Bahasa Arab • 3 November 2025 • ± 3 menit baca
Menjadi Guru yang Dicintai

Setiap guru tentu ingin dikenang bukan hanya karena kepintarannya, tapi karena kebaikan hatinya. Ada guru yang ditakuti, ada yang disegani, tapi hanya sedikit yang benar-benar dicintai. Guru yang dicintai bukan berarti selalu lembut atau selalu menuruti murid. Justru mereka yang mampu menyeimbangkan antara ketegasan da…

Isi tulisan (6 bagian)
  1. Pertama, tegas bukan ganas.
  2. Kedua, ramah namun tidak rendah.
  3. Ketiga, menghargai sebagaimana diri ingin dihargai.
  4. Keempat, murid adalah subjek, bukan objek.
  5. Kelima, meneladani tugas para nabi: menyampaikan, bukan memaksa.
  6. Keenam, berdedikasi untuk diri sendiri di masa depan.
Setiap guru tentu ingin dikenang bukan hanya karena kepintarannya, tapi karena kebaikan hatinya. Ada guru yang ditakuti, ada yang disegani, tapi hanya sedikit yang benar-benar dicintai. Guru yang dicintai bukan berarti selalu lembut atau selalu menuruti murid. Justru mereka yang mampu menyeimbangkan antara ketegasan dan kasih sayanglah yang membekas lama di hati murid.

Pertama, tegas bukan ganas.

Tegas itu artinya punya batas yang jelas, tahu kapan harus berkata “tidak”, dan berani menegakkan aturan tanpa kehilangan empati. Ketegasan membuat murid merasa aman, karena ada arah yang pasti dalam setiap keputusan guru. Sebaliknya, guru yang ganas hanya melahirkan ketakutan — murid patuh bukan karena sadar, tapi karena takut. Ketika rasa takut hilang, wibawa pun lenyap.

Kedua, ramah namun tidak rendah.

Kunci hubungan yang hangat adalah keramahan. Senyum dan sapaan ringan bisa membuka hati murid yang sedang tertutup. Tapi keramahan tidak berarti kehilangan wibawa. Guru tetap harus punya jarak sehat; cukup dekat untuk dipahami, namun cukup tegak untuk dihormati. Dengan begitu, murid belajar bahwa kebaikan bisa hadir tanpa kehilangan ketegasan.

Ketiga, menghargai sebagaimana diri ingin dihargai.

Guru yang dicintai adalah guru yang tahu bagaimana memperlakukan orang lain dengan hormat. Ia tidak mempermalukan murid di depan teman-temannya, tidak mematahkan semangat dengan kata-kata kasar, dan tidak menilai hanya dari nilai ujian. Setiap anak ingin dipahami, bukan dihakimi. Dan ketika guru mampu menghargai muridnya, rasa hormat itu akan tumbuh alami — bukan karena jabatan, tapi karena ketulusan.

Keempat, murid adalah subjek, bukan objek.

Murid bukan wadah kosong yang menunggu diisi. Mereka adalah pribadi yang hidup, yang sedang mencari jati diri. Tugas guru bukan hanya memberi tahu, tapi juga menemani proses mereka memahami dunia. Guru yang dicintai selalu berusaha mengenal muridnya: apa yang mereka sukai, apa yang mereka takutkan, bahkan apa yang mereka impikan. Sebab mengajar bukan soal menyampaikan materi, tapi membangun hubungan.

Kelima, meneladani tugas para nabi: menyampaikan, bukan memaksa.

Kadang guru merasa gagal ketika murid tidak berubah sesuai harapan. Padahal, tugas seorang guru hanyalah menyampaikan — seperti para nabi yang juga tidak bisa mengubah hati manusia tanpa izin Allah. Kita hanya bisa menanam, sedang yang menumbuhkan adalah Tuhan. Kesadaran ini membuat guru lebih ikhlas, lebih tenang, dan lebih sabar dalam mendidik.

Keenam, berdedikasi untuk diri sendiri di masa depan.

Apa yang kita berikan hari ini kepada murid bukan hanya untuk mereka, tapi juga untuk diri kita nanti. Setiap kebaikan yang ditanam akan berbuah di masa depan, kadang dalam bentuk penghargaan, kadang dalam bentuk doa, dan kadang dalam bentuk kenangan yang tak tergantikan. Perlakuan baik terhadap murid adalah investasi moral yang tidak pernah rugi. Menjadi guru yang dicintai bukan berarti menjadi sempurna. Kita tetap manusia biasa yang bisa lelah, bisa salah, dan butuh waktu untuk belajar. Tapi ketika seorang guru mau terus memperbaiki diri — menyeimbangkan hati, pikiran, dan tindakan — di situlah letak keindahan profesi ini. Sebab di balik setiap anak yang berhasil, ada sosok guru yang tulus menanamkan cinta dan kepercayaan. Dan pada akhirnya, bukan seberapa banyak murid yang mengingat nama kita yang penting, tapi seberapa banyak hati yang pernah kita sentuh dengan kasih dan ketulusan. Karena guru yang dicintai tidak selalu dikenang di papan penghargaan, tapi selalu hidup dalam doa dan kenangan murid-muridnya.
Bagikan
Fahrizal Mukhdar, guru Bahasa Arab

Fahrizal Mukhdar

Guru Bahasa Arab

Menulis tentang pendidikan, pembelajaran bahasa Arab, dan refleksi kehidupan sekolah — juga mengembangkan Bilarabiya.Online.

Tentang saya →

Suka tulisan ini? Masih ada banyak tulisan lain — dan pembaca boleh ikut berdiskusi di kolom komentar.

Semua tulisan Tentang penulis

Tulisan terkait

Kategori yang sama dengan tulisan ini — Opini

Komentar

Belum ada komentar. Silakan jadi yang pertama.

Tinggalkan komentar

Cukup nama dan komentar — tidak perlu email atau tautan.

Masuk dengan Google supaya komentarmu memakai namamu — atau lanjut tanpa login dengan mengisi nama di bawah.

Tampil setelah saya setujui.

Jangan lewatkan tulisan baru

Sekali tekan, tulisan baru langsung sampai ke HP-mu — tanpa email, tanpa daftar.